Oleh : Muhammad Bangkit Bimantara Untu, S.T
Senja datang sambut saya sembari menikmati secangkir kopi di sudut kota. Yah, seperti orang-orang pada umumnya, Sore itu saya lumayan santai, maka saya berselancar di media sosial untuk sekedar melepas penat sembari membaca beberapa berita menarik (tipis-tipis aja sih). Ada banyak sekali berita yang muncul di lini masa media sosial saya, Namun saya tidak begitu gubris karena niat saya utamanya melepas penat untuk penyegaran pikiran jadi orientasinya hanya sebatas melihat hal-hal yang sifatnya melahirkan tawa (video-video/reels yang kocak gituuuu hehehe).
Beberapa kali saya mengusap layar (refresh) medsos saya, saya disuguhkan dengan berita yang cukup mengusik saya, Namun saya tetap tidak begitu gubris. Sekali lagi saya usap kembali beranda medsos saya, mungkin satu sampai dua maupun tiga kali berita serupa dengan akun yang berbeda muncul kembali di beranda medsos saya. Dan akhirnya saya coba sekedar membaca satu paragraf berita ini (niatnya sih hanya satu paragraf aja yah), Namun sebagaimana membaca itu candu untuk saya maka yah saya baca semua deh (hehehe).
Benar saya tenggelam dalam lautan berita itu bersamaan dengan itu ternyata saya baru sadar berita ini menenggelamkan banyak hal, mulai dari material, non material tanpa terkecuali saya juga hanyut tenggelam. Yah apalagi jika bukan kabar duka yang menimpa sodara-sodari kita di Konawe Utara, Benar sekali. Banjir Konawe Utara.
Raga saya sedang menikmati pahitnya kopi, Namun pahitnya kopi masih bisa dinikmati tapi pahitnya masyarakat yang terdampak banjir di sana apa bisa dinikmati ?
Tidak lama saya tenggelam dalam pikiran itu sahabat saya datang menyapa.
“eihh piss, kamu liat wanita siapa lagi di hadapan kamu itu ?”
Seketika pikiran saya yang masih tenggelam di dalam genangan penderitaan dan banjir di Konawe Utara hanyut dan dipaksa kembali ke raga dan fisik saya berada.
“Ehhh , masha Allah kapan tiba pis ? “ spontanitas respon saya tanpa menjawab pertanyaan sahabat saya itu.
Yah boleh saja pikiran sahabat saya itu bahwa saya sedang melihat seperti apa yang di pikirannya, Namun dia tidak tahu apa yang sedang saya pikirkan itu melupakan sedikit eksistensi saya saat itu. Jangankan orang di hadapan saya saja siapa, diri sayapun hampir saya tidak tau keberadaanya sebenarnya, berada di sini atau di Konawe Utara?
“apa yang dipikirkan kah itu pisss ?”
“ hehehe, tidak ji piss, saya habis liat-liat di instagram ini beberapa berita, saya sedih saja liat banjir yang dicobakan ke rakyat Konawe Utara ini”
“ohhh itu yah , sayapun sama bangg, tapi mau diapa, banjir itukan bencana alam kan? Penyebabnya juga kan hujan, jadi menurut saya itu bencana alam, perkara itu cobaan dari sang haliq”
Saya terhentak dengan pendapat sahabat saya. Iya benar seratus persen bahwa banjir itu adalah bencana alam dan penyebabnya juga adalah hujan. Namun perlu diketahui bersama perihal banjir penyebabnya tidak tunggal tergantung lagi kondisi perkotaan di wilayah terdampak. Salah satu hal lagi yang sangat riskan menyebabkan banjir adalah kurangnya daerah resapan, atau biasa disebut Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kebijakan pemerintah untuk menyediakan RTH bukanlah barang baru dan secara yuridis banyak peraturan yang mengatur masalah tersebut salah satunya UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
Sampai di situ saya mulai berpikir bahwa tafsir teman saya itu cukup menarik, jadi ada benarnya juga ucapannya itu. Untuk beberapa orang awam bahwa masalah banjir itu urusan alam jadi kenapa harus dikhawatirkan atau bahkan dibuat sedih ?
“ohh iyaa yaah, benar jugaaa yah?”
“Tapi bang jika kamu teruskan itu yah berarti kamu cukup apatis dong, kamu itu seorang sarjana teknik, sarjana yang kamu tempuh sangat sulitttt dan hasil jerih payah mendiang kedua orang tua kamu, apa analisismu sedangkal itu ? Atau payahh ternyata gelar sarjana kamu gak bergunaaa ! Malulah sama alm. Ayah dan almh.Ibu yang tidak sedikit mengeluarkan rupiah untuk gelar kamu ituu bangkittt !”
“ Anakku sayanggg, bangkittt, Ibu dan Ayah tidak menghadirkan bangkitt di dunia ini untuk menjadi tidak bergunaa nakk, atau Ibu dan Ayah yang gagal mendidikmu ya nakk? Maafkan ibu dan Ayah nakk….” Ucap suara-suara di dalam diri saya yang saling berdebat satu sama lain.
Astaghfirullah hal’adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih.
Waduh, saya tidak bisa berkata-kata lagi.
Dialog itu (selftalk) saya netralkan dengan kembali menyruput kopi yang sudah dingin di hadapan saya itu, saya mencoba menenangkan diri sembari berpikir secara jernih dan bijak. Saya tidak mau dikendalikan oleh keapatisan diri saya itu atau sama sekali saya tidak akan biarkan kemaksiatan intelektual itu menggerogoti kebeningan akal sehat saya.
