KENDARI – SULTRALINE.ID — Ada orang yang datang untuk dilihat. Ada pula yang datang karena merasa harus tetap berada di sana, meski tak seorang pun sedang melihatnya.
Di tengah gemerlap perayaan HUT ke-1 Partai Rakyat Indonesia (PRI) di Gedung Kesenian Rakyat, Taman Budaya Kendari, Sabtu (8/8/2026), sebuah pemandangan sederhana justru menyimpan cerita yang begitu dalam.Sosok itu adalah Chiko Atman.Ketika kamera sibuk membidik para pengurus DPD dan DPC PRI yang berada di barisan utama, Chiko justru terlihat berdiri jauh di pojok kanan Sendirian.Tidak berada di tengah kerumunan. Tidak berebut tempat di depan kamera. Tidak pula terlihat berusaha mencari perhatian Ia hanya berdiri diam.
Dengan pakaian yang selama ini menjadi ciri khasnya—kaos hitam dan celana hitam—Chiko tampak sederhana di antara hiruk-pikuk acara. Namun siapa sangka, justru sosok yang nyaris luput dari bidikan kamera itu kemudian menjadi perhatian di sejumlah status dan grup WhatsApp.Sebuah foto yang memperlihatkan Chiko berdiri jauh dari sorotsn kamera pusat acara beredar.Dan dari sana, cerita tentang dirinya mulai bergulir.Bukan karena ia berada di panggung.Bukan karena namanya disebut.Bukan karena kamera sengaja membidiknya.Tetapi karena orang-orang melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar sebuah foto.Tentang kesetiaan. Tentang ketulusan. Tentang seseorang yang tetap memilih hadir, bahkan ketika tidak ada yang memperhatikannya.
Dukungan pun mengalir.Ada yang menyebutnya sebagai sosok yang tetap berdiri di belakang perjuangan. Ada pula yang menilai bahwa keberadaannya di tengah perjalanan PRI merupakan bentuk kecintaan yang tidak membutuhkan tepuk tangan.
Sebab terkadang, orang yang paling tulus bukanlah mereka yang selalu berdiri di depan.Melainkan mereka yang tetap bertahan ketika berada di belakang.Mereka yang tetap datang ketika tidak diundang menjadi pusat perhatian.Mereka yang tetap bekerja ketika tidak ada kamera.Dan mereka yang tetap percaya ketika belum banyak orang yang percaya.Chiko Atman mungkin tidak masuk dalam fokus kamera hari itu. Tetapi justru karena itulah, fotonya menjadi begitu bermakna.Ia seolah mengajarkan satu hal sederhana,Perjuangan tidak selalu tentang siapa yang paling terlihat. Perjuangan adalah tentang siapa yang tetap berdiri ketika sorotan telah berpaling.Di Gedung Kesenian Rakyat itu, Chiko memang berdiri di pojok.Namun di mata orang-orang yang memberikan dukungan, ia tidak sedang berdiri di pinggir.Ia sedang berdiri mengawal sebuah perjuangan yang diyakininya.Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika semua sorotan telah berpindah dan kamera-kamera telah berhenti membidik, orang akan kembali mengingat satu sosok yang pada hari itu memilih diam.Sosok yang tidak meminta dilihat, tetapi justru dilihat.Tidak meminta dipuji, tetapi justru mendapat dukungan.Tidak mengejar panggung, tetapi kisahnya justru sampai ke banyak orang.Karena pada akhirnya, perjuangan yang lahir dari ketulusan tidak membutuhkan panggung untuk menjadi berarti.Ia hanya membutuhkan satu hal: tetap bertahan untuk kebersamaan .
Liputan : nouval
Editor : yayang.



































