Oleh : Achmad Romadhon (Eks Ketum HMI Komisariat FPt UHO)
Pembentukan generasi muda merupakan salah satu hal yang harus mendapatkan perhatian lebih dari berbagai elemen baik dalam lingkup keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial yang lain, baik daring ataupun luring. Kemajuan suatu bangsa dalam bidang, pendidikan, ekonomi, bahkan IPTEK bergantung pada kualitas generasi yang ada saat itu. Begitu sentralnya peran generasi muda sudah saatnya melirik generasi muda sebagai aset dan harapan bangsa Indonesia dimasa depan.
Kritik terhadap generasi muda sekarang sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas generasi muda bangsa Indonesia kerena tidak tampaknya atau kurang berperannya generasi muda dalam perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia. Ini mengindikasikan terjadinya degradasi kualitas generasi muda. Terbentuknya tatanan sosial yang dicita-citakan leluhur bangsa ini merupakan suatu hal yang menjadi tanggung jawab semua orang tidak terkecuali generasi muda. Namun semakin hari tatanan sosial bangsa Indonesia mengalami degradasi dari berbagai bidang seperti pendidikan, hukum, sosial ekonomi dan masih banyak lagi. Ini merupakan sebuah alarm bagi setiap orang yang sadar dengan tanggung jawabnya sebagai sebuah bangsa.
Terjadinya degradasi suatu bangsa dalam berbagai bidang tidak lepas dari andil generasi mudanya, kurang adanya kontribusi dan inovasi dari generasi muda menjadi salah satu penyebab terjadinya degradasi suatu bangsa dan sekaligus mendeskripsikan terjadinya degradasi kualitas generasi muda itu sendiri. Kurangnya peran dari generasi muda ini menjadi faktor yang paling besar terjadinya degradasi.
Pertanyaannya, kenapa kurangnya peran generasi muda ?
Pertama, rendahnya kesadaran diri (identitasnya) sebagai bagian suatu bangsa yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, ini merupakan masalah yang sangat subtansial, kesadaran diri hal pengenalan terhadap entitas dirinya sendiri untuk mencegah terjadi kesalahan berpikir (Fallacy) dan kesalahan bertindak (actual eror), ketika seorang mahasiswa hukum tidak mengenal dirinya sebagai mahasiswa hukum, ia bisa saja masuk kuliah di kurusan pertanian, ini merupakan sebuah kesalahan berpikir dan kesalahan bertindak, dan juga kita sering temui orang yang mengaku berasal dari suatu suku tapi tidak mampu berbahasa suku tersebut. Analogi dan fakta diatas mencerminkan kondisi generasi bangsa Indonesia saat ini yang menyebabkan terjadi degradasi.
Pembentukan kesadaran diri harus dimulai dari lingkungan keluarga karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan paling dekat, ketika rendahnya kesadaran akan identitasnya berarti ada yang salah di dalam lingkungan keluarganya, ini berhubungan dengan konsep pendidikan keluarga, banyak dalam konsep pendidikan keluarga yang menanamkan konsep dasar yang salah dalam proses pembentukan identitasnya salah satunya konsep eksistensi yang di utamakan dari pada nilai ketermanfaatan atau nilai esensial yang lain. Seperti seorang anak yang di sekolahkan untuk memperoleh pengakuan dari tetangga atau orang sekitar. Malu katanya ketika mempunyai anak yang tidak sekolah, seharusnya konsep dasar menyekolahkan anaknya bukan untuk diakuai oleh orang lain tapi untuk membentuk anaknya menjadi orang yang bijak sana. dan menekankan nilai mata pelajaran yang bagus kepada anak dari pada memberikan tekanan berperilaku baik terhadap orang lain. ini menyebabkan seorang anak akan melakukan hal yang melanggar norma masyarakat sehingga membuat konflik di masyarakat. Seharusnya hal yang esensial di dahulukan dari pada eksistensial.
Algoritma yang terbentuk dalam masyarakat menggambarkan siapa yang dapat mempunyai follower yang banyak akan lebih di hormati dan di ikuti dari pada seseorang yang melakukan sesuatu yang benar atau baik. Kasus pemenang olimpiade di Amerika kalah dengan berita Citayem Fashion Week Chanel, lalu media sosial yang membicarakan hal hal yang benar dan baik akan kalah dengan konten konten yang tidak baik.