Dan Alhamdulilah selang beberapa menit dinginnya kopi itu ternyata memiliki ibrah atau pembelajaran bahwa kopi dingin ternyata mampu membuat pikiran saya kembali dingin dan tentram (hehehe).
Saya kemudian berdiri dan ke depan untuk benar-benar bisa berfikir jernih. Sambil melihat hujan yang begitu deras di hadapan saya. Tetesan air hujan yang begitu deras benar-benar menghanyutkan saya menembus ruang dan waktu mengalir tanpa batas dan akhirnya hanyut terbawah arus kembali di genangan banjir Konawe Utara.
Jadi begini, banjir yang terjadi di Konut salah satu penyebabnya adalah dikarenakan hujan dengan intensitas yang tinggi dan durasi yang cukup lama atau sederhananya termasuk hujan dalam kategori Ekstrim. Hal itu penilaian yang pasti diberikan oleh masyarakat umum bahwa itulah penyebab utama banjir. Sebagaimana film jika ada pemeran utama pasti pemeran pendukungnya juga ada dong. Nah penyebab pendukungnya banjir ini ada banyak hal. Salah satunya untuk case ini titik banjir yang viral di media sosial dikarenakan ada project jalan yang mangkrak dan ada beberapa sisa kontruksi tanggul yang cukup menganggu mengalirnya air sehingga membuat air tergenang pada satu titik apa lagi dengan kondisi hujan ekstrim.
Hal ini lah yang memutuskan akses jalan di Konawe Utara yang cukup membuat aksesibilitas darat lumpuh total.
Dan satu lagi penyebab banjir yang tidak kalah menarik adalah Ruang Terbuka Hijau yang semakin sempit sehingga daerah resapan sangat terbatas.
Apa yang membuat RTH semakin minim ? Apa yah ? (hehehe…)
Sudah jadi rahasia umum Konawe Utara daerah kaya akan nikel kan? Jadi pasti bahwa aktivitas pertambangan di sana sangat ekstrim pula tidak kalah ekstrim dengan hujan yah ? ,(hehehe).
Kemudian apa yang identik dengan tambang yah?
Yah tepat pembebasan lahan atau Ruang Terbuka Hijau dipersempit. Untuk tambang legal yang jelas IUP atau IUJPnya saya yakin sangat taat dan tunduk dengan aturan-aturan yang berlaku karena untuk mendapatkan izin itu pemeriksaannya sangat luar biasa ketatnya dalam pemantauan Kemen Minerba maupun Kemen LHK.
Sulawesi Tenggara memiliki Izin Usaha Pertambangan nikel terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data dari BPS tahun 2022, terdapat sedikitnya 50 perusahaan tambang nikel di Kabupaten Konawe Utara.
Di luar itu terdapat dua penambang ilegal yang sudah diproses di pengadilan. Sudah menjadi perhatian bersama bahwa kasus penambangan ilegal di Blok Mandiodo Konut cukup eksis dikawal masyarakat. Dan hal itu terbukti tanpa tapi setelah beberapa pekan terakhir pelaku telah dijatuhi vonis di pengadilan.
Saya cukup dibuat berpikir jahat karena ini (hehehe). Jadi anggaplah aktivitas pertambangan legal itu tidak begitu berpengaruh dengan kerusakan lingkungan, sekarang bagaimana dengan pertambangan ilegal ? Pertanyaannya dari sekian banyak aktivitas tambang di konut apakah penambangan ilegal yang bisa dihitung jari itu tunggal yang menyebabkan rusaknya lingkungan Konut baik kerusakan pada daratan maupun lautnya? Apakah ada jaminan bahwa perusahaan tambang legal pasti legal juga dalam aksinya ? Anda pasti tau jawabannya !
Sehingga pertanyaan akhirnya yang tidak kalah penting dan memerlukan perenungan yang sangat mendalam melalui bingkai kebijaksanaan dan cara pandang yang jernih dan utuh.
Apakah Pusat Energi Dunia itu masih bisa dibanggakan ?!
DARRR !!!! bunyi suara petir kembali memaksa saya untuk tidak hanyut dalam genangan banjir di Konut. Karena entah bagaimanapun juga saya sadar dalam ketidaksadaraan saya, saya masih bisa berenang untuk kembali ke raga saya.
“saya kira hanya hujan ini yang penuhh makna dan rinduu, ternyata khayalanmu itu pis tidak kalah bermakna, atau entah siapaa yang kamu rindukan ?” ucap sahabat saya sambil menyentuh pundak saya.
Respon saya santai sambil tersenyum tanpa kata juga memberi artian eksistensi saya kembali utuh di sini dan tidak akan kemana-mana lagi. Namun senyum saya itu seandainya bisa berkata mungkin ini kalimat yang diutarakan.
Beberapa orang mungkin menganggap hujan sebagai rindu.
Beberapa orang lainnya menganggap hujan sebagai pilu.
Namun, semoga kita adalah orang-orang yang senantiasa menggangap hujan sebagai rahmat.
Dan berharap mendapat pemimpin yang sehat dan bermartabat. Hujan di langit, hujan di pipi. Di pipi rakyat.
*) Penulis Merupakan Social Media Activist & Alumni S-1 Teknik Sipil UHO



































