SULTRALINE.ID, KENDARI – Tak dapat dipungkiri jika ayam kampung menjadi salah satu hewan yang paling populer dijadikan santapan bagi masyarakat. Ayam kampung juga dikenal dengan sebutan ayam buras, yang merupakan salah satu jenis ternak yang sangat dekat dengan masyarakat. Produk yang dihasilkan berupa daging dan telur. Produk peternakan terutama daging dan telur merupakan komoditas pangan hewani yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas konsumsi pangan, khususnya di Kota Kendari. Komoditas unggas khususnya ayam kampung mempunyai prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk unggas berupa daging dan telur yang disukai oleh masyarakat Kota Kendari. Komoditas ini merupakan pendorong utama penyediaan protein hewani di Kota Kendari, sehingga prospek yang cukup baik ini harus dimanfaatkan peternak melalui pemanfaatan sumberdaya secara optimal melalui model pemberdayaan. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam rangka menciptakan peluang dalam usaha pengembangan ayam buras.
Ketua TIM PKM-I Peternakan UHO mengungkapkan bahwa “Permasalahan yang dihadapi peternak, adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman peternak mitra tentang konsep seleksi ternak bibit ayam kampung, Penetasan telur ayam masih mengandalkan pengeraman alami oleh induk, pengembangbiakan kawin alam, sehingga jumlah populasi yang dipelihara peternak relatif rendah/terbatas, peternak belum memahami cara formulasi ransum yang memenuhi standar baku mutu yang baik melalui pemanfaatan sumberdaya pakan lokal yang lebih murah” Ungkap Musram (31/10/2020).

Strategi pemeliharaan ayam buras perlu diarahkan pada tujuan sistem yang jelas, misalnya sebagai penghasil daging (usaha pembesaran), penghasil ayam bibit, dan telur konsumsi atau tujuan komersial dengan memanfaatkan bahan pakan lokal dalam penyusunan ransum. Rendahnya adopsi teknologi peternakan yaitu kurangnya tingkat pengetahuan, keterbatasan tenaga, terbatasnya modal produksi, lemahnya sistem pasar dan lemahnya prasarana produksi. Sehingga dengan keadaan seperti ini mengakibatkan sistem pemeliharaan ayam buras yang dilakukan pada umumnya masih bersifat tradisional. Bentuk kendala lain adalah kurang tersedianya bibit unggul, rendahnya kemampuan peternak dalam mengidentifikasi penyakit, keterbatasan dalam penyediaan pakan serta tidak menguasai pemasaran.
Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peternak maka dilakukan pemberdayaan kelompok tani-ternak oleh Tim PKM-I Peternakan UHO untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengembangkan usahanya melalui introduksi teknologi tepat guna seperti penggunaan mesin tetas, sistem perkandangan yang baik, penanganan dan pengendalian penyakit dan pembuatan pakan fermentasi serta strategi pemasaran dan promosi produk melalui pasar modern dan warung makan yang menjadi konsumen potensial.

Musram menambahkan bahwa “Pada kegiatan PKM-I ini, kami bersama Tim melakukan kegiatan penyuluhan dan bimbingan teknis yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak. Berupa kegiatan sosialisasi program PKM-I UHO, penyuluhan tentang potensi pengembangan ayam kampung sebagai sumber pendapatan di Era New Normal Covid-19, prinsip dasar seleksi bibit unggul calon pejantan dan indukan hasil persilangan, manajemen sanitasi dan kesehatan ternak dan bimbingan teknis tentang penyusunan pakan fermentasi berbasis bahan baku lokal, pembuatan mesin tetas ekonomis serta inseminasi buatan (IB) pada ayam kampung” Tambah Musram.

Dalam pencarian calon bibit, oleh peternak hanya didasarkan pada penilaian tampilan luar saja, sehingga sering terjadi kesalahan dalam pemilihan calon bibit yang akan dipelihara. Dampaknya, terlihat dari produktivitas ternak yang tetap rendah walupun ada upaya-upaya perbaikan pakan dan tatalaksana lainnya. Persoalan tersebut muncul, kemungkinan karena kurangnya pengetahuan tentang teknik seleksi untuk calon bibit ayam kampung yang akan dikembangkan berdasarkan konsep pemuliaan ternak. Pada kegiatan ini, tim PKM-I Peternakan UHO melakukan bimbingan teknis metode seleksai calon pejantan dan indukan unggul.

