SULTRALINE.ID – KENDARI
Di bawah teduhnya atap langit di teras rumah sederhana, sebuah pertemuan emosional terjadi. Kader-kader perjuangan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Rakyat Indonesia (PRI) Kota Kendari menggelar konsolidasi rakyat yang dikemas hangat dalam tema “Kopi Darat di Teras Rumah Rakyat”. Bukan di hotel mewah, kali ini mereka duduk bersila merajut cerita bersama komunitas pemulung Kota Kendari, Selasa (7/7/2026).
Ketua DPC PRI Kota Kendari, Amirullah Ais, dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan bahwa pertemuan ini bukanlah panggung politik biasa, melainkan sebuah awal pergerakan hati.
”Ini adalah awal pergerakan yang kami lakukan di Kota Kendari. Tidak akan berhenti di sini, akan ada banyak titik pertemuan lain yang akan kami kunjungi. DPC Partai Rakyat Indonesia Kota Kendari ingin menyapa langsung warga, mengetuk pintu dari lorong ke lorong, duduk bersama di teras rumah mereka,” ujar Amirullah dengan nada bergetar saat diwawancarai sore tadi.
Bagi partai berlambang Harimau Putih ini, menyusuri lorong-lorong sempit adalah cara terbaik untuk menyosialisasikan visi-misi partai yang berkomitmen penuh mengawal kesejahteraan rakyat kecil. Amirullah juga menegaskan bahwa arah perjuangan partai selalu tegak lurus bersama Presiden Prabowo.
”Sesuai arahan dan perintah tegas dari Ketua Umum kami, Bapak Muhammad Nazaruddin, Partai Rakyat Indonesia wajib mendukung program pemerintah. Bahkan bukan hanya mendukung, tapi kami wajib turun tangan langsung untuk ikut menyukseskannya,” tambahnya di tengah riuh rendah suasana sore itu.
Kehadiran para pengurus partai di tengah-tengah komunitas pemulung ternyata menorehkan kesan mendalam. Salah seorang warga yang akrab disapa Mama Dian, menyampaikan rasa haru dan ketertarikannya untuk ikut berjuang bersama PRI. Baginya, ada secercah harapan baru, terutama karena kehadiran sosok pemimpin perempuan di tingkat wilayah.
”Kami merasa dimanusiakan. Apalagi saat tahu bahwa Ketua DPD Provinsi Sulawesi Tenggara adalah seorang perempuan, Ibu Wa Ode Nurhayati. Itu membuat kami, kaum perempuan di lorong-lorong ini, merasa punya perwakilan yang mengerti hati kami,” ungkap Mama Dian tulus.
Suasana haru sore itu rupanya sampai ke telinga Wa Ode Nurhayati. Saat dihubungi melalui telepon selulernya, perempuan yang akrab disapa WON ini tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya sekaligus rasa haru yang mendalam atas ketulusan dukungan dari komunitas pemulung.
”Saya sangat terharu mendengarnya. Tumbuhnya dukungan dari saudara-saudara kita, komunitas pemulung yang berkumpul sore ini, adalah amanah yang sangat berat sekaligus indah. Insya Allah, jika urusan di luar daerah sudah selesai, saya akan segera pulang untuk memeluk dan menyapa langsung warga di sana,” pungkas WON dengan nada emosional di ujung telepon.
Pertemuan sore itu diakhiri dengan jabat tangan erat dan tawa kecil di teras rumah warga—sebuah bukti bahwa politik, jika diletakkan di tangan yang tepat, bisa bermula dari rasa empati dan secangkir kopi hangat.
Liputan: Ari
Editor: Titah



































