Sab. Agu 15th, 2020

OPINI : Ledakan Kehamilan Selama Pandemi Covid-19

1 min read
img-20200612-wa0001

 

Kasus Covid-19 di seluruh dunia per Selasa 9 juni 2020 yakni mencapai 7.193.476 kasus. Dari jumlah tersebut terdiri dari 408.614 orang meninggal dunia dan 3.535.554 pasien telah sembuh. Ada 3.249.308 kasus aktif atau pasien dalam perawatan yang tersebar di berbagai negara. Sementara itu, di Indonesia ada 32.033 kasus dengan jumlah kematian 1.883 dan pasien dinyatakan sembuh 10.904 orang. Kini terdapat 19.246 kasus Covid-19 aktif atau yang dalam perawatan di Indonesia.
Kasus positif corona di Indonesia sudah lebih dari 30 ribu sejak pertama kali mengumumkan kasus positif pada awal Maret 2020.

 
Saat ini Indonesia berada pada urutan ke-11 kasus positif terbanyak di Asia dan ke-2 di Asia Tenggara. Diketahui Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta jajarannya memberi perhatian khusus di tiga provinsi, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Tiga provinsi itu mencatat lonjakan kasus baru positif virus corona yang tinggi dalam beberapa waktu belakangan. Wabah virus corona seakan menjadi bencana yang dahsyat bagi seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus yang berasal dari China itu menyebar dan menginfeksi manusia tanpa ampun di seluruh dunia dalam hitungan hari. Termasuk di Indonesia.

 
Hingga kini, pemerintah masih mengupayakan segala cara guna menurunkan angka pasien positif terinfeksi, salah satunya dengan PSBB di berbagai daerah. Akan tetapi, Kebijakan pembatasan sosial, terutama pembatasan sosial berskala besar, di tengah situasi pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat tinggal di rumah juga berdampak besar pada kehidupan suami istri. kebijakan social dan physical distancing menjadi faktor utama penyumbang potensi naiknya angka kehamilan. Ditambah dengan terkendalanya sosialisasi para penyuluh KB karena pertemuan-pertemuan yang bersifat mengumpulkan banyak orang, saat ini tidak bisa dilakukan. Jika dibiarkan, diperkirakan dalam tiga bulan ini kehamilan akan melonjak drastis.
Kondisi ini terjadi karena pada masa pandemi Covid-19 layanan untuk alat kontrasepsi di sejumlah klinik dan bidan tidak berjalan seperti biasanya. Sementara para ibu pengguna alat kontrasepsi juga banyak yang tidak datang ke klinik karena khawatir tertular virus korona baru yang menyebabkan penyakit Covid-19. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendapat laporan, jumlah pengguna alat kontrasepsi menurun sekitar 40 persen. Penurunan penggunaan alat kontrasepsi sebanyak 40 % Karena banyak klinik tidak melayani,pelayanan KB ketika masyarakat yang mau datang suntik KB ke bidan, tetapi karena petugasnya sudah agak tua, terus jadi takut. Bidan yang biasa periksa pasien 40 orang jadi turun jumlah yang diperiksa. Begitu juga pasien atau akseptor juga merasa tidak penting-untuk datang periksakan diri.

 
Pemerintah telah menyusun proyeksi untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia 2020. Proyeksi adalah perkiraan total penduduk yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jumlah penduduk Indonesia 2020 berada di kisaran 271 juta jiwa, data ini merupakan data dengan asumsi pandemik covid-19 tidak terjadi, namun asumsi ini dapat berubah dikarenakan adanya kondisi yang diluar dugaan.

 

Jika kita berasumsi bilamana pasangan suami istri sedang dalam usia subur, dalam seminggu dua sampai tiga kali melakukan hubungan badan dan tidak menggunakan alat kontrasepsi, potensi kehamilannya cukup tinggi. Dari 100 pasangan yang berhubungan, biasanya ada 15 perempuan yang hamil, jika kalau sampai ada 15 persen yang hamil, maka angka tersebut merupakan angka yang cukup lumayan untuk angka kehamilan dan kelahiran baru. Dari data yang ada dalam satu tahun, sekitar 4,8 juta orang melahirkan. Sementara pasangan usia subur di Indonesia saat ini sekitar 28 juta pasangan. Jika selama pandemi Covid-19 ada 2,8 juta pasangan yang tidak menggunakan alat kontrasepsi, tiap bulan akan ada terjadi 400.000 kehamilan. Dalam dua sampai tiga bulan, angkanya bisa mencapai 800.000 kehamilan. Wanita hamil termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap penularan dan keganasan virus corona jenis baru atau COVID-19.

 

Hal ini membuat sebagian besar pasangan memilih untuk menunda kehamilan saat pandemi masih berlangsung. Namun, kehamilan yang ditunda, khususnya pada usia tertentu ternyata tak disarankan. Kondisi tersebut berkaitan dengan jumlah sel telur di rahim yang berperan besar dalam proses kehamilan. Sebaiknya masyarakat dalam masa pandemi ini untuk dapat menunda kehamilan. Di antaranya pertimbangan mengenai kesehatan perempuan yang hamil dan kondisi fasilitas kesehatan selama pandemi.  Karena orang hamil, terutama hamil muda daya tahan tubuhnya akan turun. Kalau daya tahannya turun itu maka akan mudah terkena infeksi. Orang hamil muda itu memiliki gejala mual-muntah, jelas Kalau dalam keadaan tidak musim pandemi, kalau muntahnya berlebih maka akan mendapatkan perawatan dirumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Dengan kondisi yang sekarang ini tidak mudah, dikarenakan dengan kondisi seperti ini. mau mondok juga belum tentu dapat tempatnya, kadang-kadang rasa takut selalu melanda. Alasan lain, ibu hamil muda berisiko mengalami keguguran. Berdasarkan formula yang digunakan BKKBN, setidaknya 5 dari 100 kehamilan yang terjadi dapat mengalami keguguran.
Oleh karena itu, kehamilan di masa sulit ini sebisa mungkin untuk ditunda, karena apabila mengalami keguguran atau pendarahan, ibu hamil harus dibawah ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang terbaik. Untuk itu pemerintah terus berupaya memastikan keberlangsungan penggunaan alat dan obat kontrasepsi selama masa krisis bencana Covid-19, seperti : Pelayanan KB bergerak, kunjungan ke PUS yang memerlukan kontrasepsi.

 
Menurunkan angka putus pakai alat dan obat kontrasepsi sehingga mencegah KTD dengan cara : mengoptimalkan peran PKB/PLKB dan penggerakan Mobil Unit Penerangan KB ke masyarakat untuk KIE Pencegahan Covid-19. Selain itu, seluruh Keluarga Indonesia harus menjalankan Aksi 8 (delapan) Fungsi Keluarga (agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan) agar terhindar dari paparan penyakit dan virus.


Penulis : Bonda Binti Saleh Duro (Pegawai BPS Kota Kendari)

 

2 thoughts on “OPINI : Ledakan Kehamilan Selama Pandemi Covid-19

  1. Does your website have a contact page? I’m having trouble
    locating it but, I’d like to send you an email. I’ve got some
    creative ideas for your blog you might be interested in hearing.
    Either way, great blog and I look forward to
    seeing it grow over time.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *