SULTRALINE.ID, KENDARI – Dalam masa pendemi Covid 19 ketakutan kita tidak hanya berkutat pada pada virus corona, ada ketakutan yang lebih besar lagi yaitu pada pemegang otoritas kekuasaan atau pemangku kebijakan dan nyatanya terjadi pada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah ( FORKOPIMDA ) Provinsi Sulawesi Tenggara ( Sultra ) telah menyetujui rencana kedatangan 500 Tenaga Kerlja Asing (TKA) Asal china di kawasan industry kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe.
Hal ini di sepakati usai rapat kordinasi (Rakor) Bidang Ketenagakerjaan di aula Merah Putih. Rumah jabatan Gubernur Sultra ( Sultra ). Jumat 12 Juni 2020 lalu . Hal tersebut seakan sebagai momok yang menakutkan untuk masyarakat apa lagi masih proses pencegahan dan penanganan Virus Corona ini. Sungguh ironis , kita sangat di buat cemas dan respon pemerintah dalam situasi pendemi ini. Mereka seolah menempatkan wabah ini sebagai peluang untuk kepentingan kelompok dengan otoritas yang mereka miliki untuk meraup keuntungan sebanyak banyaknya.
Rasmin jaya selaku pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Halu Oleo (UHO) bidang menteri kajian b dan advokat pergerakan mahasiswa menyoroti, Pemerintah Provinsi Sulawesi justru memanfaatkan pendemi ini dengan berupaya dan terus memaksakan keadaan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sebesar besarnnya dan peluang pasar untuk melanggengkan kapitalime atau pemilik modal mengeruk hasil kekayaan SDA dan masyarakat sulawesi tenggara kita di himbau untuk tidak takut dan resah tetapi gambaran realitasnya kita membawa kesadaran lain untuk ragu bahkan tidak percaya terhadap tindakan kekuasaan atau pemangku kebijakan hari ini seperti Guberbur Sulawesi Tenggara yang kadang kadang kontraversi pernyatanya terhadap 500 TKA asal china .
“Apa yang saya lihat dan ingin saya katakan bahwa sesungguhnya yang menjadi garda terdepan untuk mengatasi setiap ancaman wabah bukanlah hanya di titip beratkan sama tenaga medis atau sebagian elemen masyarakat akan tetapi keputusan politik / pengambilan kebijakan. ketidakberpihakan keputusan politik ke masalah kesehatan warga atau hal hal yang di anggap penting mengakibatkan malapetaka atau mengakibatkan banyak korban yang berrjatuhan akibat wabah yang terus menjangkit, kurangnya peralatan kesehatan , kurangnya penyediaan pangan dan sembako dann tenaga medis juga bekerja dengan perlengkapan yang tidak aman,” ungkapnya, Rabu (17/6/2020).
Menurutnya, Jika pemerintah Sulawesi Tenggara sejak awal membuat keputusan politik secara tegas untuk mencegah persebaran Covid 19 dan melakukan penolakan terhadap Tenaga Kerja Asing ( TKA ) maka wabah ini tidak akan menjangkit banyak orang . Selain juga jika jauh jauh hari tersediah dana public untuk riset kesehatan dan untuk penyediaan perlengkapan medis maka persebaran virus akan lebih muda di atasi bahkan di cegah penularannya .
“Oleh karena itu permasalahan wabah dan masuknya TKA China seakan menjadi kombinasi yang menakutkan yang mengancam kehidupan manusia saat ini berkaitan erat dengan permasalahan kekuasaan atau pemegang pemangku kebijakan. Apalagi dengan semakin banyak pembukaan lahan tambang akan semakin merusak habitat alami patogen adalah akibat keputusan politik juga yang memberikan akses bagi pembabatan hutan untuk di jadikan arena pertambangan . hal ini semena sema dapat mengancam ruang hidup manusia bahkan ekologi , inilah yang tidak di lihat dari sisi kemanusiaanya Analisis Dampak Lingkunganya ketika terus terusan mengizinkan TKA masuk di provinsi Sulawesi tenggara,” cetusnya.
Tak berhenti disitu, masih kata Rasmin Jaya, Pemahaman tentang hubungan antara Wabah, TKA dan keputusan politik pengambil kebijakan membawa masyarakat secara spontan menyatakan ketidakpercayaanya kepada kelas penguasa khususnya Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi. “Oleh karenannya kita perlu bertanya . apa yang membuat pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan tindakan yang mengabaikan pencegahan penyebaran Wabah hingga menggangap wabah kini tidak menjadi masalah yang serius dan sebagai pemegang otoritas kekuasaan lebih mengdepankan kepentingan pribadi di banding rasa kemanusiaan demi menjaga stabilitas perekonomian di banding keselamatan Masyarakat sulawesi Tenggara,” katanya.
