Indonesia ialah salah satu negara yang mempunyai potensi wisata yang beragam, karena terdapat berbagai suku bangsa yang berbeda-beda sehingga dapat menciptakan dan mengembangkan industri pariwisata. Bagi Indonesia, industri pariwisata merupakan peluang yang tidak dapat dilepaskan tanpa pengelolaan yang optimal. Pariwisata di Indonesia mulai tumbuh dan berkembang ditandai dengan munculnya beberapa perusahaan industry pariwisata yang memberikan prospek yang sangat menjanjikan bagi suatu wilayah atau Indonesia. saat ini, sektor pariwisata Indonesia berkontribusi untuk kira-kira 4% dari total perekonomian. Pada tahun 2019, Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan angka ini dua kali lipat menjadi 8% dari PDB (www.indonesia-investments.com). Ambisi pemerintah untuk meningkatkan perekonomian pada sector pariwisata merupakan langkah awal untuk melakukan pengembangan Obyek wisata.
Obyek wisata merupakan salah satu bagian dari peningkatan ekonomi di Indonesia yang kini banyak dikembangkan di berbagai daerah. Obyek wisata yang paling lama berkembang adalah obyek wisata yang menonjolkan keindahan alam, seni dan sosial-budaya. Keindahan alam dan ciri khas suatu objek wisata pada wilayah tertentu menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan, potensi ini menarik untuk digarap dan dikembangkan sesuai dengan perencanaan suatu daerah. Secara keseluruhan Indonesia sebagai negara agraris memiliki lahan pertanian, perkebunan, serta wilayah hutan/rimba yang sangat luas. Rangkaian wilayah tersebut dijadikan sebagai daya tarik tersendiri bagi kegiatan pariwisata. Peran Pemerintah setempatlah yang bekerjasama dengan pemerintah pusat untuk mengembangkan suatu wilayah yang didalamnya terdapat berbagai objek wisata. Objek wisata di Indonesia terdapat berbagai jenis wisata seperti: wisata Bahari, wisata pertanian, wisata konvesi, wisata alam, wisata Pendidikan, wisata religi, dan wisata cagar budaya.
Cagar budaya merupakan hasil kebudayaan masa lalu ribuan atau jutaan tahun silam. Pengelolaan terhadap objek wisata cagar budaya membutuhkan penanganan khusus agar tidak mengubah nilai yang dikandungnya. Seperti misalnya lukisan yang ada didinding gua tidak mungkin diperjelas dengan melukis ulang pada dinding gua tersebut. Lukisan tidak dapat serta merta dilukis ulang atau diperjelas dengan alat dan bahan zaman sekarang karena akan mengubah makna atau arti tertentu yang di buat dari hasil budaya masa lalu.
Berkaitan dengan pariwisata berbasis cagar budaya, secara khusus menyoroti pemanfaatan peninggalan sejarah yang dapat dibagi menjadi dua yaitu pemanfaatan secara fisik (pariwisata) dan pemanfaatan secara non fisik (berkaitan dengan makna kultural dan nilai luhur). Pariwisata berada diranah yang tepat dalam memanfaatkan agar budaya secara fisik sebagai faktor utama dibandingkan pemanfaatan secara non fisik. Secara non fisik pemanfaatannya akan lebih mengedepankan penyebaran informasi pengetahuan ataupun kajian penelitian kepada masyarakat langsung.
Namun jika dilihat dari beberapa objek wisata cagar budaya dibeberapa daerah/wilayah, peradaban tersebut cenderung tidak terkelola dengan baik sehingga mengakibatkan kerusakan pada cagar budayanya. Hal ini terjadi karena masih ada sebagian masyarakat yang belum paham tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai yang ada pada cagar budaya dan juga pemerintah belum terfokus pada peningkatan fasilitas dan pengembangan SDM yang mengelola objek wisata tersebut. Padahal kita ketahui Bersama bahwa peninggalan peradaban dimasa lampau bermanfaat sebagai situs warisan budaya bagi negara. Sehingga, perlu pelestarian sebagai upaya menyelamatkan warisan budaya tersebut.
Kabupaten Muna merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terdapat objek wisata cagar budaya yang peradabannya sejak prasejarah. Di Kabupaten Muna salah satunya desa Liangkabori Kecamatan Lohia dengan objek wisatanya terdapat berbagai situs-situs cagar budaya berupa cerut dan gua, yang didalamnya terdapat lukisan atau coretan prasejarah yang masih utuh dan ada sampai sekarang ini. Hal ini sebagai sector pembangunan dan pilihan utama untuk meningkatkan pendapatan daerah melalui cagar budaya objek wisata yang ada di Desa Liangkabori.
