SULTRALINE.ID, BUTENG – Melalui program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) Tim Dosen Pelaksana Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka bekerja sama dengan Tim Dosen Pendamping dari Universitas Negeri Manado (UNM) yang bermitra dengan Kelompok masyarakat Desa Balobone, Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara memberikan pendampingan dan edukasi terkait pemanfaatan limbah kelapa yang diolah menjadi briket arang yang dapat dimanfaatkan dan bernilai lebih terhadap masyarakat sekitar, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.
Ketua Tim Dosen Pelaksana, Azhar Aras Mubarak, S.T.,M.T beserta tim Samaluddin, S.T.,M.T dan Yuvita Satriani Djuli, ST.,M.T didampingi oleh Tim Pendamping, Dr. Alfonds Andrew Maramis, M.Si, Prof. Dr. Anatje Lihiang., M.Si dan Moh. Fikri Pomalingo, S.TP.,M.Si. menyebutkan, program ini dilaksanakan untuk menindaklanjuti dari hasil riset dan inovasi alat pemanfaatan limbah kelapa menjadi briket arang yang diaplikasikan berdasarkan potensi masyarakat setempat.
Menurut ketua Tim Pelaksana, Azhar Aras Mubarak, S.T.,M.T, Pemanfaatan tempurung kelapa yang diolah menjadi briket menggunakan prinsip kerja yang sederhana dan dapat dilakukan oleh masyarakat setempat.
“Selama ini, limbah tempurung kelapa belum dimanfaatkan dengan baik dan relatif dianggap barang yang tidak berguna. Padahal limbah tempurung kelapa yang diolah menjadi briket mempunyai potensi jual yang besar jika dikerjakan dengan baik. Dengan pengolahan yang sederhana, dan ditunjang dengan mesin pembuat briket yang sesuai, maka kedepan desa Balobone, Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah dapat menjadikan briket menjadi alternatif usaha dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Kegiatan pelatihan ini telah berhasil meningkatan kemampuan dan pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan limbah tempurung kelapa yang dianggap tidak bernilai oleh masyarakat setempat. Terjadi Peningkatan keterampilan pengolahan briket dengan mengetahui perbandingan bahan yang dicampurkan sehingga menghasilkan briket yang berkualitas. Dengan perbandingan arang batok kelapa, tepung tapioca dan air yang sesuai, maka briket yang dihasilkan cenderung memiliki panas yang stabil dan tidak berasap.
“Melalui program ini, diharapkan dapat merangsang jiwa kewirausahaan masyarakat setempat untuk lebih menggali potensi limbah tempurung kelapa yang selama ini di abaikan sehingga menjadi salah satu sumber pendapatan alternatif masyarakat yang secara langsung dapat meningkatan ekonomi masyarakat setempat,” tutupnya.
TIM



































