Oleh: Asrul Ashar Alimuddin
Pada masa orde lama, presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno menduduki jabatan presiden selama kurang lebih 21 tahun, dari tahun 1945 –1966.Tanpa pemilu presiden dari tahun ke tahun, bahkan Ir. Soekarno mencapai masa terkuatnya secara politik pada tahun 1955 –1965.Nyatanya setahun setelahnya, ia digulingkan lewat kudeta merangkak jenderal Soeharto yang berhasil menangkap suara mahasiswa yang tidak puas dengan posisi Ir. Soekarno sebagai presiden seumur hidup dan isu pemberontakan Gerakan 30 September/PKI.
Era selanjutnya dinamai dengan orde baru, dengan jenderal Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. jenderal Soeharto berhasil menyelenggarakan pemilu pada tahun 1971 untuk memilih wakil rakyat dan hasilnya ia dipilih oleh para wakil rakyat hasil pemilu dan menjadi Presiden Republik Indonesia. Sebenarnya pemilu ini adalah syarat terutama dari negara demokrasi bernama Amerika Serikat yang konon menjadi sekutu utama Presiden Soeharto. Alam demokrasi mengajarkan bahwa legitimasi kekuasaan pimpinan negara adalah pada pemilu. Presiden Joko Widodo merupakan Presiden kedua yang dihasilkan oleh pemilu demokratis, pemilu 2004 dan 2009 menghasilkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sedangkan pemilu 2014 dan 2019 menghasilkan Presiden Joko Widodo. Naiknya Presiden Joko Widodo ke kursi presiden termasuk cukup dramatis mengingat ia bukan dari kalangan militer, bukan kalangan atas, dan bukan kader partai tulen, masuk partai pun baru saja.
Oleh karena dramatis itu, maka pendukungnya pun menempatkan Presiden Joko Widodo sebagai sosok yang diidolakan seakan seperti harapan rakyat akan datangnya satrio piningit atau ratu adil.
Tahun 2024 merupakan tahun terakhir dari pemerintahan presiden Joko Widodo dengan wakilnya KH. Ma’aruf Amin, pemerintahan Joko Widodo – Ma’aruf Amin merupakan periode kedua beliau dalam memimpin Bangsa Indonesia. Jika kita melihat kebelakang di periode awal pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla (2014-2019) Saat pertama kali memimpin Indonesia di Oktober 2014, Jokowi tidak bisa berbuat banyak untuk mencampuri urusan ekonomi nasional. Di tahun tersebut, hanya menjalankan ‘mandat ekonomi’ yang telah dirumuskan pemerintahan terdahulu.
Awal 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan kinerja perekonomian Indonesia untuk periode 2014. Hasilnya, ekonomi Indonesia tumbuh 5,02 persen. Angka ini jeblok dari tahun sebelumnya yang tumbuh hingga 5,58 persen. BPS menyampaikan, perekonomian Indonesia pada 2014 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp10.542,7 triliun. Sementara PDB perkapita mencapai Rp41,8 juta atau USD3.531,5.
Pada tahun 2015 merupakan tahun pertama Jokowi memimpin penuh Indonesia. Soal ekonomi nasional, Jokowi cuma bisa merevisi sedikit anggaran negara. Sebab, patokan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tahun ini dirumuskan oleh pemerintahan sebelumnya. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015 cuma 4,79 persen. Angka ini lagi-lagi terjerembab dari tahun sebelumnya. Adapun perekonomian Indonesia di 2015 yang diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp11.540,8 triliun. Sedangkan PDB per kapita mencapai Rp45,2 juta atau USD3.377,1. Di tahun 2016 adalah tahun kedua Joko Widodo memimpin Indonesia , Jokowi sudah mulai nyaman mengutak-atik anggaran negara untuk memompa perekonomian nasional. Mulai dari mematok APBN sampai mengubahnya lagi, semua ada di tangan Jokowi sepenuhnya. Hasilnya, ekonomi Indonesia mengalami perbaikan, meski kenaikannya sedikit. Pada 2016, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,02 persen. Angka ini mengalami perbaikan dari tahun sebelumnya. Diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku yang dirilis BPS, hasilnya mencapai Rp12.406,8 triliun. Untuk PDB per kapita sendiri mencapai Rp47,96 juta atau USD3.605,1. Segala Upaya yang dilakukan oleh Jokowi untuk terus menggenjot pertumbuhan Ekonomi Negara ini ramuan baru untuk tahun 2017 , Jokowi mencoba ramuan baru anggaran negara agar bisa mencetak perekonomian yang menjulang. Meskipun pada akhirnya, ekonomi Indonesia di 2017 tumbuh 5,07persen, naik sedikit dari tahun sebelumnya.
