Oleh: Asrul Ashar Alimuddin
Gebyar Gempita Pesta Demokrasi Pemilu 2024, secara resmi akan dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2024 mendatang. Pemilu kali ini mengusung tema sarana integrasi bangsa yakni Pemilu sebagai pemersatu bangsa. Pemilu merupakan proses pemilihan jabatan pemerintahan memalui proses penghitungan suara yang dilakukan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Setiap warga negara memiliki hak suara yang sama. Pada Pemilu 2024 ini Ada tiga calon presiden-wakil presiden yang akan bertarung. Nomor 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Nomor 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. Nomor 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Berbicara tentang sosok yang mana yang pantas memimpin negeri, para pemilih memiliki sudut pandang yang berbeda. Debat Capres keempat telah dilaksanakan dimana tema debat keempat adalah Pembangunan Berkelanjutan, Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup, Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat dan Desa. Ada yang menarik dalam debat keempat Cawapres kemarin yang sempat menyinggung mengenai pertanian yang ada di Indonesia.
Saat pandemi, sektor pertanian menjadi salah satu katup pengaman ekonomi Indonesia. Pada saat sebagian sektor lain tumbuh negatif, pertanian tetap tumbuh positif. Ini memberikan kontribusi dalam menghambat kemerosotan ekonomi Indonesia, yang secara keseluruhan pada tahun 2020 tumbuh negatif. Masa depan pertanian Indonesia terancam dengan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun di bidang pertanian, khususnya untuk pertanian pangan. Merosotnya luas lahan garapan kepemilikan pribadi dinilai sebagai salah satu penyebab keengganan ini. Pembangunan desa akan sangat bergantung pada tenaga produktif, sehingga ketika tak ada lagi generasi muda yang mau mengerjakan lahan, maka kebutuhan pangan pasti akan disuplai dari luar. Petani merupakan orang yang melakukan budidaya tanaman, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, sampai dengan memanennya langsung. panen yang dihasilkan oleh petani dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi maupun dijual dipasar. petani memiliki peran penting dalam perkembangan pertanian di indonesia baik dalam kebutuhan pangan maupun industri.
Petani Indonesia hanya sebagian menggunakan teknologi dalam bertani, tidak terkecuali dengan petani yang ada di pedesaan pelosok negeri. Kita tahu bahwa petani yang ada di kota adalah justru petani yang hanya memanfaatkan lahan sekitaran rumahnya untuk sebagai pemenuhan kebutuhan saja untuk kehidupan keluarganya dan bukan untuk industri bisa dikatakan juga sebagai petani home farming self , petani memiliki peran penting dalam berjalannya ekonomi nasional, tetapi justru kekurangan alternatif pendukung dalam keberlangsungan sektor pertanian di pedesaan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren penurunan jumlah usaha pertanian perorangan sejak tahun 2013. Dimana pada tahun 2013 petani RI mencapai 31,70 Juta sementara saat ini, jumlah petani di Indonesia mencapai 29,34 juta petani atau turun 7,45 persen.
Upaya regenerasi petani perlu dimulai dari kecintaan generasi muda agar lebih mudah mengembangkan produk dan inovasi dalam sektor pertanian. Sebagai salah satu sektor utama dalam perekonomian, kunci utamanya adalah memiliki sumber daya yang berkualitas dan mampu memanfaatkan teknologi dengan terampil. Data petani milenial dapat menjadi salah satu indikator tingkat regenerasi di sektor pertanian serta menunjukkan pemanfaatan teknologi digital yang diharapkan dapat menciptakan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pedoman Gerakan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pertanian Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045. Petani Milenial merupakan petani berusia 19 tahun sampai 39 tahun, dan/atau petani yang adaptif terhadap teknologi digital.
Berdasarkan hasil ST2023, petani milenial yang berumur 19–39 tahun, baik menggunakan maupun tidak menggunakan teknologi digital, sebanyak 6.183.009 orang atau 21,93 persen dari total petani di Indonesia yang sebanyak 28.192.693. Pertanian di kalangan milenial identik dengan pemanfaatan teknologi yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan produksi. Pemanfaatan teknologi memunculkan berbagai jenis startup yang memungkinkan ide-ide cemerlang dari generasi muda untuk berkembang menjadi solusi yang inovatif dalam memecahkan berbagai permasalahan pertanian.
Anak petani tidak mau menjadi seorang petani, di era sekarang ini begitulah keadaan kaum pemuda yang mencerminkan mereka tidak ingin terjun kedunia lumpur persawahan. Generasi milenial juga menilai bahwa bila mau mendapatkan keuntungan besar dari sektor pertanian, harus siap dengan modal yang besar dan resiko yang tinggi. Menurut mereka, banyak sekali persoalan yang dihadapi petani, antara lain faktor anomaly cuaca, sempitnya lahan garapan, serangan hama dan gagal panen. Mereka juga mengamati bahwa proses penentuan harga tidak berpihak kepada petani, jangankan mendapatkan keuntungan, tidak sedikit petani yang tidak balik modal dan justru tekor. Biaya yang dikeluarkan tidak seanding dengan keuntungan yang diperoleh. Itulah beberapa pandangan yang menjauhkan generasi milenial dari dunia pertanian. Sedangkan pandangan yang tidak menariknya sektor pertanian sebagai sumber utama mata pencaharian generasi milenial, disebabkan oleh beberapa hal antara lain: orang tua yang berprofesi sebagai petani jarang yang mendidik anaknya untuk nantinya bekerja sebagai petani, sebaliknya kebanyakan orang tua mendidik anaknya dengan mendoktrin pemikiran anaknya dari usia dini dengan kata “jangan ikuti kami nak, hanya seorang petani yang gajinya tidak seberapa! Hidup susah!, kelak kau mau menjadi ASN, berpakaian seragam yang rapih, ke kantor, dan duduk didalam ruangan yang ber-ac”.
Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi, jumlah penduduk usia muda mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini perlu untuk disikapi secara bijak agar tidak menjadi bom waktu. Menjadikan sektor pertanian sebagai sektor penggerak roda perekonomian untuk penyerapan tenaga kerja dianggap mampu untuk mengurangi angka pengangguran. Menurunnya jumlah petani dari tahun ke tahun dan anggapan bahwa pertanian itu kotor dan tidak menjanjikan secara ekonomi menurut para kaum milenial perlu segera diantisipasi tujuannya untuk mempertahankan eksistensi petani dan kemajuan pertanian Indonesia. Peran para milenial sangat diharapkan untuk regenerasi dari petani yang ada di Indonesia sehingga kedaulatan pangan yang ada dalam negeri dapat terpenuhi.
*) Penulis Merupakan Statistisi BPS Kota Kendari



































