SULTRALINE.ID, KENDARI – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Halu Oleo (UHO), Pandyi Priyono menegaskan tidak mengikuti rapat koordinasi yang diadakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) yang membahas rencana kedatangan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok di Bumi Anoa.
Pasalnya diberitakan dan beredar surat bahwa rakor yang dilaksanakan di rumah jabatan (Rujab) Gubernur Sultra pada Jumat (12/6/2020) turut dihadiri beberapa ketua BEM universitas yang ada di Sultra.
Dimana dalam rapat tersebut Gubernur Sultra Ali Mazi bersama Forkompinda akhirnya menyetujui rencana masuknya 500 TKA di Bumi Anoa yang kesemuanya disebutkan tenaga ahli yang akan bekerja di perusahaan tambang PT. VDNI dan PT. OSS. Bahkan menjadi diskusi hangat Warganet diberbagai media sosial.
“Saya tegaskan sangat tidak mungkin kami hadir, pertama surat utuh yang kami dapat tidak ada BEM UHO, yang kedua bahwa saya kembali pertegas tidak ada satupun perwakilan BEM UHO yang hadir di rapat tersebut,” tegasnya seraya memperlihatkan surat undangan yang didaftar undangan tidak ada menyebutkan BEM manapun, Minggu (14/6/2020)
Wacana akan masuknya 500 TKA Tiongkok di Sultra sudah berhembus pada bulan April kemarin ditengah kondisi Pandemi Covid-19. Dimana berbagai elemen secara tegas menolak kedatangan TKA tersebut, termasuk yang paling lantang menyuarakan BEM UHO.
Olehnya itu, Pandyi menegaskan BEM UHO hingga sampai saat ini tetap menolak masuknya TKA dengan berbagai pertimbangan serta melihat kondisi saat ini di Sultra.
“Kami tetap komitmen menolak keras rencana kedatangan 500 TKA tersebut terlebih kondisi Sultra saat ini belum bisa kita katakan aman dari Covid-19,” pungkasnya.
Sekedar informasi, rakor tersebut dihadiri Wakil Gubernur Sultra, Lukman Abunawas, PJ Sekda Sultra, La Ode Ahmad Pidana Balombo, Kapolda Sultra, Irjen Pol Merdisyam, kepala OPD terkait, perwakilan perguruan tinggi di Sultra, tokoh masyarakat hingga tokoh agama.
Dimana Gubernur Sultra, Ali Mazi menyatakan pihaknya sepakat menerima kembali hadirnya para TKA Tiongkok di Sultra menyusul pemberlakukan kebijakan New Normal. Selain itu demi hidupnya kembali denyut perekonomian di kawasan industri Morosi Kabupaten Konawe. Termasuk di Sulawesi Tenggara yang sempat redup akibat Covid-19.
Keputusan Ali Mazi mendukung kedatangan TKA China sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang telah membuka kran impor pekerja asing.
Laporan : TIM



