BPS melaporkan, perekonomian Indonesia 2017 yang diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp13.588,8 triliun dan PDB perkapita mencapai Rp51,89 juta atau USD3.876,8. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,81 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 9,09 persen. Ramuan-ramuan yang dianggap mujarab terus dilakukan Jokowi terhadap anggaran negara. Di 2018, ramuan Jokowi tersebut jauh lebih baik dari percobaan di tahun sebelumnya.
Pada tahun ini, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan 2017. Ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,17 persen, naik lebih banyak dibandingkan 2017 yang hanya 5,07 persen. Di Tahun 2019 merupakan tahun politik dimana Pria dengan perawakan ramping itu lahir di, Solo pada 1961 di tengah keluarga sederhana memutuskan untuk bertarung kembali di Pilpres 2019, fokus Jokowi yang tertuju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) menyebabkan ekonomi Indonesia mengalami penurunan. Jokowi yang ingin melanggengkan kekuasaan ‘dua periode’ justru lupa soal perekonomian dalam negeri, meskipun realisasinya tidak terlalu burk dari tahun sebelumnya Tahun 2019 pertumbuhan ekonomi balik lagi ke angka 5,02 persen, nyungsep dari 5,17 persen di tahun sebelumnya.
Angka pertumbuhan ini sudah tiga kali dirasakan Jokowi, dimana sebelumnya juga terjadi pada 2014 dan 2016. BPS menyampaikan, perekonomian Indonesia pada 2019 yang diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp15.833,9 triliun dan PDB perkapita mencapai Rp59,1 juta atau USD4.174,9. Tahun 2020 merupakan tahun yang cukup kelam bagi seluruh dunia bukan hanya Indonesia seluruh dunia merasakan guncangan hebat terhadap perekonomiannya akibat adanya pandemi covid-19. Di tahun ini, ekonomi Indonesia paling terpuruk. Jokowi juga kaget karena adanya wabah pandemi covid-19. Pada 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai tercatat minus 2,07 persen. Hancur sejadi-jadinya, dari sisi produksi maupun pengeluaran, semua mengalami kontraksi gara-gara virus. Adapun PDB atas dasar harga berlaku yang dirilis BPS mencapai Rp15.434,2 triliun, melorot dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk PDB per kapita mencapai Rp56,9 juta atau USD3.911,7.
Tahun 2021 mulai bangkit dari keterpurukan Ekonomi, pertumbuhan Ekonomi Indonesia sendiri tumbuh sebesar 3,69 persen, lebih tinggi dibanding capaian tahun 2020 yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 10,46 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 24,04 persen.
Di tahun ini, ekonomi Indonesia mulai bangkit. Jokowi mulai menata kembali anggaran-anggaran yang bisa memompa perekonomian dalam negeri. Hasilnya, ekonomi Indonesia berada di jalur positif. dimana, perekonomian Indonesia 2021 yang diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp16.970,8 triliun, kembali di jalur kenaikan. Sementara PDB per kapita mencapai Rp62,2 juta atau USD4.349,5. Di tahun 2022 jadi tahun dengan ekonomi paling baik pasca dua tahun pandemi covid-19 melanda Indonesia, ramuan pengelolaan anggaran negara oleh Jokowi di tahun ini menjadi yang paling mujarab. Sebab, ekonomi Indonesia pada 2022 menjadi yang paling tinggi selama Jokowi menjabat Presiden sejak 2014. Dari data BPS, ekonomi Indonesia pada 2022 tumbuh sebesar 5,31 persen, lebih tinggi dibanding capaian 2021 yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,70 persen. Tahun 2023 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5,05 persen, sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,31 persen. Namun, di tengah badai ekonomi global dan inflasi yang tinggi, Indonesia masih menunjukkan ketangguhan. Kapal ekonomi Indonesia terus melaju, meski diterpa gelombang ketidak pastian Indonesia dalam panggung yang sama. Tahun 2024 merupakan tahun politik dan tahun ini adalah masa jabatan terakhir yang di genggam oleh Presiden Jokowi, diakhir jabatan Jokowi tidak mau terlena dengan urusan politik yang begitu kuat di tahun 2024 dengan bercermin di awal kepemimpinan Jokowi tetap Fokus untuk membangun pertumbuhan Ekonomi nyatanya berdasarkan data BPS triwulan pertama di tahun 2024 Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen. Hal ini membuktikan fokus Jokowi adalah menjaga pertumbuhan ekonomi di akhir masa jabatannya.
*) Penulis Merupakan Statistisi BPS Kota Kendari



































