SULTRALINE.ID-KENDARI
Suara masyarakat pesisir dari Wakatobi menggema di forum nasional yang diselenggarakan UNESCO. Pada 15 Juni 2026, Agustia, Founder sekaligus Ketua Sikola Bajalan, hadir sebagai narasumber dalam forum Education for Sustainable Development (ESD) yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Dalam sesi bertajuk “Youth and Community as Agent of Change for Sustainability”, Agustia membagikan pengalaman tentang praktik pendidikan berbasis komunitas yang dijalankan bersama masyarakat Bajau di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Di hadapan peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah, pendidik, akademisi, serta organisasi nasional dan internasional, ia mengajak publik untuk melihat pendidikan dari perspektif yang lebih luas: tidak hanya dari daratan, tetapi juga dari lautan.
“Selama ini banyak sistem pendidikan dibangun dari sudut pandang masyarakat darat. Padahal ada komunitas-komunitas maritim yang memiliki cara hidup, pengetahuan, dan kebutuhan belajar yang berbeda, salah satunya masyarakat Bajau,” ujar Agustia.

Menurutnya, kehidupan masyarakat Bajau sangat erat dengan laut. Karena itu, pendidikan yang diberikan kepada anak-anak Bajau tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan pendidikan yang diterapkan pada masyarakat daratan. Pendekatan pembelajaran harus relevan dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari agar pendidikan benar-benar bermakna dan dapat diterima oleh komunitas.
Sikola Bajalan hadir sebagai salah satu upaya menjawab kebutuhan tersebut. Inisiatif pendidikan berbasis komunitas ini telah berjalan sejak 20 Mei 2022 dan berfokus pada pendampingan anak-anak Bajau di Pulau Wangi-Wangi. Hingga saat ini, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 156 anak dengan dukungan 75 relawan yang berasal dari berbagai latar belakang profesi dan daerah.
Tidak hanya mengajarkan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, Sikola Bajalan juga mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam proses pembelajaran. Anak-anak diajak mengenal arah mata angin, membaca kondisi cuaca, memahami bagian-bagian perahu Bajau, mengenali berbagai jenis ikan, hingga mempelajari teknik menangkap ikan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur mereka.
Bagi Agustia, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk menjaga identitas dan warisan budaya masyarakat. Ia menilai bahwa tanpa upaya pelestarian yang terintegrasi dalam sistem pendidikan, berbagai pengetahuan lokal yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bajau berisiko hilang di tengah arus perubahan zaman.
Dalam forum tersebut, Agustia juga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan kurikulum yang lebih kontekstual bagi masyarakat Bajau. Menurutnya, tantangan pendidikan yang dihadapi anak-anak Bajau bukan karena mereka tidak menyukai sekolah, melainkan karena sistem pembelajaran yang ada selama ini belum sepenuhnya menyentuh realitas kehidupan mereka.
“Kita perlu membangun pendidikan yang berangkat dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Ketika anak-anak melihat dirinya, keluarganya, dan lingkungannya hadir dalam proses belajar, maka pendidikan akan menjadi lebih dekat, relevan, dan bermakna,” ungkapnya.
Ia berharap praktik pendidikan yang dijalankan Sikola Bajalan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan masyarakat pesisir dan komunitas maritim, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global. Kehadiran kurikulum yang relevan dan berbasis konteks lokal diyakini dapat menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Partisipasi Sikola Bajalan dalam forum UNESCO ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat suara komunitas lokal dalam percakapan global mengenai pendidikan berkelanjutan. Lebih dari itu, kehadiran mereka membuktikan bahwa praktik-praktik baik yang lahir dari komunitas kecil di pesisir Indonesia memiliki nilai dan relevansi untuk dibagikan kepada dunia.
Liputan : Ayas
Editor : Titah



































