Oleh: Helviani
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, yang secara geografis dan historis memiliki potensi maritim yang sangat besar. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, budaya maritim bangsa ini mengalami degradasi. Visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang dicanangkan pemerintah adalah langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan maritim bangsa. Agar visi ini tidak sekadar menjadi slogan, dibutuhkan strategi yang komprehensif dan efektif dalam membangun kembali budaya maritim nasional.
Pendidikan dan Literasi Maritim
Kurikulum Maritim Sejak Dini. Pendidikan maritim perlu diperkenalkan sejak tingkat dasar. Kurikulum yang menekankan pentingnya laut, pelayaran, dan sejarah maritim Indonesia akan membentuk kesadaran dan kecintaan generasi muda terhadap laut.
Pelatihan dan Sertifikasi. Pemerintah dapat memperluas pelatihan bagi nelayan, pelaut, dan pelaku industri maritim melalui balai pelatihan dan kerja sama dengan perguruan tinggi maritim. Sertifikasi standar internasional juga harus diperluas agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing secara global.
Revitalisasi Infrastruktur dan Teknologi Maritim
Pengembangan Pelabuhan dan Jalur Laut. Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia perlu direvitalisasi agar lebih modern dan terintegrasi, terutama pelabuhan yang strategis dalam jalur perdagangan internasional. Program tol laut harus didukung penuh untuk menekan disparitas harga antarwilayah.
Teknologi dan Inovasi. Peningkatan investasi dalam riset dan pengembangan teknologi kelautan sangat penting. Inovasi dalam bidang perikanan, energi laut, dan bioteknologi kelautan akan memperkuat daya saing Indonesia di sektor ini.
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
Ekonomi Biru. Pendekatan ekonomi biru (blue economy) harus diperluas, dengan mendorong kegiatan ekonomi ramah lingkungan seperti budidaya laut, ekowisata bahari, dan konservasi laut. Ini akan menciptakan lapangan kerja sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut.
Peran Kearifan Lokal. Kearifan lokal masyarakat pesisir seperti sasi laut di Maluku atau awig-awig di Bali merupakan kekuatan sosial-budaya yang harus dilestarikan dan diintegrasikan dalam kebijakan kelautan nasional.
Penegakan Hukum dan Keamanan Laut
Pengawasan Terpadu. Penguatan Badan Keamanan Laut (Bakamla) dan koordinasi antarinstansi seperti TNI AL, KKP, dan Bea Cukai sangat penting untuk memberantas illegal fishing, penyelundupan, dan pelanggaran hukum di laut.
Diplomasi Maritim. Indonesia harus aktif dalam kerja sama internasional di bidang keamanan laut, seperti melalui forum ASEAN dan Indian Ocean Rim Association (IORA), guna mengamankan jalur perdagangan dan kedaulatan maritim.
Pembangunan Budaya dan Identitas Maritim
Festival dan Media Maritim. Penyelenggaraan festival budaya bahari dan produksi konten edukatif (film, dokumenter, buku) dapat membangun kembali kebanggaan maritim masyarakat Indonesia.
Museum dan Wisata Sejarah Maritim. Pengembangan museum maritim dan pelestarian situs sejarah maritim (seperti pelabuhan tua dan kapal tradisional) akan memperkuat narasi maritim bangsa di ruang publik.
Penutup
Membangun kembali budaya maritim Indonesia membutuhkan pendekatan lintas sektor yang berkelanjutan. Dari pendidikan, teknologi, hingga pelestarian budaya, semua harus bersinergi untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Keberhasilan strategi ini akan mengangkat kembali kejayaan nusantara sebagai bangsa pelaut dan membuka jalan menuju kemandirian serta keunggulan maritim global.

*) Penulis Merupakan Dosen USN Kolaka yang lagi lanjut S3 di UHO Kendari



































