SULTRALINE.ID, – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Watorumbe, Kecamatan Mawasangka Timur, Kabupaten Buton Tengah. Kegiatan ini difokuskan pada pemanfaatan bubu ramah lingkungan dan pelatihan olahan abon ikan sebagai bagian dari strategi mendukung implementasi ekonomi biru di wilayah pesisir.
Tim PKM ini diketuai oleh Ramad Arya Fitra, S.Pi., M.Si., yang juga Dosen Program Studi Ilmu Kelautan FPPP USN Kolaka. Tim turut diperkuat oleh Agus Riyadin, S.Si., M.Si., dosen Fakultas Sains dan Teknologi, serta Surianto Ilham, SE., M.Acc., Ak., CA., dosen Akuntansi dari Fakultas FISIP. Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan dapat memberikan solusi menyeluruh, mulai dari aspek teknologi tangkap, pengolahan hasil, hingga manajemen usaha.
Kegiatan PKM berlangsung sejak September hingga Agustus dengan melibatkan langsung anggota Kelompok Balaki Jaya. Selama periode tersebut, tim tidak hanya melakukan transfer teknologi alat tangkap, tetapi juga melakukan pelatihan pembuatan bubu ramah lingkungan berbahan rotan. Pelatihan ini memberikan keterampilan baru kepada nelayan agar mereka dapat membuat sendiri bubu yang kuat, tahan lama, namun tetap ramah terhadap ekosistem laut.
Ramad menjelaskan bahwa Desa Watorumbe merupakan desa pesisir dengan mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan tradisional. Selama ini mereka masih menggunakan alat tangkap sederhana yang hasilnya terbatas. Oleh karena itu, tim PKM memperkenalkan bubu ramah lingkungan yang tidak hanya meningkatkan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga kelestarian ekosistem laut.
“Ekonomi biru menekankan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan. Bubu ramah lingkungan ini dirancang dengan banyak pintu masuk, efektif menangkap ikan bernilai tinggi, dan tetap selektif sehingga tidak merusak ekosistem. Inilah bentuk nyata penerapan prinsip ekonomi biru di tingkat nelayan tradisional,” jelas Ramad.

Sementara itu, Ketua Kelompok Balaki Jaya, Egermen, S.Pi., mengungkapkan bahwa nelayan merasakan langsung manfaat dari penggunaan bubu ramah lingkungan.
“Dengan adanya bubu, hasil tangkapan meningkat, terutama ikan-ikan bernilai tinggi seperti kerapu dan kakap merah. Di pasaran, kerapu segar bisa dijual Rp70 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram, begitu juga kakap merah yang harganya bisa mencapai Rp90 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram. Hal ini jelas meningkatkan pendapatan nelayan sekaligus mendorong pola tangkap yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Egermen menegaskan bahwa pendapatan kelompok kini lebih stabil karena hasil tangkapan tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga untuk dijual ke pasar lokal maupun pemasok.
“Ikan-ikan mahal ini menjadi sumber ekonomi baru bagi kami. Bahkan, beberapa anggota kelompok sudah bisa menabung untuk memperbaiki perahu dan membeli perlengkapan melaut,” tambahnya.
Tak lupa juga Ramad menambahkan, tidak hanya fokus pada teknologi tangkap, Tim PKM USN Kolaka juga memberi perhatian pada pemberdayaan ibu-ibu nelayan.
Selama ini, banyak ibu-ibu di Desa Watorumbe hanya beraktivitas di rumah tanpa kegiatan produktif. Melalui pelatihan pembuatan abon ikan, mereka kini memiliki keterampilan baru untuk mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.
“Pelibatan perempuan dalam rantai nilai perikanan juga bagian dari konsep ekonomi biru. Dengan melatih ibu-ibu membuat abon ikan, maka nilai tambah produk meningkat, pasar semakin luas, dan peran perempuan dalam mendukung ekonomi keluarga semakin nyata,” pungkasnya Ramad Arya Fitra.
Editor: Irdwan Jeko



































