Oleh : Laode Muh Didin Alkindi (Ketua Forum Kajian Politik)
Politik merupakan alat yang mampu mewujudkan cita-cita ideologis kita.
Politik juga mempunya peran yang begitu besar dalam peradaban manusia.
Politik itu sendiri dapat di artikan sebagai suatu kegiatan warga negara dalam menciptakan dan menjalankan tujuannya demi terciptanya kebaikan bersama. Di dalam perkembangannya politik itu sendiri membawa sebuah perubahan besar di dalam kehidupan kita baik sosial, agama, budaya dan pendidikan.
Sehingga apa yang kemudian di cita-citakan oleh komunitas manusia atau di sebut dengan sebutan namanya adalah bangsa dapat di wujudkan melalui para aktor politik itu sendiri di dalam sebuah sistem nya. Sehingga dengan begitu mudah kita mengorganisir sebuah kepentingan untuk kemaslahatan umat.
Jika kita refleks kembali sejarah di masa lampau terkait dengan peran politik di dalam kehidupan kita, maka sungguh kita akan menemukan sebuah kesadaran betapa pentingnya kita harus mengetahui politik itu sendiri agar kita tidak termakan oleh politik. Janganlah malas untuk belajar politik agar kita tidak mampu dibodohi oleh para politikus.
Bahkan di dalam buku nurcholish madjid yang berjudul cita-cita politik islam menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad memberikan teladan nya terhadap politik dalam hal ini hubungan antara negara dan agama sehingga terciptanya negara madinah. Wujud historis dari sistem sosial-politik eksperimen madinah ini adalah, apa yang di kenal dengan “mitsaq Al-madinah”, (piagam madinah) atau konstitusi madinah. Konstitusi ini merupakan rumusan tentang prinsip-prinsip kesepakatan kaum muslimin madinah di bawah Rasulullah SAW dengan berbagai kelompok bukan muslim di kota Madinah itu, dengan tujuan untuk membangun masyarakat politik bersama.
Akan tetapi hal ini sangat lah berbanding terbalik di zaman modern sekang Atau yang kita kenal dengan Abad informasi Sehingga mengakibatkan pergeseran nilai, makna, kebenaran, pada politik.
Penyebabnya di dasari tidak adanya segmentasi yang kuat dalam melindungi entitas politik di di abad informasi sekarang, sehingga terjadi nya sebuah Kehancuran yang begitu luar biasa sehingga hal ini mengakibatkan krisis nya kepercayaan kita “masyarakat” terhadap politik itu sendiri.
Terlebih lagi di tambah banyak nya kebohongan publik yang di ciptakan oleh para penguasa dalam hal ini pejabat publik dalam menjalankan roda kepemimpinan nya selama menjabat di pemerintahan.
Semua adalah bagian dari tantangan zaman yang perlu di hadapi oleh pemegang kekuasaan ataupun para regenerasi sebagai penerus tongkat estafet kepemimpinan karena kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang di pegang oleh orang-orang yang baik pula.
Maka Perlu kiranya kita mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan zaman, tentu ini bukan lah sebuah hal yang mudah untuk kita hadapi, bagaimana kemudian kita harus bisa membentuk sebuah kepribadian yang baik yang tidak mudah tergoyahkan oleh sistem apapun.
Satu hal yang perlu kita pahami dalam sebuah perilaku seseorang bahwa ketika kita tidak memiliki kemampuan dalam bidang itu maka jangan berani kan diri anda untuk masuk kedalam nya.
karena salah satu penyebab atau permasalahan mendasar dari luluh lantak nya perpolitikan di negeri kita ini “indonesia” adalah karena para politikus kita dan pemimpinnya bukan lah orang-orang yang miliki arete sebagai negarawan.
Jika kita baca dari pisau analisis baru yaitu cultur studies, kenapa Cultur studies? Karena dalam sepak terjangannya politik sekang, maka politik bangsa kita sudah tidak bisa di baca hanya dari sekedar menggunakan teori-teori konvensional, karena banyak nya intrik dan strategi politik yang telah bersimbiosis dengan bidang lain, seperti media dan citraan.
Akibatnya hal ini melahirkan sebuah hasrat politik yang melampaui ambang batasnya, sehingga salah satu akibatnya adalah melahirkan sebuah dualisme politik, yakni normatif dan real politik, politik teoritis dan pragmatis.
Dualisme ini mempertentangkan antara etika politik dan politik sebagai pertarungan kekuatan dengan motif konflik kepentingan. Sehingga membuat politik tidak mampu menangkap lintasan-lintasan atau peleburan-peleburan cakrawala serta percampuran berbagai bidang kehidupan.
Berkutat pada persoalan ini politik terperangkap di dalam permainan bebas citra dan teks, penciptaan citra dan memanipulasi teks semata-mata di lakukan hanya untuk kekuasaan murni dengan menyembunyikan kebenaran itu sendiri dengan demikian politik kehilangan fondasinya.
Dalam tantangan abad informasi ini, kita perlu memperbaiki segala bentuk yang merusak moral bangsa terkhusus pada wilayah politik kita.
Negara perlu kira nya menciptakan sebuah formulasi baru di dalam sebuah sistem ini, agar wajah ganda politik tidak lagi nampak di kalangan masyarakat indonesia.
Wajah ganda ini memperlihatkan dirinya dengan sifat yang arif bijaksana sekaligus licik, sifat luhur sekaligus busuk; wajah yang jujur sekaligus penuh tipu daya; wajah humanis sekaligus anti humanis; wajah moralitas sekaligus wajah inmoralitas. Hal ini karena politik itu di bangun oleh aktor-aktor yang penuh dengan akal busuk,pikiran kotor, rencana jahat, skenario menakutkan sifat rakus dan hasrat yang tak terbendung ini lah yang di namakan politicum horribilis.
