Sebulan terakhir ini, perseteruan antara dua tokoh Nasional yakni Adian Napitupulu dan Erick Thohir begitu menyita perhatian publik. Bukan saja skala Nasional tapi hingga ke daerah-daerah. Terlebih kedua tokoh tersebut sama-sama pendukung Jokowi pada Pilpres 2019 kemarin.
Jika membandingkan keduanya tentu memiliki track record tersendiri, Adian Napitupulu yang berlatar aktivis 98 yang saat ini menjadi anggota DPR RI. Sedangkan Erick Thohir seorang pengusaha yang saat ini menduduki sebagai Menteri BUMN. Bahkan keduanya telah dipanggil Presiden Jokowi di waktu yang berbeda.
Atas itu membuat Azhari selaku Rektor USN Kolaka, Sulawesi Tenggara membuat sebuah tulisan di media sosial pribadinya (Facebook) @AZhari pada 8 Agustus 2020. Dalam tulisannya, Azhari sedikit mengulas perjalanan kedua tokoh tersebut:
Untuk lebih jelasnya berikut isi tulisannya:
JOKOWI DI ANTARA ERIK DAN ADIAN
Azhari: Pengajar Fisip USN Kolaka
Saya dan sebagian dari warga bangsa lainya, sebulan lebih terakhir ini, pastinya pernah membaca berita tentang silang pendapat antara Adian Napitupulu dan Erik Tohir. Setiap pembaca berita tentang kedua tokoh ini, pastinya akan punya persepsi dan kesimpulan sendiri. Ya pengalihan issulah, dagelanlah, atau mungkin juga pada akhirnya akan memandang ini rupanya serius. Nah, yg memandang serius pd akhirnya akan menoleh ke Jokowi.
Kenapa menoleh ke Jokowi. Karena hampir semua org yg mengikuti proses perkembangan Jokowi sejak dari Solo kemudian menjadi Gub DKI lalu menjadi Presiden periode pertama, faham bahwa Adian adalah salah satu pentolan pengawalnya yg kerap hadir berdebat, hampir tiada hari tanpa Adian di layar TV nasional yg berdebat, tentunya membelah dan menjual Jokowi.
Lalu Erik Tohir, siapa pula yg tidak kenal pria muda mentereng, bertangan dingin dan sukses memimpin penyelenggaraan Asian Game, lalu sukses pula menjadi ketua tim sukses Jokowi periode kedua.
Yah, keduanya adalah satu dari beberapa orang yg bisa digelari panglima perang Jokowi. Lalu kenapa jadi ribut? Nah, ini yg menarik, hingga membuat sy pun ikut menulis ini. Kalau sy sebagai org yg belajar sedikit ilmu politik pemerintahan, memandang kalau keduanya ribut memang wajar pake “banget”. Kenapa? Karena keduanya memang sangat berbeda. Menurut sy perbedaan keduanya 180 derajat. Satu di timur satu lg dibarat, he he he.
Adian, berlatar aktivis yg hidup dijalanan. Bergaul dengan lapisan masyarakat miskin, tertindas, marginal dan kemudian melenggang ke kelas elit negeri ini dengan dukungan kawan2nya yg juga seperti dirinya. Bicarah ilmiah akademik, tdk usah harap darinya. Karena dia memang bukan pembelajar ilmu yg tekun dibangku kuliah. Semua org yg pernah kuliah dalam negeri fahamlah bagaimana teman2 aktivis seperti dia. Mereka lebih banyak mementingkan misi pergerakan dibandingkan tugas kuliah. Akhirnya sudah umum yg seperti mereka rata2 mahasiwa abadi, masi untung kalau lulus biasanya DO. Latar aktivis lapangan jelas mereka tdk akrab dengan kemewahan dan kenyamanan. Yg ada jiwa sosial, setia kawan dan konsisten atas pilihan sikapnya. Ya karena mereka ditempah keadaan yg membentuk wataknya.
Lalu Erik, kita mengenalnya sebagai salah satu manusia langkah dinegeri ini, yg sukses besar diusia muda. Punya kerajaan bisnis, punya kekayaan yg bisa menjamin dirinya, bahkan anak cucunya hidup nyaman tanpa harus kerja lagi. Latar pendidikan dari kampus berkelas luar negeri, punya koneksi dan jaringan bisnis menduniah, berteman dgn kelompok elit bukan hanya nasional tapi juga mancanegara.
