SULTRALINE.ID – Duruka, Muna,
Di tengah gemerlap janji pembangunan dan hiruk-pikuk pesta demokrasi, masih ada sudut kecil di Kabupaten Muna yang seolah terlupakan. Lorong Liwu, yang terletak di Kelurahan Wapunto, Kecamatan Duruka, kembali menjadi sorotan setelah keluhan warganya viral di media sosial.
Melalui akun Facebook miliknya, Mr Ryan Ld mengunggah video yang memperlihatkan kondisi jalan di Lorong Liwu yang hingga kini belum pernah tersentuh aspal maupun perbaikan berarti. Bukan setahun atau dua tahun, tetapi puluhan tahun warga harus hidup berdampingan dengan jalan rusak yang menjadi saksi bisu berbagai pergantian kepemimpinan.
Unggahan tersebut sontak mengundang perhatian publik. Ratusan pengguna media sosial memberikan tanda suka, membagikan video, serta menyuarakan kekecewaan yang sama.
Dalam narasinya, Mr Ryan Ld mengingatkan bahwa Kecamatan Duruka merupakan salah satu lumbung suara pada Pilkada Kabupaten Muna lalu. Namun, setelah pesta demokrasi usai, harapan warga akan pembangunan yang layak seolah kembali terkubur bersama debu dan genangan di jalan yang mereka lalui setiap hari.
“Apakah warga hanya dibutuhkan saat musim pemilihan?” begitu pertanyaan yang tersirat dari kegelisahan masyarakat.
Tak hanya ditujukan kepada Bupati Muna, Bahrun dan Wakil Bupati Asrafil, kritik juga diarahkan kepada Ketua DPRD Muna yang berasal dari keluarga besar Duruka. Warga berharap ada keberpihakan nyata melalui penganggaran dan percepatan pembangunan infrastruktur di Lorong Liwu.
Bagi sebagian orang, jalan rusak mungkin hanya persoalan infrastruktur. Namun bagi warga Lorong Liwu, jalan adalah urat nadi kehidupan. Jalan yang layak berarti akses anak-anak menuju sekolah dengan aman, kemudahan bagi warga yang sakit untuk mendapatkan pertolongan, serta harapan bagi roda perekonomian masyarakat agar terus berputar.
Nonton sekarang sebelum terlambat
Klik sekarang juga https://www.facebook.com/share/1EW8iYqXLp/
Viralnya keluhan ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Terlebih, belum lama ini jalan poros Lohia juga menjadi perhatian publik setelah aksi pemblokiran jalan oleh warga.
Masyarakat berharap pemerintah tidak lagi menunggu viral untuk bertindak. Sebab, penderitaan warga tidak seharusnya menjadi tontonan terlebih dahulu agar didengar.
Kritik serupa juga disampaikan kepada anggota legislatif dan wakil daerah di tingkat pusat, yakni Anggota DPD RI La Ode Umar Bonte dan Anggota DPR RI Jaelani. Warga berharap para wakil rakyat yang kini mengemban amanah di Jakarta tidak melupakan kampung halaman yang telah mengantarkan mereka ke kursi kehormatan.
Lorong Liwu hari ini bukan sekadar tentang jalan yang rusak. Ia adalah simbol harapan yang lama menunggu, tentang masyarakat yang ingin diperlakukan setara, dan tentang janji pembangunan yang belum sepenuhnya sampai ke lorong-lorong kecil di pelosok daerah.
Kini, warga hanya ingin satu hal sederhana: didengar, diperhatikan, dan merasakan hak yang sama sebagai bagian dari Kabupaten Muna.
Liputan : Hasrin SL
Editor: Titah



































