SULTRALINE.ID – Pengamat Ekonomi dan Keuangan Negara, Nizar Fachry Adam.S.E.M.E menyatakan ada 4 faktor resesi Indonesia saat ini yang sangat fundamental yakni:
Pertama, naiknya harga minyak dunia yang menyentuh level 82,63$/barrel, atau naik 0,36% (sumber data 21 Februari 2024 katadata media network) yang mengakibatkan naiknya sejumlah pembelian minyak dalam negeri.
Kedua, naiknya mata uang dolar $ Amerika 15.580/dolar mengakibatkan menekan nilai mata uang rupiah, sehingga membebani Import kebutuhan dalam negeri terutama pasokan kebutuhan dasar.
Ketiga, krisis ekonomi Jepang berdampak sistemik, dimana sejumlah saham dalam negeri terutama saham dagang Jepang mengalami sejumlah penurunan, adapula indikasi directed Investment untuk dalam negeri tertunda dan di indikasikan batal untuk melanjutkan sejumlah pembiayaan dalam negeri yang akan di biayai oleh jepang selaku mitra Indonesia
Keempat, keributan demokrasi hasil Pilpres terhadap kondisi politik dalam negeri, memicu sentimen negatif pasar dalam dan luar negeri, sentimen pasar dalam negeri yang menarik sejumlah dana berjumlah besar di beberapa perbankan dan sehingga beberapa perbankan mengalami panic atau insolvan, ada juga puluhan BPR Bank perkreditan rakyat yang mengalami penutupan Usaha bank.
Dari keempat, permasalahan tersebut ada langkah strategis yang perlu di ambil pemerintah dengan melakukan penghematan anggaran belanja negara, di beberapa lembaga kementerian, yang tadinya berjumlah 50 Triliun rupiah, maka di naikan menjadi 500 triliun rupiah atau adanya pemangkasan dana kementerian untuk tetap berhemat.
Kedua, melakukan pemberhentian pembiayaan proyek dalam negeri yang di biayai oleh pinjaman likuiditas perbankan dalam negeri, dan lainya terutama smelter (PSN) yang memiliki kategori progres 30-35% atau di atas 7 tahun tidak mengalami progres pembangunan.
Ketiga, menghentikan sejumlah import pangan, yang membebani APBN kita, dan lebih mendorong konsumsi Di Pangan Lokal,
Keempat, kita perlu melakukan, penguatan disisi transaksi moneter, tanpa metode digital,
Apa yang menyebabkan Inflasi yakni, transaksi jumlah uang yang beredar yang terlalu berlebihan dimana, kemudahan transaksi ini, mengakibatkan Tidak efektifitas sejumlah transaksi Di sejumlah UMKM dengan total 35,6 Triliun dalam waktu 2 bulan, atau kuartal pertama (sumber data: liputan6.com) jumlah yang sangat fantastis, sehingga dana masyarakat tidak dapat di jadikan sebagai fungsi investasi jangka panjang.
Kelima, melakukan pembenahan sistem demokrasi, dengan menjalankan sistem parlemen dengan baik, membuka komunikasi 2 arah dengan legislatif kondisi Indonesia hari ini yang perlu penguatan dan dorongan Semua pihak
Maka, stabilisasi Keuangan negara, disisi penghematan, produktifitas, efesiensi dan sisi birokrasi yang perlu di lakukan upgrade, agar bisa berjalan dengan baik, di tengah situasi global dalam menghadapi resesi.



































