SULTRALINE.ID, BUTENG – Perkumpulan pemuda yang tergabung dalam komunitas Lembaga Aspirasi Masyarakat (LAM) Buton Tengah (Buteng), Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan sebuah wadah perjuangan pemuda dan rakyat Buton Tengah yang sangat aktif dalam melakukan advokasi dan pembelaan terhadap kasus-kasus ketidakadilan bagi rakyat menggelar diskusi bersama tim redaksi sultraline dengan mengangkat tema diskusi bertajuk “Revolusioner Generasi Muda Mendorong Lahirnya Gerakan Partisipasi Bersama Pemerintah Daerah Buton Tengah Sebagai Kota Santri Menuju Indonesia Emas 2045.” Pada Kamis, 7 Agustus 2025, bertempat di teras perjuangan LAM yang terletak di Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo.
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber Chiko Atman yang merupakan Sekertaris Jenderal Persarekatan Rakyat Miskin SE-KAWAN Sulawesi Tenggara.
Terlihat Ketua Dewan Pembina LAM Sarifuddin Fanta, membuka diskusi dengan semangat optimisme. Ia menekankan bahwa generasi muda harus aktif, dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Buton Tengah sehingga dapat terwujud cita-cita keadilan sosial di daerah di bawah pemerintahan Bupati Dr. Azhari.
Menurut Sarifuddin Fanta yang biasa di sapa koplo tanpa kesiapan mental, keterampilan, dan wawasan kebangsaan, ia bisa berubah menjadi bencana, generasi muda saat ini.
“Pemuda harus ikut serta aktif di berbagai bidang, jika ingin melihat pemuda Buton Tengah dapat bersaing dengan daerah-daerah lain, industri kretifitas pemuda sudah harus lebih maju, minimal kita bisa sama dengan daerah-daerah lainnya. Ulama-ulama muda harus lahir dari buton Tengah sehingga tugas sejarah kita menjaga Buton Tengah sebagai daerah yang sangat kental nilai keislamannya selalu terawat sepanjang hayat negeri ini,” ungkapnya.
Diskusi dimulai dengan pemaparan Chiko Atman, Sekertaris Jenderal persarekatan rakyat miskin SE-KAWAN Sulawesi Tenggara. Menurutnya peran LAM saat ini tidak hanya menjadi alat penerima pengaduan aspirasi rakyat tetapi harus lebih revolusioner dalam melakukan pendampingan kasus kasus rakyat melalui advokasi yang lebih progresif dan selalu berada di tengah-tengah rakyat, dengarkan pilu rakyat, duduk bersama rakyat, lalu melibatkan secara aktif setiap isu-isu yang menerpa dan mengganggu kehidupan rakyat.
“Kita harus berhenti menunggu kesempatan. Saatnya menciptakan peluang. Jangan hanya kuliah untuk bekerja—kuliahlah untuk membangun ekosistem perjuangan yang berdampak pada sadar perjuangan,” tuturnya.
Ditambahkan pula, potensi besar sektor laut dan dan sumber daya alam yang lainnya masih belum tergarap maksimal oleh kalangan muda, padahal sektor ini terbukti tangguh di tengah krisis.
“Oleh nya itu sangat penting bagi aktivis LAM membangun tradisi komunikasi dan kemitraan bersama pemerintah daerah berkolaborasi dalam mendorong terciptanya kota santri di kabupaten Buton Tengah melalui partisipasi aktif kaum muda di kabupaten buton Tengah secara umum,” paparnya.
“Kalau kita ingin politik bersih, pemudanya tidak boleh apatis. Lawan politik uang dengan kesadaran dan keberanian menyuarakan data serta fakta,” ujarnya penuh semangat.


Sementara itu salah satu aktivis LAM Sahlan, sangat berharap kepada pemerintah agar pembangunan di Buton Tengah ini dapat membangun dengan melibatkan banyak Stakeholder yang siap berpartisipasi dalam mewujudkan visi misi buton tengah.
Liputan : Irdwan Jek



































