Oleh: Abdul Bukit Jalil (Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo)
Sebagai orang yang hidup dan tinggal di tepi pantai Kabupaten Muna Barat, yang kesehariannya sebagai mahasiswa. Saya Abdul Bukit Jalil, mahasiswa akhir Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, saat ini mendalami riset valuasi ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove di Kabupaten Muna Barat memiliki vegetasi yang sama dengan ekosistem mangrove di kabupaten/Kota Sulawesi Tenggara lainnya. Hanya masyarakat Muna Barat, terutama orang awam (orang tua), tidak paham dengan nama mangrove; mereka lebih mudah menyebut kayu bakau dan buli.
Secara umum, mangrove merupakan suatu ekosistem yang berada di daerah tepi pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga lantainya selalu tergenang air. Ekosistem mangrove berada di antara level pasang naik tertinggi sampai level di sekitar atau di atas permukaan laut rata-rata pada daerah pantai yang terlindungi dan menjadi pendukung berbagai jasa ekosistem di sepanjang garis pantai di kawasan tropis. Keberadaan ekosistem mangrove sangat penting karena memiliki manfaat ekologis, yakni sebagai habitat dari berbagai macam jenis ikan, udang, kepiting, gastropoda, bivalvia, dan lain-lain.
Berbicara manfaat mangrove di Muna Barat, perlu diketahui luas hutan mangrove itu sendiri. Dilansir dari Badan Penghubung Daerah Sulawesi Tenggara dalam Workshop Nasional Percepatan Rehabilitasi Mangrove, luas hutan mangrove Sulawesi Tenggara adalah 3.901,36 hektar yang terindikasi sebagai mangrove dengan kelebatan sedang. Kondisi mangrove dengan kelebatan sedang tidak terlepas dari pengaruh pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat. Dalam sebuah penelitian, kondisi hutan mangrove Kabupaten Muna Barat pada tahun 2020 memiliki kerapatan hanya 855 tegakan per hektar, terbilang menurun drastis dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 1.605 tegakan per hektar (Fakaubun, 2022). Hal ini disebut degradasi hutan mangrove dan peralihan fungsi hutan mangrove.
Degradasi ini tidak terjadi begitu saja; penyebabnya sangat nyata dan kompleks. Penduduk setempat mulai memanfaatkan kayu mangrove untuk kayu bakar dan bahan bangunan (dolken), menggantikan hutan mangrove dengan pemukiman baru, dan mengubah lahan menjadi tambak ikan. Keputusan-keputusan ini, meski tampak perlu demi kelangsungan hidup sehari-hari, ternyata membawa konsekuensi besar bagi ekosistem yang rapuh ini. Dalam suatu studi kasus di Desa Bakeramba, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat, pemanfaatan hutan mangrove digunakan untuk kayu bakar batu merah atau batu bata di desa tersebut. Desa ini merupakan salah satu desa dengan produksi batu merah terbesar di Kabupaten Muna Barat. Diketahui harga per kubik kayu mangrove senilai Rp 350.000-500.000. dengan harga seperti itu maka banyak penebang yang tergiur, sehingga ini akan mengikis sedikit demi sedikit keberadaan hutan mangrove.
Selain itu, masyarakat sering menggunakan kayu mangrove sebagai kayu gelam (dolken) yang dihargai perbatangnya mencapai Rp 5.000. Penggunaan ini digunakan untuk penyangga bangunan, biasanya untuk bangunan dua lantai. Kegiatan seperti ini mengakibatkan setiap tahun terjadi degradasi hutan mangrove. Degradasi ini bukanlah cerita yang hanya terjadi di Muna Barat. Laporan Ilman dkk., 2016, mengungkapkan bahwa di seluruh Indonesia, ekosistem mangrove mengalami nasib serupa. Setiap tahun, sekitar 200.000 hektar hutan mangrove hilang, sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan akan kayu bakar, pembangunan pemukiman, dan tambak.
Ini mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam. Di balik setiap pohon mangrove yang hilang, ada ekosistem yang hancur dan kehidupan yang terancam. Sebagian masyarakat memanfaatkan hutan mangrove sebagai mata pencaharian dengan mencari kerang-kerangan seperti di Muna Barat maupun di Muna dikenal sebagai kerang burungo (Telescopium telescopium) dan kerang kaboi (Polymesoda expansa).
Biasanya, kerang-kerangan ini dipasarkan di pasar tradisional di Muna Barat, seperti di Pasar Guali, Pasar Masarapasar, dan Pasar Sentral lainya. Biasanya masyarakat menjualnya dengan dua pilihan: pertama, kerang tanpa kulit dan kerang dengan kulitnya. Harga yang ditawarkan berkisar Rp 15.000-30.000 per ember tiger, variasi tergantung pilihan yang diminta. Dari sini dapat kita lihat bagaimana pentingnya ekosistem mangrove bagi perekonomian.
Saya berharap, untuk menjaga pemanfaatan dan pengembangan hutan mangrove, perlu peranan semua elemen masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi kerusakan dan memaksimalkan manfaat ekonomi dari ekosistem mangrove. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:
1. Rehabilitasi Mangrove dengan Partisipasi Masyarakat: Upaya rehabilitasi mangrove perlu melibatkan masyarakat setempat dengan cara memberdayakan mereka, baik dari segi pengetahuan maupun ekonomi. Masyarakat perlu diberi pelatihan tentang teknik rehabilitasi mangrove dan pentingnya menjaga ekosistem ini. Selain itu, upaya pemanfaatan sumber daya perikanan yang ramah lingkungan, seperti penerapan sistem budidaya silvofishery (wana mina), dapat dilakukan untuk mengoptimalkan nilai ekonomi pemanfaatan langsung sambil tetap menjaga kelestarian vegetasi mangrove.
2. Pembuatan Peraturan Desa: Penting untuk membuat aturan yang disusun bersama oleh instansi terkait, pemerintah desa, dan masyarakat dalam bentuk peraturan desa. Aturan ini harus mengatur tentang pengelolaan dan pengawasan ekosistem mangrove, termasuk larangan terhadap penambangan pasir dan pengolahan kayu bakar yang merusak sumber daya alam tersebut. Dengan adanya peraturan yang jelas dan tegas, diharapkan ekosistem mangrove dapat dilindungi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
3.Pengembangan Potensi Wisata Alam: Potensi wisata alam di kawasan mangrove Desa Labone, seperti objek wisata alam Topa, dapat dikembangkan sebagai sumber mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pesisir. Dengan mengoptimalkan potensi wisata ini, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tambahan tanpa merusak ekosistem mangrove. Keterlibatan pemerintah daerah dalam pembangunan sarana dan prasarana penunjang objek wisata tersebut sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi ini.
Mangrove di Kabupaten Muna Barat adalah contoh nyata bagaimana alam dan manusia saling bergantung. Dengan pengelolaan yang bijak dan melibatkan seluruh pihak terkait, ekosistem mangrove dapat tetap lestari dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.



