Saya berpendapat bahwa ketika hal ini terus terjadi di negara kita maka tidak ada lagi sebuah keadilan di negeri ini, maka salah satu cara untuk merubah semua itu tentu singkirkan para aktor-aktor politisi seperti itu dan juga mempersiapkan para regenerasi dengan mendidik mereka dengan pendidikan yang membangun, ini pula memberikan tanggung jawab kepada para pengajar di dunia pendidikan.
Banyak kasus yang terjadi di NKRI saat ini yang tidak lain di akibatkan oleh kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh para pemangku jabatan dalam hal ini, legislatif, eksekutif, dan yudikatif atau yang kita kenal dengan sebutan “Trias Politik”
Satu contoh adanya undang-undang revisi KPK yang orientasinya adalah untuk melemahkan KPK, hal ini sangat mungkin dengan kejadian beberapa bulan yang lalu bisa kita lihat sebuah penyeleksian keanggotaan KPK melalui Tes Wawasan Kebangsaan sangat memprihatikan. Hal ini di tunjukan dengan jumlah 51 orang yang di nyatakan tidak lulus dan 24 orang yang masih mempunyai potensi untuk lulus tapi harus melewati proses binaan kembali. Di dalam TWK itu sendiri banyak nya keganjalan yang di temukan oleh para anggota KPK itu, salah satu nya adalah bentuk pertanyaannya yang sangat tidak relevansi dengan kebangsaan. Terlebih lagi mereka yang di nyatakan tidak lolos adalah orang yang hari ini memegang kasus-kasus korupsi yang besar, seperti kasus bansos yang melibatkan Mentri sosial, dan juga kasus Harun Masiku yang sampai hari ini belum di proses.
Melihat konteks diatas menandakan bahwa negara kita hari ini sedang mengalami degradasi moral kekuasaan, yang mungkin saja ini di akibatkan karena sebuah kekuasaan murni yang di kejar tampa menyandarkan diri nya dalam fondasi dan pusat-pusat metafisika.
Marx di dalam teori ideologinya mengatakan bahwa ada 2 tataran yang harus di bangun di dunia politik yang bersifat hierarki saat ini.
1. Tataran super struktur yakni tataran ide, gagasan, konsep, kepercayaan dan keyakinan politik;bentuk kesadaran, ilusi tentang diri, melihat diri sendiri di dunia, kebiasaan berpikir. Atau konsepsi diri yang mengorganisir relasi-relasi abstrak di dalam masyarkat.
2. Tataran dasar yaitu eksistensi real manusia, relasi produksi real yang berkaitan dengan pengembangan produksi material, atau mode produksi yang khas sebuah masyarakat.
Kata marx ini adalah hirarki terbalik, bahwa tataran dasar yang menentukan super struktur, bukan sebaliknya sehingga ideologi sebuah masyarakat di tentukan oleh model dan relasi produksi yang di bangun di dalam sistem ekonomi yang bersifat determinan.
Tetapi ada yang kurang dari pandangan marx dalam membangun dunia politik hari ini, yang di zamannya belum mempunyai pengaruh penting yakni peran tanda komunikasi dalam menjembatani antara dunia ide dan dunia produksi di dalam masyarakat sekarang ini.
Dengan mempertimbangkan dunia tanda di dalam struktur ideologis di atas maka sesungguhnya ada 3 tataran yang menjadi landasan dunia politik di dalam membangun budaya politik di era informasi sekang ini.
Pertama, tataran ideologi atau yang di sebut Marx sebagai superstruktur, yaitu dunia ide gagasan, konsep, kepercayaan dan keyakinan politik yang menjadi fondasi daei setiap tindak politik.
Kedua, tataran tanda yaitu tataran pengemasan ide, gagasan, konsep, atau keyakinan politik ke dalam wujud tanda dan citra sebagai bagian dari dunia komunikasi politik. Karena di dalam abad informasi ini, tanda, citra, dan media komunikasi menjadi mekanisme pasif dalam menyampaikan gagasan-gagasan ideologi untuk menjembatani dunia ide dan dunia realitas.
Ketiga, tataran realitas yaitu dunia nyata tempat berlangsungnya berbagai aktifitas sosial-ekonomi yang di dalam skema ideologi Marx di sebut sebagai tataran dasar atau dunia relasi produksi.
Hal ini sangat menggambarkan kondisi budaya politik kita saat ini, sehingga apa di dalam relasi ketiga ini menciptakan sebuah otonomisasi dunia permainan, memanipulasi dan simulasi tanda ideologi tersebut. Yang seharusnya relasi gagasan-gagasan ideologis ini di giring kedalam dunia realitas untuk di implementasikan di dalam dunia realitas dan produksi sehari-hari.
Maka yang menjadi solusi nya untuk menghadapi budaya politik tersebut adalah kita perlu membangun pusat-pusat metafisika dan fondasi yang padanya setiap makna dan kebenaran bersandar. Di antaranya pusat-pusat metafisika adalah esensi, subtansi, eksistensi, subjek, humanitas, transendentalis, dan tuhan yang menjadi pembatas dan sekaligus penjamin atau penentu ahir setiap makna dan kebenaran.
“Jadikan agamamu sebagai fondasimu,
Jadikan ideologi mu sebagai tiangmu,
Dan jadikan politik mu sebagai atap mu.



