Sangat berbeda kan? Lalu kok bisa satu, paling tidak dalam pilpres barusan. Nah, disinilah salah satu contoh saja dari kemampuan pribadi seorang Jokowi. Kenapa Jokowi bisa menarik minat org seprti Adian, untuk menjadi pengikut dan pendukung yg setia. Karena Jokowi walaupun dia pengusaha dan telah jd walikota sebelum ke DKI. Jokowi berlatar belakang org kebanyakan. Sekolah dan kuliah dalam negeri, memulai bisnis dari kecil, bergaul dengan org kecil baru menjadi pejabat. Jokowi faham bagaimana watak dan sikap orang2 yg seperti Adian. Karena sesungguhnya dia juga berlatar seperti itu dgn lakon yg berbeda.
Lah, dengan Erik?, jgn lupa juga bahwa walaupun berawal dari usaha keluarga yg tradisional, Jokowi kemudian merangkak menjadi eksportir mebel terkemuka, paling tidak di Solo yg merupakan pusatnya produksi mebel Indonesia yg mendunia. Dari situ Jokowi faham bagaimana etos kerja, disiplin dan juga sikap profesional dari pemain bisnis multinasional seperti Erik.
Nah, dua latar belakang yg berbeda bahkan bisa dibilang berbanding terbalik, seperti Adian dan Erik ini, saat menyatu menjadilah kekuatan dasyat yg mengantarkan Jokowi ke kursi Presiden.
Lalu sekarang ribut. Kenapa ribut? Sumber keributan antara Erik dan Adian, juga bersumber dari latar belakang tadi. Adian ini adalah komandan, figur juga tempat bersandar kawan2nya yg tadi para aktivis lapangan terutama yg belum punya usaha mandiri. Saat Adian terlihat bersama Jokowi maka ribuan jaringanya yg tersebar dalam komunitas PENA 98, POSPERA bak diperintah kembali kelapangan berjibaku dengan berbagai masalah lapangan yg keras. Mereka lupa jam tidur, lupa jam makan bahkan sebagian jg lupa kalau dirumah belum siap utk keluarga. Sikap konsistensi berjibaku yg selalu melawan kemapanan dimasa lalu, kini berbalik utk menjadi prajurit2 yg ingin melihat pujaannya disingasana.
Saat pesta itu usai, Adian ditawari menteri dan tawaran itu, terbuka disampaikan Jokowi didepan ribuan teman2 Adian, bahwa Jokowi ingin aktivis 98 ada yg jadi menteri, komisaris dan dirut BUMN. Adian diminta jd menteri, menolak. Alasannya sgt rasional karena tdk akan sanggup mengikuti ritme Jokowi yg sgt energik sementara dia yg nampak garang dimedia saat membela dan menjual Jokowi adalah berpenyakit menghawatirkan bila terlalu aktif dari segi fisik. Terbukti pasca pilpres iapun terkapar sakit.
Tawaran Jokowi untuk menteri ditampik halus, tapi tawaran dan permintaan untuk komisaris dan dirut itu diserahkan. Karena itu harapan bagi kawan2nya yg besar ini. Nama2 itu dihantar ke Jokowi untuk mewakili Gerbong ribuan kawan2 ini, diterima dan disodor ke Erik. Bulan berganti dalam penantian, tak satupun terpanggil, bahkan yg telah ada pun diputus sambungan selanjutnya. Maka sang singa jalanan yg sesungguhnya mesti istrahat itupun mengaum kembali. Mengaum utk kawananya, yg tersisih, ibarat pasukan mrk telah pulang memenangkan pertempuran, tapi tak ada pampasan yg terlempar pd mrk. Padahal sebagai pasukan, mrk mesti siaga mengawal sang pujaan.
Lalu Erik, panglima besar yg telah kembali ini ditugaskan untuk menangani BUMN. Agar bisa sustainabel, kalau tak untung paling tidak tak rugilah. Maka langkahnya adalah profesionalitas. Mesti menunjuk yg terbaik dari yg terbaik. 7500 job komisaris dan direksi di BUMN mesti di isi profesional agar untung paling tdk jgn buntung. Nah kawan Adian, mungkin tdk masuk dalam standar profesional ukurannya. Sebagai CEO profesional harus tegas tidak!. Bisnis ya bisnis.
