SULTRALINE.ID, MUNA – Pembangunan pabrik jagung di Desa Bea, Kecamatan Kabawo, menjadi sorotan hangat dalam debat publik pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Muna, yang digelar di gedung SOR La Ode Pandu, Kota Raha, pada Sabtu malam (02/11/2024).
Salah satu calon menyampaikan kritik bahwa pabrik tersebut belum memberikan manfaat nyata bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna dan masyarakat setempat.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Muna, Anwar Agigi, menegaskan bahwa proyek pembangunan pabrik senilai Rp 14,1 miliar ini telah diaudit secara ketat oleh BPKP Sulawesi Tenggara dan BPK Sulawesi Tenggara.
“Hasil audit tidak menunjukkan adanya temuan,” jelas Anwar pada Minggu (03/11/2024).
Fasilitas ini dikelola sementara oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), dengan struktur yang terdiri atas Sub Unit Pasca Panen dan Pemasaran, Pengolahan Pakan Ternak, Pengolahan Limbah Pertanian, dan Perbenihan. Anwar menambahkan bahwa operasional pabrik sudah diuji coba sejak 2023 dengan hasil memuaskan, meskipun ada kendala terkait kepastian hukum lahan.
“Meskipun dokumen legal sudah lengkap, masih ada pihak yang mempersoalkan status lahan, yang sempat menghambat pengelolaan,” terang Anwar.
Ia juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi mitra swasta, PT. Datu Nusra Agribisnis, yang akhirnya mundur karena keterbatasan dana dan tekanan eksternal.
Saat ini, fasilitas pabrik siap beroperasi penuh. Namun, keberhasilan operasional bergantung pada dukungan petani untuk memenuhi standar kualitas jagung dan ketersediaan dana pembelian. “Petani ingin dibayar langsung setelah panen, sehingga peran BUMD atau BUMDes sangat penting,” ujar Anwar.
Fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 56 ton per hari untuk jagung pipilan dan 70 ton untuk jagung tongkol. Semua produk jagung diproses sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 4483:2013, memastikan kualitas yang memenuhi kebutuhan pasar nasional dan pabrikan pakan ternak.
Selain itu, pabrik ini terbuka bagi petani dan swasta, yang dapat mengajukan penggunaan fasilitas dengan kontribusi terhadap pendapatan daerah. Anwar menjelaskan, biaya operasional dihitung secara rinci, meliputi tenaga kerja, listrik, bahan bakar, dan pemeliharaan alat.
“Dengan operasional pabrik ini, kami berharap kualitas jagung di Muna dapat meningkat dan mampu bersaing di pasar nasional,” pungkas Anwar.
Penulis : Baharuddin.



































