SULTRALINE.ID, KENDARI – Universitas Halu Oleo (UHO) membuktikan komitmennya sebagai pelopor pengembangan wilayah pesisir, kelautan, dan perdesaan Indonesia melalui program pengabdian masyarakat terintegrasi KKN Tematik di Desa Puasana, Moramo Utara, Konawe Selatan.
Desa Puasana, dengan karakteristik unik sebagai daerah pesisir dan kaya tambang batu gunung, menjadi lokasi ideal bagi mahasiswa Fakultas Teknik UHO untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Fokus utama program ini adalah mengoptimalkan potensi industri rumahan pembuatan batako yang telah berkembang di desa tersebut.
Melalui KKN Tematik ini, dosen dan mahasiswa melakukan pendampingan pada kelompok pengrajin batako untuk menghadirkan solusi inovatif batako ramah lingkungan dan penggunaan teknologi informasi dalam pemasaran produk batako.
Upaya ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Inovasi batako yang dihadirkan tim KKN Tematik UHO merupakan hasil penelitian dan pengambangan yang dilakukan oleh Ketua Tim Dr. Ir. Edward Ngii, ST., MT., yang mengembangkan batako berbasis abu sekam padi sebagai pengganti pasir dan debu batu yang harganya semakin tinggi setiap tahunnya.

Program ini menegaskan peran UHO dalam mentransfer pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan daerah, khususnya di wilayah pesisir dan perdesaan Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UHO, serta terintegrasi dengan KKN Tematik Mahasiswa. Kegiatan ini melibatkan Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dari Jurusan Teknik Sipil, Teknik Mesin dan Teknik Informatika. Mahasiswa Fakultas Teknik yang mengikuti kegiatan dalam bentuk KKN Tematik sebanyak 16 orang yang berasal dari Jurusan Teknik Sipil, Teknik Rekayasa Infrastruktur dan lingkungan, dan Teknik Informatika.
Tim dosen melatih mahasiswa KKN Tematik di laboratorium Fakultas Teknik dalam menghasilkan produk batako ramah lingkungan dan pemanfaatan teknologi informasi dalam pemasaran produk. Produk batako yang dilatihkan memiliki keunggulan lebih ringan dan harganya lebih murah karena memanfaatkan bahan buangan abu sekam padi namun memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan batako di lapangan.

Dalam kegiatan workshop dan pelatihan di pengrajin batako, mahasiswa mahasiswa bertindak sebagai narasumber sekaligus memberikan pendampingan. Untuk mengukur keberhasilan kegiatan mahasiswa melakukan pretest dan posttest untuk peserta. Pelaksana kegiatan KKN Tematik mahasiswa dipimpin oleh mahasiswa Teknologi Informasi yaitu Anawula Menggaa Tinggoa (NIM. E1E121047).
Kepala Desa Puasana, Moramo Utara, menyambut baik kegiatan KKN Tematik ini karena sangat bermanfaat bagi warga kami terutama pengrajin batako. “Kami berharap kerjasama seperti ini bisa terus berlanjut di masa depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Edward Ngii, mengungkapkan bahwa keberhasilan program ini menjadi bukti nyata peran UHO dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui transfer pengetahuan dan teknologi.
“Diharapkan, inisiatif serupa dapat diterapkan di daerah lain untuk memberdayakan lebih banyak UMKM di Sulawesi Tenggara,” tutupnya



































