SULTRALINE.ID, BAUBAU – Matahari menyala-nyala saat Tim sultraline memasuki gerbang tempat pembuangan akhir sampah Wakonti. Aroma tajam terbang menusuk hidung. makin dekat makin kencang mengaduk lambung. Keringat mulai mengucur sementara rasa mual bisa datang di sembarang waktu.
Bau busuk dan terik matahari yang membakar tengkuk tidak sekalipun bisa menghentikan aktivitas di timbunan sampah itu.
Siang itu, 07 Maret 2024, Pak Herman dan belasan pemulung lainnya lincah memulung sampah yang nantinya ditukar dengan beberapa ribu rupiah.
“Panggil saja La Boladua, semua orang kenal saya di sini” ujar Pak Herman.
Sudah enam tahun Pak Herman alias La Boladua bersama istrinya Wa Sartia tinggal di gubug seada-adanya di area TPA Wakonti. Mereka hidup tekun memilah sampah. Tak kurang dari 31 armada truk pengangkut dan 7 motor sampah setiap hari beroperasi di area ini. Dari tumpahan sampah kota di 3 zona pembuangan, kurang lebih 80 ton, pasutri itu bekerja dari pagi sampai sore hari.
Bila ada mobil sampah yang datang dari kapal Pelni, jam dua dini haripun, Wa Sartia berani memulung seorang diri. Untuk urusan isi perut, semua hal bisa diatur, termasuk rasa takut.
Pasutri itu akan memisahkan sampah-sampah yang sudah dikumpulkan berdasarkan bahan: plastik, beling, dan kaleng. Plastik pun dipisahkan lagi antara yang bening dan berwarna. Setelahnya sampah-sampah itu akan dimasukkan ke dalam karung ball.
Untuk satu karung, sampah plastik itu dihargai dua ribu rupiah. Karena itu mereka hanya menjual sekali atau dua kali setahun.
Untuk urusan kebutuhan dasar seperti air, mereka hanya mengandalkan alam. Bila hujan turun air akan ditampung dan digunakan seperlunya.
Sudah tak terhitung orang datang mendata dan memotret rumah mereka. Katanya akan mendapat bantuan sosial dan bedah rumah. Tapi hingga pertemuan ini berlangsung, tak satupun uluran tangan pemerintah sampai di bahu pasangan lansia ini. Padahal mereka masih sah terdata menjadi penduduk NKRI.
Bersama puluhan ekor ayam dan anjing yang hidup rukun, La Boladua dan Wa Sartia hidup berdampingan dengan sampah. Santai saja katanya yang penting masih bisa ngopi dan ketawa.
Entah sampai kapan orang-orang yang kami temui ini akan terus bekerja sebagai pemulung. Mungkin mereka memang tak punya pilihan dan satu-satunya cara agar perut tetap bisa diisi makanan memang hanya itu: memunguti sampah dari warga kota.
Namun ada satu pelajaran yang bisa diambil; lebih baik hidup dari sampah daripada hidup menjadi sampah. Siapakah orang yang hidup menjadi sampah? Siapalagi kalau bukan orang yang menilap bansos.
Laporan: Ayyash Alyasin
Editor: Irdwan Jeko



