Rasmin lagi berujar, ternyata banyaknya korban yang terdampak tidak lantas tidak menyadarkan kelas penguasa terntang pentingnya mengedepankan langkah langkah kemanusiaan. Kelas penguasa memiliki hukum berpikir dan bertindak sendiri tergantung kelas sosial mana yang secara dominan mempengaruhinya dan hal tersebut tak lagi dari seorrang penjilat . Sungguh , tarik ulur kepentigan tumbuh subur di tengah pendemi ini . Apalagi bagi para pemodal dan investor dengan tetap menjalankan aktivitas ekonomi dan penambangan di tengah wabah memungkinkan mereka untuk terus berakumulasi , mengeksploitasi seluruh kekayaan alam yang ada di bumi anoa sulawesi tenggara ini .
“Sehingga dalam carut marutnya ketakutan karena Covid 19 para penguasa bahkan sebagian kelompok terjebak dalam konflik kepentingan sehingga tidak mengedepankan lagi asas kemanusiaan yang semestinya menjadi prioritas. Dominannya kekuatam modal dari TKA China dalam tempat pengabilan keputusan membuat hasil dari kebijakan pemerintah lebih banyak searah dengan kepentingan pemodal . Hal Ini nampak dari beberapa hari yang lalu dengan semangat menarik investor / TKA sebanyak banyanya untuk laju pertumbuhan dan perkembangan perekonomian tetapi hal tersebut mengesampingkan entitas entitas lain semestinya itu berharga untuk kelanjutan hidup umat manusia seperti hutan , udara , hal tersebut perlu di jaga agar tidak tercemari,” paparnya.
Kelas penguasa tak akan betul betul paham, Kekacauan akibat krisis ekonomi tidak akan akan di inginkan oleh mereka penguasa siapapun karena dia akan berpegang teguh pada modal sebagai investasinya dan apabila itu tidak berjalan maka kerugian akan di alaminya. Pada konteks ini nampaknya kita akan sudah mulai melihat berbagai parodi kekuasaan yang bertujuan membuat suasana tetap kondusif sembari tetap menjalankan kepentingan ekonomi sungguh ironis.
“Teater parodi kekuasaan pada kenyatannya kental muatan politis dan inilah yang selalu menjadi kekhawatiran buat kita semua masyarakat khususnya Sulawesi Tenggara. Dorongan akumulasi dan masuknya TKA tidak hanya membawa ancaman wabah semakin dekat dengan manusia bahkan lebih jauh lagi merapuhkan kekebalan tubuh sosial , pengangguran struktural , ketimpangan struktural bahkan ekologi akan menjadi ancaman bagi kita semua,” tukasnya.
Dan tak lupa juga Ketua Bidang Mentri Kajian Advokasi Dan Pergerakan Mahasiswa inj bertutur bahwa banyak orang mengira ketidakmampuan kekuasaan dalam menangani bencana Covid 19 ini adalah sebagai tragedi namun jika kita melihat lebih jeli dan kritis ketidakmampuan itu adalah klelucon apa lagi dengan wacana masuknya TKA lagi , karena kita seolah tidak pernah belajar dari kegagalan sebelumnya .
“Olehnya itu kita di hadapkan dengan dua pilihan berubah atau musnah, jika kita tetap mempertahankan sistem ekonomi dan politik yang berlangsung saat ini maka kehancuran Bumi Anoa Sulawesi Tenggara semakin dekat sementara jika kita berupaya mengubah sistem ekonomi dan politik yang berpihak pada kemanusiaan dan lingkungan hidupnya maka kita akan terhindar dari marabahaya dan lebih dari itu kita akan mengentikan kebrutalan modal yang akan menghancurkan bumi. Hal ini yang sepatutnya kita jaga bersama dan terus menggalang kekuatan massa agar bumi kita lekas pulih dari berbagai ancaman supaya masyarakat biusa hidup berdampingan lagi aman , damai dan tentram. Jika penguasa tak betul sadar tunggu kemarahan rakyat akan terus mengkristal dan terakumulasi hingga menjadi ledakan besar sebab perjuangan tak akan pernah berhenti sampai keadilan di tegakan setegak tegaknya,” tutupnya.
Laporan : TIM



































