SULTRALINE.ID, KENDARI – Cita-cita Pemilu dari tahun ketahun telah dikhianati oleh sebagian elit politik dari berbagai partai yang menjadi peserta pemilu dan dikhianati sendiri oleh mereka, mereka yang hadir di tengah rakyat untuk berjanji menjadi penyerapan aspirasi rakyat justru yang kini terlihat mereka menyerupai predator penghisap darah rakyat.
“Mereka menyusun peraturan hingga membahas anggaran daerah. Ini juga berwajah kemunafikan berselimut keprihatinan,” ungkap Riswan yang juga merupakan aktivis perkumpulan SeKAWAN Sultra.
Menurut Riswan situasi ini harus diubah baik dengan perubahan secara menyeluruh maupun dengan cara yang lebih mendasar misalnya di momentum pemilu ke depan nya dengan mengajak rakyat untuk menolak para politik yang pura pura merakyat dengan melihat jejak rekam perjalanan orang per orang pada pendekatan sosialnya dan ke keberpihakannya termasuk jejak hartanya, serta garis warisan politiknya.
“Kita harus lebih banyak mendukung orang orang baik di dalam parlemen. Dengan jalan itu ,pemilu mendatang bisa menjadi momentum perlawanan rakyat karena rakyat sudah muak dengan korupsi yang merajalela dan muak dengan janji-janji manis politik,” tegas Riswan.
Sekitar puluhan pentolan aktivis Sekawan hadir dalam pertemuan yang di kemas di acara dialog sultraline, baik dari perwakilan organ pemulung, becak, disabilitas dan beberapa perwakilan masyarakat lainnya.
Terlihat diantaranya aktivis tunanetra Junaid yang di daulat menjadi presenter di acara tersebut juga di hadir langsung eks aKtivis organizer becak sebuah organ demokratik yang selalu bergerak menentang orde baru melalui gerakan kaum miskin kota kala itu.
Dalam diskusi program dialog Obrolan Inspiratif itu Sahabuddin, S.Ip menjadi undangan pembicara juga merupakan eks pentolan aktivis dan buruh pelayan toko yang kini menjadi anggota DPRD Kota Kendari periode 2019-2024.

Diskusi itu terangkum bagaimana kedaulatan rakyat itu harus di perjuangkan melalui kekuatan besar dari rakyat, keprihatinan Sahabuddin dengan perjuangan kawan kawan nya yang tergabung di komunitas disabilitas tunanetra yang terus memperjuangkan lahirnya perda disabilitas terkhusus tunanetra.
Di kesempatan itu Sahabuddin akan terus berupaya untuk terlibat secara aktif di sisa waktu jabatannya “Insya allah kita kawal sama sama dan kita tidak boleh mundur,” ungkapnya.
Sementara itu ketua pemulung Sekawan Kendari Misdi di sela-sela diskusi tersebut juga ikut menjelaskan pentingnya pemilu 2024 nanti untuk tidak lagi memberikan ruang bagi politisi pura pura merakyat (PPM),
“Kita sangat sesal kan penghinaan elit elit di daerah kita ini, kemana mereka saat kita pemulung dizalimi oleh pemerintah kota dengan salah menerapkan perda Nomor 9 Tahun 2014 yang menganggap keseluruhan pemulung itu pengemis dan akhirnya mereka dengan kuasa merampas gerobak pemulung, mereka melakukan sweeping terhadap gerobak pemulung yang beredar di kota kendari kami sempat harus kesulitan mencari sampah bekas (plastik, kardus,besi dll ) dengan perilaku Satpol PP yang arogan. Masa masa itu adalah masa dimana kami merasa menjadi penumpang hidup di Republik ini, kita semua saat itu sudah hampir putus asa, untungnya saat itu kabar tentang kekejian rezim Kasat Pol PP itu di dengar oleh bapak Sahabuddin dan akhirnya membantu kami dan menemani untuk bertemu Pj wali kota kendari untuk meminta agar cara kekejian itu di hentikan,
sangat anehkan puluhan wakil rakyat tapi hanya ada satu yang prihatin denger kondisi keadaan kami saat itu,” bebernya.
Untuk diketahui program dialog Obrolan Inspiratif (OI ) di tayangkan di chanel youtube sultraline.
TIM



