Kedua, empati merupakan potensi alami yang dimiliki oleh setiap manusia, saya lebih suka menyebutnya kepekaan. Perubahan kondisi juga memerlukan sebuah kepekaan yang mampu merasakan suatu kondisi yang tidak nyaman sehingga menimbulkan gerak menuju perubahan itu. Generasi muda sekarang kurang memiliki kepekaan itu argumentasi ini bukan sekedar argumentasi yang tidak berlandaskan, contoh ketidak pekaan generasi sekarang dapat dilihat lagi-lagi dari minimnya kontribusi generasi muda dalam kegiatan kegiatan sosial. Kita lihat kurang aktifnya kegiatan. Lembaga-lembaga di kampus dalam usaha menuntaskan masalah-masalah yang terjadi seperti kasus pelecehan yang di lakukan oleh dosen pengajar di beberapa kampus beberapa minggu yang lalu.
Ketiga, semangat juang atau etos kerja dari generasi muda merupakan masalah selanjutnya yang sering kita jumpai pada generasi muda saat ini, kurangnya pengetahuan bukan menjadi alasan bagi generasi muda sekarang, karena semakin mudahnya mengakses informasi dan IPTEK sekarang ini. Pertanyaannya Lalu apa penyebab generasi muda sekarang tidak memiliki semangat juang itu? Menurut saya Jawabnya adalah tidak ada rasa tanggung jawab pada generasi muda sekarang. Rasa tanggung jawab ini bisa terbentuk jika ada korelasi antara kesadaran diri dan kepekaan terhadap kondisi sekitar.
Dari penjelasan diatas kita memperoleh beberapa point, kemunduran berbagai hal disebabkan oleh kurangnya kontribusi dari generasi muda. Kurangnya kontribusi generasi muda sekarang karena kesadaran diri yang tidak terbentuk pada generasi muda dan kurangnya kepekaan terhadap kondisi sekitarnya, sehingga tidak melahirkan semangat juang. dari point di atas perlu adanya perbaikan pada generasi muda sekarang.
Perbaikan pertama dimulai dari penyadaran diri generasi muda, konsep pembentukan kesadaran diri ini yang paling baik dimulai dalam lingkungan keluarga, harus jelasnya arah Pendidikan keluarga harus didasarkan pada hal-hal yang esensial dari pada hal-hal yang eksistensial. Mementingkan nilai-nilai luhur seperti kebenaran, kebaikan, dan kejujuran. Pembentukan identitas akan sangat sulit di lakukan diluar lingkup keluarga karena kurangnya ikatan emosional. Seperti Pendidikan di dalam sekolah formal. Jika dalam lingkup Pendidikan keluarga terjadi kegagalan dalam membentuk kesadaran diri maka dalam lingkungan lain juga akan mengalami kesulitan sehingga akan menimbulkan fenomena kader gagal atau kader tidak tuntas.
Tahap selanjutnya kepekaan terhadap kondisi lingkungannya, hal ini juga bisa dimulai dari Pendidikan keluarga, menanamkan kepedulian terhadap orang lain selain dirinya sendiri bahwa penting memperlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Pendidikan di sekolah formal menjadi fase yang penting dalam pembentukan kepekaan pada generasi muda, kerena terdapat ruang berinteraksi sosial kepada orang lain didalamnya, seperti di dalam kegiatan ospek dalam kampus yang menanamkan nilai kebersamaan, solidaritas, dan saling tolong menolong, maka menjaga nilai-nilai diatas dalam kurikulum kampus adalah satu hal yang sangat subtansial.
Ketika terjadi korelasi antara kesadaran diri dan kepekaan sosial akan melahirkan semangat juang dalam diri generasi muda yang dapat menuntaskan problematika kebangsaan. untuk mencapai hal tersebut harus dimulai dari diri sendiri, karena sebuah perubahan besar dalam sebuah bangsa dimulai dari perubahan diri sendiri. Jika metode perbaikan ini sudah dijalankan dengan konsistensi maka distribusi akan dapat dihambat, karena secara filosofis sebuah penurunan tidak dapat dihentikan seperti halnya kekuatan fisik manusia akan memudar sesuai umur. Namun bukan berarti tidak dapat dihambat atau diperlambat.



































