SULTRALINE.ID, BAUBAU – Jarangka adalah sebutan lokal (Bahasa Wolio) untuk perahu berpenyeimbang di sisi kiri dan kanan yang menggunakan mesin tempel atau lazimnya disebut katinting. Jarangka sudah turun temurun digunakan sebagai alat transportasi laut yang menghubungkan kota Baubau dengan pulau-pulau di sekitaran teluk Baubau. Sebut saja Pulau Makasar (Puma), Pulau Muna (pelabuhan waara, tolandona, baruta), dan Pulau Kadatua yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Buton Selatan. Jarangka diperkirakan mulai beroperasi sekitar tahun 60-an.
Kota Baubau-Puma (Pulau Makasar) adalah salah satu wilayah operasi jarangka yang masih aktif hingga kini. Dengan jarak tempuh kurang lebih 15-30 menit dari dermaga Pantai Kamali, jarangka mengantar jemput penumpang dan barang dari Baubau menuju dermaga Sukanaeyo atau Matanaeyo dengan tarif berkisar antara lima ribu untuk siswa sekolah sampai sepuluh ribu rupiah untuk umum. Awalnya, jarangka menjadi satu-satunya alat transportasi umum penghubung dua wilayah ini. Pengguna transportasi antar wilayah ini sangat bergantung pada jarangka dalam aktivitas sehari-hari.
Seiring perkembangan zaman, pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara memutuskan untuk membangun jembatan penghubung sepanjang 1 kilometer lebih antara Kota Baubau-Puma di wilayah administrasi Kelurahan Lowu lowu. Gagasan pembangunan jembatan ini dimulai pada tahun 2012 dan diresmikan oleh Gubernur Nur Alam pada Juli 2017. Hal ini berdampak positif bagi masyarakat secara umum karena mobilitas kendaraan bermotor antar pulau dimungkinkan dengan adanya jembatan ini.
Namun di sisi lain, jembatan ini tentu saja berimbas pada menurunnya pengguna Jarangka. Sebagian besar masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi lebih memilih melewati jembatan sebagai akses penghubung antar wilayah alih-alih menggunakan jarangka. Selain itu mobil angkutan umum juga mulai beroperasi.
La Sahiru (52 tahun) adalah salah satu dari sedikit pengemudi Jarangka yang bertahan hingga kini. Kondisi pengguna jasa Jarangka yang makin menurun membuat sebagian kawan-kawan seprofesinya berganti pekerjaan. “saya mulai jalan dari jam setengah tujuh pagi sampai jam enam sore. Kalau penumpang 5 orang baru kita jalan. Kalau hanya satu harus carter” ungkapnya, Senin (04/03/2024).

Per 3 hari Pak Sahiru harus mengisi BBM sebanyak 20 liter. Walau kerap kali pengguna jarangkanya sepi, Pak Sahiru tetap menaruh asa di Jarangka, tempatnya menyambung hidup demi menafkahi keluarga. Baginya ini adalah profesi yang masih bisa ia kerjakan di usianya yang tak lagi muda.
Imbas dari pembangunan selalu dirasakan masyarakat akar rumput, lambat laun mereka terkikis oleh perkembangan zaman. Sementara mereka tak punya banyak pilihan untuk memutar otak mencari sumber nafkah lain.
Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tentu tidak boleh hanya mempertimbangkan aspek fisik semata, tetapi suara masyarakat akar rumput harus didengar sehingga keberadaan mereka tak tergusur oleh perkembangan zaman. Solusi? Tentu itu “gawean” pengambil kebijakan.
Laporan: Ayyash Alyasin Berkolaborasi dengan tim Latalombo Lab Baubau



