Adanya pengelolaan yang baik dari pemerintah diharapkan dapat meningkatkan manajemen pariwisata dalam rangka menarik wisatawan, baik domestic maupun wisatawan asing, sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli dari sector pariwisata. Sedangkan bagi masyarakat sekitar obyek wisata mempunyai pengaruh positif yakni adanya perluasan kesempatan kerja. Inilah yang membuat para pelaku wisata, berusaha menyediakan sarana dan prasarana yang vital dalam dunia pariwisata dan apabila perdagangan dunia pariwisata berjalan dengan baik, maka investasi juga dapat berjalan dengan baik.
Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pengelolaan objek wisata di Desa Liangkabori yaitu:
1. Membuat konsep perencanaan
Pengembangan wisata Desa Liangkabori
Konsep perencanaan adalah suatu konsep yang akan dilakukan oleh pihak pemerintah setempat baik itu daerah maupun tingkat desa yang berawal dari penentuan tujuan sampai pelaksanaan konsep. Dengan konsep perencanaan yang dibuat tersebut akan memudahkan dalam pelaksanaan sehingga memberikan arah pengelolaan yang lebih terstruktur sehingga tercapai tujuan bersama. Perencanaan dimulai dari menyatukan persepsi Bersama masyarakat misalnya sehingga pengelolaan dapa berjalan optimal tanpa ada kendala dari wilayah itu sendiri, karena akan sia-sia apabila melakukan pengembangan/pengelolaan objek wisata jika dari masyarakat setempat tidak sama dalam pemikiran untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan ekonomi melalui sector pariwisata.
2. Pemerintah menjadikan sektor pariwisata sebagai prioritas pembangunan daerah
Pemerintah sebagai lembaga eksekutor dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat untuk menjadi lebih baik melalui peningkatan ekonomi dari berbagai sector. Dalam hal ini di Kabupaten Muna yang berpotensi adalah sector pertanian, peternakan, dan sector pariwisata serta sector pendukung lainnya. Kenapa penulis menyatakan pemerintah harus menjadikan sector pariwisata sebagai prioritas pembangunan di kabupaten Muna, sebab berbagai objek wisata ada di wilayah tersebut baik itu wisata alam, wisata ziarah, wisata cagar budaya seperti Desa Liangkabori merupakan objek wisata paling tertua di dunia. Misalnya saja, lukisan layang-layang tertua didunia ada di Desa Liangkabori serta lukisan lain yang bercerita tentang kehidupan prasejarah. Jika potensi tersebut dijadikan sebagai prioritas pembangunan maka akan memberikan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.
3. Mengeksekusi Peluang
Penulis mengingat Kembali pernyataan rector UHO Prof. Dr. Zamrun F. S.Si., M.Si., M.Sc bahwa peluang ada dimana-mana dari berbagai sector namun yang kurang dari kita semua adalah mengeksekusi peluang tersebut. Jadi, sebagaimana pun rencana dan peluang yang ad ajika tidak dieksekusi maka tidak ada nilai manfaat apapun bagi suatu wilayah khususnya Kabupaten Muna. Olehnya, diharapkan pada semua khususnya pemerintah untuk sadar pada potensi ruang wilayah yang disediakan oleh Tuhan agar dikelola dengan baik demi kemanfaatan bersama, masyarakat, negara dan bangsa.
Penulis berkesimpulan Pembangunan yang berkelanjutan akan berjalan dengan baik jika pemerintah memiliki niat baik terhadap pengelolaan potensi dan peluang yang ada. Baik itu penyediaan anggaran, fasilitas, sarana-prasarana, peningkatan kualitas sumberdaya manusia serta aspek lainnya.
SULTRALINE.ID-KENDARI Dugaan kekerasan kembali menjadi sorotan setelah pemberitaan photo photo kekerasan beredar luas di media sosial yang di alami perempuan...
SULTRALINE.ID- KOLAKA Purwokerto, 1 Oktober 2026 — Kontingen Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka sukses meraih Juara Harapan II Kategori Stand...
SULTRALINE.ID–KENDARI Di tengah luka yang belum sepenuhnya pulih, seorang perempuan asal Kendari berusia 47 tahun, Wagiyem, kini harus menjalani perjuangan...