SULTRALINE.ID, KONAWE SELATAN – Komoditas kerbau memiliki potensi cukup besar sebagai penghasil daging, tenaga kerja dan sumber pupuk organik untuk mendukung pengembangan sektor pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Akan tetapi ternak ini kurang mendapat perhatian serius, tidak saja dari pemerintah daerah Konawe Selatan, tetapi juga peternak dan masyarakat. Minat dan animo peternak untuk mengembangkan usaha ternak kerbau sangat rendah. Demikian pula dengan masyarakat sebagai konsumen daging kerbau makin kurang peminat, sehingga permintaan daging kerbau makin hari makin berkurang.
Berdasarkan data BPS, populasi kerbau di Konawe Selatan pada tahun 2020 tinggal berjumlah 260 ekor, dimana pada tahun 2014 populasi kerbau masih sekitar 1.000 ekor. Dalam kurun waktu enam tahun mengalami penurunan sebesar 74% dengan angka penurunan rata-rata 12,33% per tahun.
Tim dosen Fakultas Peternakan UHO, Prof Nafiu menjelaskan bahwa Permasalahan utama yang dihadapi dalam rangka budidaya ternak kerbau di Konawe Selatan adalah tingkat penuruan populasi yang sangat drastis dalam beberapa tahun terakhir. “Jika kondisi ini berlanjut dan tidak segera dilakukan tindakan penyelamatan, maka plasma nutfah kerbau di Konawe Selatan bisa punah” ungkap Ketua Senat FPt UHO ini, Senin 23 Oktober 2023.
Lebih jauh Prof Nafiu menjelaskan bahwa penurunan populasi kerbau yang demikian drastis di Konawe Selatan kemungkinan berhubungan sistem pemeliharaan yang masih dilakukan secara ekstensif tradisonal, hal ini juga terjadi dibeberapa wilayah seperti di Pulau Kabaena dan kawasan Poleang Kabupaten Bombana.
“Selain itu pula, dari aspek morfomerik (bobot badan dan ukuran dimensi tubuh) mengindikasikan pertumbuhan yang lambat, sehingga memperpanjang waktu pencapaian umur pubersitas dan dewasa kelamin” Ungkapnya.
Ia menegaskan sebagai upaya meningkatkan populasi harus diawali dengan ketersediaan data kondisi terkini mengenai kegiatan budidaya ternak kerbau di daerah setempat, sebagai dasar dalam menentukan kegiatan tepat dan prioritas yang akan diterapkan.
“Informasi dasar yang penting untuk pengembangan populasi kerbau diantaranya manajemen pembibitan yang terkait langsung dengan sistem pemeliharaan, karakteristik pakan dan reproduksi serta karakteristik morfologi dan morfometrik,” tukasnya.


Sementara itu, Prof. Takdir menambahkan bahwa Pemeliharaan kerbau di Konawe Selatan masih dilakukan secara ekstensif tradisional. Kerbau dilepas bebas di daerah rawa sepanjang waktu, tanpa ada campur tangan peternak dalam mengatur sistem perkawinan, perkandangan, penyediaan pakan, apalagi terkait dengan perbaikan mutu genetik.
“Kondisi yang demikian menyebabkan rendahnya laju reproduksi, pertumbuhan lambat, terlambat mencapai puberitas dan dewasa kelamin, hingga pada akhirnya populasi kerbau akan semakin berkurang jika terus-menerus dibiarkan,” ujarnya.
Prof. Takdir juga menjelaskan bahwa salah satu upaya meningkatkan populasi ternak adalah perbaikan manajemen pembibitan. Dalam pengertian luas, pembibitan ternak adalah kegiatan budidaya untuk menghasilkan keturunan atau produksi anak, sedangkan dalam pengertian sempit pembibitan ternak adalah kegiatan budidaya untuk menghasilkan bibit unggul sesuai standar minimal yang ditetapkan.
“Harapannya dengan melalui manajemen pembitan yang baik dapat meningkatkan populasi ternak kerbau,” cetus Direktur Pasca Sarjana UHO ini.
Pengembangan ternak kerbau di Konawe Selatan memiliki peran penting untuk meningkatkan populasi ternak kerbau di provinsi Sulawesi Tenggara.
Musram Abadi selaku tim ahli agribisnis peternakan juga menambahkan, bahwa Pengembangan ternak kerbau di Kabupaten Konawe Selatan cukup potensial karena didukung oleh ketersediaan lahan (terutama rawa) yang cukup luas, sumber pakan berupa hijauan dan hasil ikutan pengolahan hasil pertanian dan perkebunan cukup tersedia serta pemeliharaannya bisa terintegrasi dengan usaha tani tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan.
“Namun, potensi tersebut tidak mempunyai arti bagi pertumbuhan dan perkembangan daerah jika tidak adanya upaya dalam pemanfaatan dan pengembangan potensi secara optimal. Budidaya kerbau belum sebaik budidaya sapi, namun usaha ternak kerbau memberikan kontribusi positif terhadap penyediaan daging dan meningkatkan pendapatan petani maupun peternak” Ungkap Kepala Lab. Agribisnis Peternakan UHO itu.
Ia menambahkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) melakukan karakterisasi morfologi dan morfometrik plasma nutfah kerbau rawa di Kabupaten Konawe Selatan 2. Menganalisis penerapan manajemen pembibitan (pemeliharaan, perkawinan, karakteristik pakan dan reproduksi kerbau rawa di Kabupaten Konawe Selatan 3. Menyusun program penyelamatan plasma nutfah kerbau rawa di Kabupaten Konawe Selatan. Pelaksanaan penelitiaan ini akan dilaksanakan selama 3 bulan sejak 5 september- 30 November 2023 .
“Ucapan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu pelaksanaan penelitian dasar internal UHO dan program Bina Desa FPt UHO yaitu Kadis Peterkanan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Konawe Selatan Suardi, S.Pt., M.Si, Camat Mowila dan Camat Angata, Kapolsek Mowila dan Penyuluh Pertanian Kecamatan Mowila dan Kecamatan Angata, sehingga kendala-kendala selama kegiatan berlangsung dapat teratasi,” pungkasnya.
Sebagai informasi tambahan penelitian ini melibatkan beberapa dosen diantaranya Prof. Dr. Ir. H. La Ode Nafiu, M.Si., IPU., ASEAN Eng, Prof. Dr. Ir. H. Takdir Saili,M.Si, Musram Abadi, S.Pt., M.Si. dan melibatkan 7 mahasiswa FPt UHO yakni Alim Abid Muin, Roy Sarvin, Halim Said, Nur Nilam Sari, Jumarni, Afdal Irawan dan Aprilian Yusuf.
Laporan: Jasman CJSL
Editor: Irdwan Jeko



































