SULTRALINE.ID, KENDARI – Nizar Fachry Adam pengamat ekonomi keuangan negara dan Daerah, menilai kenaikan dolar AS di angka 16,000 rupiah, membuat tekanan ekonomi Indonesia mengalami dampak.
Di tambah lagi, kenaikan harga minyak dunia yang tembus angka 88,38 $/ barel , dua indikator ini membuat ekonomi Indonesia mengalami dampak yang cukup signifikan.
Menurutnya, akar permasalahan, yakni pertama konsumsi minyak mentah Indonesia yang mencapai 1.6/ barel -hari, sedangkan kapasitas produksi minyak mentah Indonesia yang mengalami penurunan di angka 560.000/ barel-hari., sedangkan kebutuhan dan sisanya kita melakukan Impor minyak mentah dari luar yang kebutuhan nya kurang lebih 1 barrel-hari,
“Kenaikan dolar AS memaksa kita mengunakan tambahan dana cadangan untuk mencukupi minyak dalam negeri untuk menjaga keberlangsungan motor gerak industri dalam negeri, dimana yang sebelum nya kebutuhan anggaran 1.9 triliun/ hari maka kenaikan dolar kita membutuhkan 2.1 triliun/ hari , sehingga konsumsi minyak naik menjadi 300 miliar/hari atau di tambah 450 triliun/ setahun,” ungkap Nizar, Jumat 27 Oktober 2023.
Lebih lanjut ia, sehingga apa bila kondisi ini terus berlangsung maka ada beberapa proyek dalam negeri yang mengalami keterlambatan pembangunan bahkan tidak lagi menjadi sentrum pembangunan, karena sejumlah dana talangan kita di pindahkan untuk menopang kebutuhan minyak dalam negeri.
“Dari hal itu pemerintah perlu mengambil langkah, pertama melakukan penghematan pengeluaran pemerintah di tahun 2023-2024, dengan melakukan mengurangi subsidi minyak dalam negeri. Penghematan, Pengunaan BBM dalam negeri, terutama BUMN terutama PLN atau pembangkit listrik tenaga diesel, dan sejumlah pengunaan motor penggerak dengan konsumsi minyak,” terangnya
“Penghematan juga ini, perlu dengan tidak melakukan suntikan dana segar ke sejumlah BUMN yang mengalami Penurunan performa dalam negeri.” sambung.
Masih kata Nizar, kedua kebijakan meningkatkan produksi minyak dalam negeri yang harusnya dapat mencapai angka 769.000 barel/ hari, untuk mencegah Import dari luar terkait minyak sehingga kebutuhan dalam negeri dapat di subtitusi pengunaan dalam negeri.
“Akselerasi, pengunaan produk motor listrik di percepat dalam negeri, dan infrastruktur pengunaan motor baterai dalam negeri, untuk menekan pengunaan minyak mentah dalam negeri,” tuturnya.
“Kebijakan moneter yang di tempuh, yakni melakukan peningkatan suku bunga tabungan, BI untuk menarik sejumlah cadangan devisa dalam negeri. Dengan hal itu, kebutuhan akan minyak dunia, kita TDK dapat bergantung lagi dengan kenaikan dua indikator turbulensi Ekonomi dunia,” tutup Nizar.
Editor: Irdwan Jeko



































