SULTRALINE.ID – KENDARI
Di tengah hiruk-pikuk Kota Kendari, ketika mayoritas orang berjalan sambil menunduk menatap layar ponsel, ada satu sosok yang melangkah dengan pandangan berbeda. Matanya jeli menyisir setiap sudut jalan, mencari sesuatu yang kerap dihindari orang lain.

Dia adalah Anwar (35), pria di balik akun TikTok “Kantong Merah” yang belakangan ini mencuri perhatian netizen. Aksi nyata yang dilakukannya pada Minggu (31/05/2026) kembali menjadi tamparan halus sekaligus inspirasi besar bagi warga Kota Lulo.
Klik di bawa ini geratis 👇
@kantongmerah98
Saat ini, pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan besar di berbagai kelurahan di Kendari. Minimnya kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah membuat limbah anorganik menumpuk tak keruan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, alih-alih ikut mengeluh, Anwar memilih turun ke jalan.
“Melintas Sambil Memungut”
Setiap hari, tanpa lelah, Anwar melakukan operasi pungut sampah di jalan-jalan umum Kota Kendari. Konsepnya sederhana namun konsisten: melintas sambil memungut. Begitu melihat plastik, botol bekas, atau kemasan makanan yang berserakan, tangannya langsung bergerak sigap.
Aksi ini ia dedikasikan untuk mendukung penuh program pemerintah: Kendari Tanpa Sampah, Kendari Tanpa Banjir.
“Satu sampah yang terbuang sembarangan, adalah awal dari satu bencana,” ucap Anwar lirih saat ditemui di kediamannya.
Kalimat sederhana itu lahir dari keresahan mendalam seorang warga negara yang mencintai daerahnya. Bagi Anwar, menjaga lingkungan bukan tugas dinas kebersihan saja, melainkan utang moral setiap manusia yang berpijak di atas bumi.
Filosofi “Kantong Merah” yang Menggetarkan Hati
Banyak netizen di kolom komentar akun TikTok-nya penasaran, mengapa ia memilih nama “Kantong Merah”. Saat ditanya langsung, Anwar memberikan jawaban filosofis yang sangat menyentuh hati:
“Kantong plastik merah itu jarang dipuji saat bersih, bahkan sering dicampakkan saat kosong. Namun, ia adalah hal pertama yang panik dicari orang ketika mereka punya kotoran yang harus dibawa. Kadang, menjadi berguna jauh lebih penting daripada sekadar menjadi pajangan yang indah.”
Filosofi hidup ini ia buktikan lewat tindakan. Anwar memilih menjadi seperti kantong merah itu—tidak butuh pujian, tidak butuh terlihat mewah, namun hadir dan menjadi solusi nyata saat lingkungan sedang “kotor”.
Mengetuk Pintu Hati Kolektif
Aksi konsisten Anwar ini memicu gelombang dukungan moral yang luar biasa dari warganet. Kolom komentarnya dipenuhi rasa hormat dan haru. Banyak yang merasa malu sekaligus termotivasi melihat keikhlasan pria 35 tahun ini.
Di akhir bincang-bincang, Anwar menitipkan sebuah harapan besar yang ia gantungkan kepada seluruh masyarakat. Ia sadar, dua tangan miliknya tidak akan pernah cukup untuk membersihkan seluruh kota jika ego masyarakat masih tinggi.
“Kepedulian terhadap lingkungan haruslah menjadi kegiatan kolektif yang tumbuh dari seluruh komponen warga di daerah yang kita cintai ini,” pungkasnya penuh harap.
Melalui Kantong Merah, Anwar telah mengajarkan kita satu hal: Untuk menjadi pahlawan bagi bumi, kita tidak perlu jubah—kita hanya perlu sedikit rasa peduli dan sebuah kantong plastik untuk memulainya.Di balik gerakan inspiratif akun TikTok “Kantong Merah” yang viral menyisir sampah di jalanan Kota Kendari, ternyata ada kisah perjuangan hidup seorang ayah yang luar biasa.
Sosok itu adalah Anwar (35), warga yang berdomisili di Jalan Sao-Sao, Lorong Patoro 1, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Di kehidupan sehari-hari, Anwar adalah seorang kepala keluarga, ayah tangguh dari dua orang anak yang masih kecil. Demi menghidupi keluarganya, ia melakoni hidup sebagai wiraswasta sekaligus buruh pengantar orderan.
Setiap hari, di sela-sela peluh mencari nafkah dan memacu sepeda motornya demi mengantarkan pesanan pelanggan, Anwar selalu meluangkan waktu melakukan aksi mulia: melintas sambil memungut sampah di jalanan umum Kendari.
Memulung Sampah di Sela Mengantar Orderan
Bagi Anwar, kesibukan mencari sesuap nasi untuk kedua buah hatinya tidak menjadi alasan untuk bersikap masa bodoh terhadap lingkungan. Sambil mengantar orderan, matanya tetap jeli melihat plastik atau botol bekas yang berserakan. Ia berhenti, memungutnya, dan memasukkannya ke kantong merah yang selalu siap menampung sisa ego manusia.
Semua itu ia lakukan demi mendukung program pemerintah: Kendari Tanpa Sampah, Kendari Tanpa Banjir.
“Satu sampah yang terbuang sembarangan, adalah awal dari satu bencana,” ujar Anwar lirih saat ditemui di rumahnya di Lorong Patoro 1.
Filosofi Ayah untuk Masa Depan Anaknya
Sebagai buruh pengantar orderan, Anwar tahu betul rasanya tidak dihargai, sama seperti filosofi “Kantong Merah” yang ia pegang teguh:
“Kantong plastik merah jarang dipuji saat bersih, bahkan sering dicampakkan saat kosong. Namun, ia adalah hal pertama yang panik dicari orang ketika mereka punya kotoran yang harus dibawa. Kadang, menjadi berguna jauh lebih penting daripada sekadar menjadi pajangan yang indah.”
Lewat filosofi ini, Anwar tidak hanya ingin membersihkan jalanan Kendari, tetapi juga sedang menanamkan warisan terbaik untuk kedua anaknya. Ia ingin anak-anaknya tumbuh melihat bahwa sang ayah bukan sekadar buruh, melainkan sosok yang melangkah dengan martabat dan kegunaan nyata bagi bumi.
Liputan: Hamid
Editor: Rosmiaty



































