Sagu Sultra Jadi Tonggak Pangan Dunia, Badan PBB Bina Warga Soal Pemanfaatan dan Kelestarian

68 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

SULTRALINE.ID, KENDARI – Organisasi Pangan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) atau Food and Agriculture Organization (FAO) melakukan pembinaan untuk pemanfaatan dan kelestarian Sagu di Sulawesi Tenggara sebagai tonggak cadangan pangan.

Dalam program yang dilaksanakan dalam rangka memperbaiki kualitas dan ketersediaan cadangan pangan dunia ini, FAO melakukan pembinaan di tiga tempat yakni di Desa Labela Kabupaten Konawe, Desa Kosembo Kabupaten Konawe Selatan dan Keluraha Mata Kota Kendari.

Field Activity Supervisior FAO Indonesia, Muhammad Reyza Ramadhan dalam Media Gathering, Jumat (8/12/2017), menjelaskan, FAO akan membantu masyarakat untuk mengembangkan sagu mulai proses dari hulu hingga ke hilir.

Dijelaskannya, FAO memiliki empat target dari program yang dilaksanakan kelompok petani binaan yang diberi nama ‘Sagu Meambo Food’, yaitu pertama melakukan pendekatan agronomi yang tepat untuk mengubah hutan sagu menjadi kebun sagu.

Kedua dari aspek agroprosesing atau pemanfaatan hasil yaitu membangun unit prosesing sagu yang higienis dan tanpa limbah yang membahayakan lingkungan.

“Kami juga memanfaatkan limbah sagu ‘mosomba’ sebagai media tumbuhnya jamur merang, kemudian kulit sagu sebagai lahan pijakan dan briket,” lanjut Reyza.

Selanjutnya untuk target ketiga yakni memaksimalkan pemanfaatan sagu dengan mengadakan pelatihan membuat biskuit, mie, chips, brownis, pempek dan sebagainya.

Tidak hanya mendukung dalam hal produksi, kata Reyza, FAO juga membantu masyarakat dalam pengemasan dan Pemasaran sebagai target keempat program ini.

“Dalam waktu dekat kami akan launching merk dagang dari kelompok binaan dengan merk saguku,” tambah Reyza.

Sementara itu, dari aspek kelestarian, lanjut Reyza, FAO juga melakukan pembinaan dengan membuat kebun percontohan untuk Sagu. Hal ini untuk membantu masyarakat dalam mengubah pola pikir dari hutan sagu menjadi kebun sagu.

“Dalam pembinaan ini, kami mulai dari proses pembibitan hingga penyiapan lahan hingga perawatan tanaman,” ungkapnya.

Hal ini, ujarnya, juga untuk memberikan pemahaman bagi warga untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil panen tepung sagu. Sebab selama ini, warga hanya menganggap sagu sebagai tanaman hutan sehingga hampir tidak ada perawatan.

“Awalnya warga juga bertanya, kenapa harus dirawat dan sebagainya, padahal jumlah hasil panen tepung sagu itu bergantung pada perawatan jumlah tangkai daun, semakin banyak tangkai hasil semakin baik,” paparnya.

Dengan program FAO yang telah dilaksanakan sejak tahun 2014 ini, ia berharap ketika program ini selesai di Desember 2017, masyarakat sudah bisa mengembangkan sagu secara lestari dengan cara pemanfaatan yang lebih berkualitas.

“Dengan pemanfaatan yang efektif dan berdampak secara ekonomi, kami yakin dengan sendirinya kelestarian sagu akan dapat terjaga,” pungkasnya.

 

 

Laporan: Hardita

Editor: Taufik Quraiz Rahman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *