Sab. Jan 23rd, 2021

Tulisan Rektor USN Kolaka di Momentum Hari Guru Nasional

1 min read
(Rektor USN Kolaka, Dr Azhari/Foto Istimewa)

(Rektor USN Kolaka, Dr Azhari/Foto Istimewa)

SULTRALINE.ID, KOLAKA – Hari ini, 25 November 2020 merupakan Hari Guru Nasional. Untuk mengingat dan menghargai jasa para pendidik. Sejarah Hari Guru Nasional tidak lepas dari Keputusan Presiden (Keppres) nomor 78 tahun 1994.

Dalam Keppres tersebut dijelaskan pertimbangan penetapan 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional terutama peningkatan kualitas manusia Indonesia.

Selain itu, 25 November telah diperingati sebagai hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Penetapan Hari Guru Nasional pada 25 November adalah wujud penghormatan pada guru.

Guru juga biasa disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Dalam memperingati hari guru Nasional yang ke 75 tahun, Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, Dr. Azhari membuat sebuah tulisan untuk memberikan penghargaan kepada semua guru yang telah mendidik anak bangsa.

Azhari memang dikenal sebagai akademisi yang getol menulis ditambah lagi ia memiliki latar belakang pendidikan STPDN yang sekarang dikenal Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ia juga pernah dinobatkan sebagai salah satu Rektor termuda pada tahun 2014 silam. Sosoknya yang bersahaja membuat dirinya ditasbihkan salah satu tokoh pendidikan Sultra.

Berikut isi tulisan Rektor USN Kolaka di Hari Guru Nasional yang diunggah di media sosialnya (Facebook) :

SELAMAT HARI GURU

Azhari: Melintasi Jalan Pengabdian Para Budiman.

Selamat Hari Guru, untuk para Guruku yang saat ini masi sehat, semoga Allah menyehatkan selalu kalian di Sisa waktu pengabdian dimuka bumiNya Ini. Kepada para Guruku yang telah mendahului berpulang, Semoga Allah menjadikan kubur kalian sebagai bagian dari taman taman Surgawi.

Sy punya banyak Guru. Guru SD Neg. 4 Mawasangka, Guru SMP Neg. 1 Mawasangaka, Guru SMA Neg. 1 Mawasangka, Guru Guruku di STPDN, Guru Guruku di Pasca Sarjana MAP UGM dan Program Studi Antar Bidang S3 UGM, Para Pembimbing dan penguji Skripsi, Tesis, Disertasiku. Guru mengajiku, Guru Olahraga beladiriku, Guru Guru Agamaku, Guru Guru yang memberi nasehat kehidupan pada saya. Terlalu banyak Guruku untuk disebut, tetapi terlalu sedikit untuk berhenti berguru dalam khazana lautan Ilmu yang tak bertepi ini.

Saat mulai belajar ilmu pengetahuan, ayahku yang adalah Guru utamaku, menyetir kata bijak warisan para Guru di negeri kami: ” peelu mini, Guru momondo mosusuakana dala, ne upakawakamo maka membalimpu mori matangka amondo te katandaina”. Carilah guru yang lengkap dalam ilmu dan perilaku, bila ketemu jadilah murid yang kuat dalam fisik dan jiwa serta kuat akan ingatan atas laku dan nasehatnya.

Guru adalah pribadi yg diguguh dan ditiru. Menjadi guru bukanlah hanya mentransfer pengetahuan umum, tapi juga menjadi contoh akan tingka laku keseharian kepada anak didik. Ya Setiap kita yg dewasa apalagi telah berumah tangga adalah guru. Guru buat anak2 kita. Karena anak adalah pencontoh dan penduplikat kuat dari perilaku orang tuanya dirumah. Saat anak telah berumur cukup utk belajar kepada orang lain, maka tugas orang tua mencari orang yg tepat untuk menitipkan anak2nya belajar ilmu dan adab. Manakala mereka telah beranjak dewasa maka nasehat tadilah yg terucap. Carilah guru yang baik dalam ilmu dan lakunya. Kuatlah engkau menerima pedisnya nasehat gurumu, kuatlah engkau menjadi pengikut setia pada setiap langka gurumu. Lalu ingat dan simpan baik2 apa yg engkau lihat dan dengar darinya.

Menjadi guru yg menjiwai tugasnya itu berat. Apalagi dizaman ini. Zaman yg serba materialis dan hedonis. Zaman yang ilmu apapun dapat dipelajari sendiri lewat google. Zaman yg penghargaan atas proses menjadi terabaikan, karena yang instan juga banyak. Zaman yang pencarian akan arti kesejatian diri yang mati lalu hidup dan selanjutnya pasti mati dan akan hidup lagi, semakin menjadi jalan sunyi, yg tidak lagi diminati oleh banyak orang. Ya zaman yg berubah cepat, semakin hari semakin canggih.

Tapi secangih canggihnya zaman dan tekhnologi, tetap akhirnya akan mati dan dihidupkan lagi. Sebab bila bila mati lalu lahir utk kemudian berusaha merengkuh dunia yg sesa’at ini, lalu kemudian mati lagi tanpa ada hidup setelah mati, maka buat apa ada rasa baik dan buruk, senang dan susah, marah dan ceriah. Karena dari proses rasa itu lahirlah kebutuhan akan keteratutan, dari kebutuhan akan keteraturan itu maka timbullah berbagai UU. Utk apa semua itu bila proses kehidupan dan kematian kita hanya seperti daun yg bertumbuh, hijau menguning lalu jatuh dan melebur bersama tanah, utk kemudian tiada. Kita hidup karena memang berproses dan akhir proses itu adalah hidup lagi utk selamanya. Mari kita persiapkan hidup nanti yg selamanya, saat hidup yg sementara ini.

Hampir 16 tahun lamanya, sy menelusuri jalan pengabdian ini. Senang, bangga, sedih, gundah bahkan juga air mata yg berlari menitik disela kesendirian, menghadap Sang Pengatur segala rencana. Berbisik lirih dikesunyian malam, “Rabb Engkau Maha Tahu, sejak aku pandai menyebut cita cita, aku tak pernah menyebut untuk menjadi kepala sekolah, aku juga sekolah, disekolah yg bukan untuk menjadi begini, Tapi TakdirMu lah, yg mengantarkan aku disini. Maka bimbinglah aku yg lemah dan sendiri ini, aku hanya punya Engkau disini. Aku tak akan bisa apa apa tanpaMu. Maka jangan tinggalkan aku, aku coba berlari kejalanMu, tapi aku mahluk yg lemah yg Engkau kuasakan pula atas jenisku mahlukMu dari jenis lain yg gaib dari jenisku, untuk menggangguku, membujuku agar aku lalai dariMu. Tanpa ampunanMu sy hina, tanpa keyakinan akan janjimu sy akan terhanyut”.

Ya 16 tahun lalu, sy menapaki jalan para budiman ini, sungguh bukan atas rencanaku, bukan pula atas keinginanku. Tapi atas perintah dari orang tua yg menjadi pimpinanku saat itu. Mesti bertanggungjawab atas misi yg telah saya tuliskan untuknya, akan menjadikan STKIP menjadi Unibersitas. Setelah jadi bupati, beliau minta saya tunaikan janji itu. Perjalanan itupun dimulai. Pengalaman itupun dijalani. Berbagai rasa itupun dirasai.

Ya. Seorang yg baru berumur 27 tahun menapaki karier menjadi pimpinan sekolah para sarjana yg akan menjadi Guru. Sy mungkin sukses sebagai manajer karena janji ditunai, STKIP menjadi Universitas, bahkan Universitas itupun kini menjadi milik negara. Bahkan telah pun terijabah doa untuk membangun di pulau tempat sy terlahir. Niat utamanya hanya satu, sebanyak banyaknya anak anak kurang mampu dikampung kampung itu bersekolah dengan biaya murah, bila mungkin beasiswa. Bangunan bangunan pun, telah berdiri megah, menggantikan gedung gedung kuliah berdinding papan saat pertama sy masuk. Mahasiswaku yg awalnya banyak yg berumur diatasku, kini berganti anak anak belia yg penuh cita dan energi.

Ya sampai disini mungkin sy bisa dibilang sukses sebagai manajer. Tapi sebagai guruh saya belum layak menyandang sebutan itu dengan lapang. Guru adalah di guguh dan ditiru. Sy tau sy belum layak diguguh oleh yg muda. Secara lahir mungkin sy, bisa berkata kata dgn lancar tanpa hambatan, sebagai imbas berderetnya titel sekolah formal yg saya jalani. Tapi secara batin, secara keihlasan, secara kesadaran diri, saya belumlah cukup menjadi seorang yg budiman dan berilmu. Karena itu, sy pun masi selalu ingin berguru kepada setiap yg budiman. Semoga Allah mengirimkan padaku lagi Guru Guru yang budiman, untuk menjalani sisa waktu didunia menuju pada keabadian hidup yang sesungguhnya.

#SELAMAT HARI GURU KE 75 TH 2020#
#JANGAN PERNAH LELAH BERBUAT YANG BERGUNA UNTUK YANG LEMAH#
#MARI MENEMPATKAN GURU PADA TEMPATNYA#
#SALAM TAKZIMKU UTK PARA GURU DIMANAPUN#

Itulah tulisan singkat Rektor USN Kolaka yang patut kita petik di momentum hari guru, agar kedepannya dunia pendidikan kita dari tahun ke tahun semakin meningkat.

 

€sl Promotion

€sl Promotion