Oleh: Dr. La Ode Alwi, SP., M.P., dkk
Penyebaran Coranavirus Disease tahun 2019 yang biasa disingkat dengan COVID-19 telah menyita perhatian dunia secara masif. Terkhusus di Indonesia penyebaran virus ini telah merenggut nyawa sebagaiman berita melalui Data COVID-19 di Indonesia sampai dengan tanggal 14 Juli 2020 mencapai 3.656 orang yang tersebar pada berbagai wilayah Indoensia, sementara di Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat 9 orang meninggal serta sementara dinyatakan positif dan dalam perawatan mencapai 518 orang. Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu wilayah pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia, tidak menutup kemungkinan penyebaran virus ini akan semakin meningkat pada waktu-waktu mendatang. Kedatangan beberapa tenaga kerja baik domestic maupun asing telah menimbulkan kegelisahan dan kegaduhan masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara. Apalagi diketahui tenaga kerja asing yang konon kabarnya TKA China, yang mana negara tersebut, sebagai awal mula munculnya virus tersebut.
Berbagai program penanggulangan terhadap virus ini telah dilakukan secara maskimal, mulai dari pemerintah pusat, provinsi/daerah sampai pada tingkat desa/kelurahan namun korban-korban akan virus tersebut, tak pernah surut. Berbagai cara dan strategi yang dikerahkan oleh pemerintah untuk pencegahan telah dilakukan dengan baik, seperti (i) social distancing, yakni upaya untuk menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia. Jarak yang dianjurkan sekitar dua meter; dan (iv) lockdown, yakni situasi di mana orang tidak diizinkan masuk atau meninggalkan gedung atau area karena sebuah keadaan darurat. Sebagai langkah implementasi dari strategi dan kebijakan tersebut, dengan mengurangi berbagai aktivitas layanan publik, seperti mengehentikan kegiatan belajaran mengajar dari tatap mula ke sistem belajar di rumah melalui sistem on line mulai tingkat Sekolah Dasar sampai pada Perguruan Tinggi. Begitu pula dengan layanan layanan publik lainnya, namun dalam kenyataan tidak menyelesaikan masalah. Beberapa permasalahan yang dihadaap masyarakat saat ini adalah sebagai berikut yaitu: (i) peningkatan kepanikan masyarakat akan bahaya penularan COVID-19; (ii) rendahnya pemahaman akan mitigasi terhadap wabah COVID-19; (iii) rendahnya kesadaran masyarakat akan penerapan pola hidup sehat; (iv) rendahnya pengetahuan masyarakat akan sumberdaya lokal sebagai mitigasi COVID-19; (v) menurunnka rasa saling percaya dan saling curiga antar sesama terlebih lagi pada orang tidak dikenal; dan (v) terbatasnya akses sosial kemasyarakat akibat intervensi kebijakan sosial distancing.


Melihat situasi ini Universitas Halu Oleo turut mengambil peran dalam penyelesaian masalah ini, yakni program pengabdian masyarakat terientegrasi kkn tematik, melalaui Desiminasi Informasi` dan Edukasi Mitigasi Corona Virus Disease 19 (Covid-19. Program ini melibatkan mahasiswa untuk melaksanakan berbagai penyebaran informasi serta edukasi terhadap penanggulangan COVID-19. Jumlah mahasiswa dalam kegiatan ini terdiri dari 27 orang dengan penyebaran lokasi pengabdian sesuai dengan daerahnya masing, yaitu di Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Muna, Kabupaten Kolaka Timur, Kota Kendari serta Kabupaten Bulukkumba Provinsi Sulawesi Selatan.


Beberapa kegiatan mahasiswa tersebut seperti pengenalan tentang beberapa sumberdaya lokal seperti pemanfaatan kelor sebagai konsumsi sehari. Jenis pangan dapat dapat berfungsi, sebagai peningkatan imunitas juga berguna dalam penanggulangan COVID-19 tersebur.
Kegiatan mahasiswa dalam desiminasi informasi serta edukasi dalam mitigasi COVID-19 dilakukan dalam bentuk penyampaian langsung kepada masyarakat, maupun melalui media sosial youtube, facebook serta Group WhatsApp keluarga maupun WhatsApp orang perorang. Demikian pula pelatihan tentang pelatihan pembuatan saraba dengan bahan baku santan kelapa dan jahe serta sosialisasi akan manfaatnya.



































