SULTRALINE.ID-KENDARI —
SULTRALINE.ID-KENDARI — Ratusan mahasiswa, lintas jurusan, dan insan media berkumpul di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari dalam kegiatan Bawaslu Campus Connect bertema “Generasi Digital, Demokrasi Transparan.”
Kegiatan ini digelar sebagai ruang edukasi sekaligus kolaborasi antara Bawaslu dan perguruan tinggi untuk memperkuat literasi digital, nalar kritis, serta partisipasi generasi muda dalam menjaga demokrasi Indonesia.
Dipandu Ilham.S,H.M.H, kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Bawaslu RI Dr. Puadi, S.Pd., M.M. yang menyampaikan sambutan secara daring melalui Zoom.
Dalam pesannya, Puadi menegaskan bahwa kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga merupakan benteng demokrasi berbasis pengetahuan.

Menurutnya, demokrasi yang sehat tidak cukup hanya mengandalkan regulasi dan lembaga negara. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keberanian berpikir kritis, kebebasan akademik, serta kemampuan membedakan fakta dan manipulasi.
“Demokrasi yang sehat tidak lahir secara kebetulan. Ia membutuhkan nalar kritis, kebebasan akademik, partisipasi warga negara yang aktif, serta kemampuan masyarakat untuk membedakan antara fakta dan manipulasi.”
Pesan tersebut menjadi sangat penting di tengah perkembangan teknologi yang membuat informasi menyebar begitu cepat. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga manipulasi informasi dapat membentuk opini publik hanya dalam hitungan detik.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus mampu menjadi penjaga kebenaran di ruang digital.
Puadi mengajak generasi muda untuk membiasakan diri tidak langsung percaya terhadap informasi yang beredar.
Bukan hanya bertanya, “Apakah informasi ini menarik?”, tetapi juga harus bertanya, “Apakah informasi ini benar dan apa buktinya?”
Menurutnya, inilah bagian penting dari critical digital citizenship, yakni membangun budaya kewargaan digital yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab.
Puadi berharap Bawaslu Campus Connect tidak berhenti sebagai kegiatan sosialisasi. Ia ingin kampus berkembang menjadi laboratorium demokrasi, tempat mahasiswa dan akademisi dapat melakukan riset kepemiluan, mengembangkan inovasi teknologi, melakukan fact-checking, memetakan risiko pemilu, serta memperkuat pengawasan partisipatif.
Transformasi digital, katanya, juga harus mengubah cara pengawasan pemilu dilakukan.
Teknologi tidak boleh hanya digunakan untuk mempercepat administrasi, tetapi harus mampu membantu Bawaslu membaca potensi pelanggaran, mengidentifikasi risiko, mengelola data, serta memperluas partisipasi masyarakat.
Namun, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat.
Tujuan akhirnya bukan kecanggihan teknologi, melainkan meningkatnya transparansi, kualitas pengawasan, partisipasi masyarakat, dan kepercayaan publik terhadap demokrasi.
Pesan tentang pentingnya peran generasi muda juga mengemuka dalam diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. H. M. Najib Husain, S.Sos., Dr. Sitti Rakhman, S.P., M.M., Asri Syarif, S.H., M.H., dan Arafat, S.E., M.M.
Prof. Najib Husain menegaskan bahwa masa depan demokrasi berada di tangan pemuda. Generasi muda merupakan kelompok penting dalam menentukan arah bangsa, bukan hanya melalui hak pilih, tetapi juga melalui kemampuan menggunakan teknologi, mengawasi pemerintahan, menyuarakan keadilan, dan menjaga keterbukaan informasi.
Sementara itu, para narasumber lainnya mengingatkan pentingnya transparansi politik, prinsip Luber dan Jurdil, etika bermedia sosial, kesadaran terhadap konsekuensi hukum di ruang digital, serta peluang transformasi menuju sistem pemilu berbasis digital.
Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan hanya urusan pemerintah, penyelenggara pemilu, atau lembaga pengawas.
Dan di era digital, generasi muda memiliki posisi yang sangat menentukan. Dari ruang-ruang kampus seperti UHO, lahir harapan agar anak muda tidak menjadi generasi yang mudah percaya, mudah menyebarkan informasi, atau mudah terprovokasi.
Sebaliknya, mereka diharapkan menjadi generasi yang berani memeriksa fakta, menghargai perbedaan, menggunakan teknologi secara bijak, dan berani menjaga kebenaran.
Liputan: Bahri Ari
Editor : Titah



