Salakah Adian?, tidak. Karena dia mengajukan apa yg diminta. Dalam politik itu hal lumrah, walaupun mungkin baru kali ini ribut. Salahkah Erik?, jelas juga tdk. Karena perintahnya profesional. Profesional ya begitu.
Lalu apa itu tak ada jalan kompromi?. Ada. Bagaimana?. Ya dalam kajian birokrasi publik, kita mengenal political appointed, yaitu orang2 bawaan presiden terpilih yg ditempatkan pada posisi2 non birokrasi karier, tugasnya untuk menjadi jembatan antara misi politik presiden dengan para birokrat karier disuatu instansi. Sementara kedudukan birokrat karier digambarkan sebagai bureaucratic sublation, menegaskan bahwa birokrat sebagai orang yg berkarier lama, dianggap punya kapasistas mumpuni karena jenjang kariernya yg panjang.
Posisi mereka tidak boleh diganggu oleh org yg ujug ujug masuk kedalam pemerintahan. Mereka juga mesti turut dilibatkan dalam pengambilan kebijakan. Walau demikian pejabat politik tetap menjadi penentu terhadap program pemerintahan (executive assendency). Amerika sebagai kiblat demokrasi presidensial, mencontohkan itu. Bagaimana setiap presiden baru membawa gerbong political appointeenya utk merumuskan dan menjalankan janji politik kampanye juga menyukseskan pemerintahannya. Saat presiden berganti, mereka juga bubar.
Bagaimana Indonesia?, masa Jokowi sedikit diadopsi melalui unit KSP. Juga staf khusus presiden, wapres, menteri. Lalu apa di BUMN tidak bisa?, ya tidak bisa kalau mayoritas, tapi kalau 1000 dari 7500 itu masi wajar. Ibaratnya 6500 org utama adalah memiliki nilai 9. Sementara yg 1000 ini, nilai untuk profesional bisnisnya hanya 6,5. Tapi ingat yg nilai 9 dalam bisnis tadi kalau dalam pertahanan politik bernilai 6,5. Demikian sebaliknya. Paling tdk mereka bisa dipandang sebagai political appointee, yg hendak menjalankan janji kampanye populis kepada akar rumput.
Lagian BUMN bukan bisnis yg mengejar laba bak perusahaan swasta murni. Tapi disana ada pemberdayaan sosial. Anggap saja yg 1000 td bagian dari pemberdayaan sosial agar semakin banyak putra putri bangsa yg punya talenta bisnis seperti pa Erik.
Lalu bagaimana Jokowi?, beliau serba susah. Karena alur seperti diatas. Yg satu dijanji dan ditawari yg satunya lg diperintah. Yg dijanji dan diperintah sama punya prinsip kokoh sayangnya pada medan lingkungan yg berbeda. Dari sisi gesture Jokowi dengan memanggil Adian diawal protes dan menanyakan itu, sesungguhnya pemahaman sy Jokowi yg njawani itu memberi pesan ke Erik, ya mbok dirangkul. Yg menjadi tujuan pesan entah karena kadung terlanjur tersinggung, ya mari kuat kuatan. Pak Jokowi yg saat ini banyak masalah berbangsa ya mbok jangan ditambahi beban dari dalam.
Kalau menurut sy, mesti ada yg menjembatani dua sahabat berbeda latarbelakang, tapi sesungguhnya misinya sama. Menjaga dan menyukseskan program kerja Presiden Jokowi periode kedua ini. Siapa figur yg cocok utk menjadi penengah, dia mesti faham jiwa2 aktivis dan faham juga sikap keras para CEO. Siapa ya. Sepertinya yg cocok Jendral lapangan tapi juga pebisnis sukses dan pelobi yg punya reputasi. Ya, sepertinya cocok kalau Jendral LBP.
Semoga segra berakhir, karena ini bisa jadi duri dalam jantung dan api dalam sekam, bila tdk segera diakhiri. Ingat keruntuhan suatu struktur apa saja, biasanya diawali dengan adanya satu dua tulangan yg keropos dari dalam.
Tks, sukses selalu.
Itulah tulisan Azhari yang juga salah satu tokoh pendidikan Sulawesi Tenggara, walau ditengah kesibukannya sebagai Rektor ia masih menyempatkan waktu menulis mengenai kondisi bangsa hari ini.



