Penentuan bibit ayam sangat tergantung dengan tujuan pemeliharaannya, jika pemeliharaannya untuk tujuan produksi daging, maka bibit yang harus dipelihara adalah bibit yang mampu menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi, namun jika tujuan pemeliharaannya untuk produksi telur dan DOC, maka bibit pejantan dan indukan yang harus dipilih adalah bibit yang memiliki performan produksi telur yang baik. Bibit untuk pejantan dan indukan yang berkualitas harus melalui proses seleksi secara ketat dan berkesinambungan, hingga diperoleh induk dan jantan yang memiliki kualitas genetik yang baik. Ayam kampung yang baik pada ayam jantan bentuk tubuh lonjong, bentuk kaki tegap dan proposional, jengger berwarna merah berukuran sedang, pial berwarna merah berukuran sedang dan muka merah segar. Pada ayam betina memiliki bentuk tubuh segi empat, bentuk kaki tegap, jengger berwarna merah berukuran kecil, pial berwarna merah berukuran kecil dan muka merah segar.
Teknologi reproduksi yang dikenalkan kepada peternak adalah teknologi inseminasi buatan dengan metode kawin suntik agar dapat meningkatkan produksi telur yang fertil untuk mendapatkan keturunan yang baik. teknologi inseminasi buatan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung. Fertilitas merupakan suatu kondisi yang menunjukkan kesuburan dan kemampuan induk untuk menghasilkan keturunan. Inseminasi juga dapat digunakan untuk memaksimalkan penggunaan pejantan, serta mencegah penularan penyakit.
Pakan juga merupakan salah satu unsur utama yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas usaha ayam kampung. Pakan dapat memberikan proporsi biaya usaha yang cukup tinggi dibandingkan dengan biaya-biaya lainnya, sehingga penggunakan pakan pada pemeliharan ayam kampung perlu diperhitungkan dengan baik, terutama penggunaan bahan-bahan pakan lokal yang ada disekitar usaha tersebut, karena kebutuhan biaya untuk pakan sangat tinggi, yaitu dapat mencapai 70% dari total biaya produksi.
Rendahnya pengetahuan dan keterampilan peternak dalam menyusun ransum ayam kampung akan memberikan dampak terhadap rendahnya pendapatan peternak, oleh karena itu, upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peternak maka perlu dilakukan penyuluhan tentang tata cara atau metode membuat pakan yang baik dari bahan-bahan lokal.
Bimbingan teknis dan penyuluhan yang dilakukan dapat memberikan pengetahuan tentang pakan ternak ayam kampung yang terdiri dari campuran berbagai macam bahan, baik organik maupun anorganik yang diberikan kepada ternak guna memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan serta reproduksi. Untuk keperluan tercapainya pertumbuhan dan produksi yang maksimal maka perlu tersedia pakan yang memadai, baik jumlah maupun kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak. Pakan yang diperkenalkan kepada peternak adalah pakan fermentasi yang bersumber dari bahan baku lokal sehingga lebih eknomis.
Selain bibit dan pakan yang baik, sanitasi kandang dan kesehatan ternak pada ayam kampung merupakan salah satu faktor keberhasilan usaha ternak ayam kampung. Sanitasi wajib dilakukan, biasanya dilakukan sebelum ternak dimasukkan dalam kandang yang bertujuan untuk mematikan bibit-bibit penyakit yang ada dalam kandang.
Bimbingan teknis dan penyuluhan sanitasi dan kesehatan ternak kepada peternak ayam kampung dilakukan agar para peternak memiliki pengetahuan tentang tata cara penanganan sanitasi kandang dan pencegahan penularan penyakit pada ternak ayam kampung yang dipeliharanya.
Untuk meningkatkan percepatan populasi pada ayam kampung, Tim PKM-I Peternakan UHO juga mengenalkan teknologi mesin tetas buatan. Penetasan alami dirasa kurang efektif dalam menetaskan telur karena satu induk hanya bisa mengerami sekitar 10 butir telur, sedangkan penetasan buatan mampu menetaskan jumlah telur dalam jumlah ratusan bahkan ribuan butir, tergantung kapasitas tampung mesin tetas. Untuk mengatasi hal tersebut maka kegiatan dilakukan dengan bimbingan teknis pembuatan mesin tetas guna mengurangi indukan yang tidak memiliki sifat asih dan asuh pada anaknya. Selain itu dengan adanya mesin tetas dapat memberikan usaha tambahan sebagai peningkatan pendapatan rumah tangga melalui penjualan DOC ayam kampung.
Dalam kegiatan bimtek tersebut melibatkan sejumlah dosen yang memiliki kompetensi ahli pada bidang Agribisnis Peternakan Musram Abadi, S.Pt., M.Si selaku Ketua TIM, Bidang pemuliaan ternak Dr. Ir La Ode Nafiu, M.Si, Bidang Kesehatan ternak drh. Restu Libriani, untuk tenaga teknis penyusunan pakan fermentasi didampingi oleh Asma Bio Kimestri, S.Pt.,M.Sc, inseminasi buatan didampingi oleh Rusli Badaruddin, S.Pt., M.Si, sedangkan untuk pembuatan mesin tetas didampingi oleh Muh Darmawansya, S.Pt selain dari Tim dosen juga melibatkan beberapa mahasiswa Fakultas Peternakan UHO.

Penyuluhan dan bimbingan teknis kepada peternak dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat seperti tokoh masyarakat, pemuda dan aparat pemerintah kecamatan/keluarahan. Kegiatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan program PKM-I sehingga terbangun komunikasi yang baik antara tim pengabdian, kelompok peternak mitra, pemerintah setempat dan masyarakat sekitar.
“Harapannya melalui kegiatan PKM-I ini berdampak pada perubahan perilaku beternak, yang berorientasi agribisnis dengan melakukan perbaikan manajemen pemeliharaan pada ayam kampung sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan peternak di Era New Normal Covid-19 ini” Tutur Musram.
Laporan : Jasman



































