SULTRALINE.ID, KENDARI – 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China dipastikan akan masuk ke Bumi Anoa, setelah Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) menyetujuinya pada pekan lalu, Jumat (12/6/2020).
Kedatangan para TKA China dijadwalkan akan datang secara bertahap. Untuk tahap awal sebanyak 146 TKA akan datang pada 23 Juni 2020.
Mendengar kabar itu, pada tanggal 18 Juni 2020 Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh, telah mengeluarkan pernyataan penundaan 500 TKA untuk hadir di Sultra. Hal itu sangat membuat tataran masyarakat yang khususnya pemuda wilayah Sulawesi Tenggara sangat bahagia dan menaruh harapan besar agar Ketua DPRD Sultra dapat menjadi garda terdepan memimpin gerakan demonstrasi dalam penolakan itu.
Tetapi ternyata rasa bahagia itu berbalik arah menjadi kekesalan yang sangat berapi-api dihari berikutnya. Kekesalan itu diakibatkan pernyataan Ketua DPRD Sultra pada tanggal 19 Juni 2020 yang tiba-tiba beruba 90 derajat melunak dan memberi restu agar 500 TKA itu dapat masuk di Sultra.
Tetapi, lagi-lagi tidak untuk salah seorang pemuda Sultra ini, Wawan Soneangkano yang tetap mendukung kedatangan 500 TKA di Sultra setelah Gubernur Ali Mazi itu masih tetap pada pendiriannya yaitu mendukung masuknya 500 TKA di Bumi Anoa.
Wawan menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang sebesar besarnya terhadap Ketua DPRD Sultra yang telah bersama-sama mendukung kedatangan 500 Investor TKA di Sultra setelah 1×24 jam menolak.
Pemuda yang kerap di sapa dengan panggilan Bung Wawan ini menyampaikan beberapa hal terkait alasan dirinya mendukung langkah Gubernur Sultra dan Forkopimda walaupun ditengah gejolak penolakan dari sejumlah elemen masyarakat.
“Kenapa kita harus menerima 500 TKA itu yang juga merupakan investor untuk memberikan kemaksimalan perputaran ekonomi Sulawesi Tenggara, bahwa berdasarkan data yang telah disampaikan oleh Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan (LBP), mengatakan bahwa 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China yang akan kembali masuk ke Sulawesi Tenggara adalah pekerja yang sudah diberi rekomendasi oleh Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP). Yang di mana tujuannya adalah untuk penyelesaian beberapa proyek-proyek strategis nasional. Mereka akan kembali bekerja di kawasan industri smelter atau pabrik pemurnian nikel di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara,” katanya, Minggu (21/6/2020).
Lanjut ia, di samping TKA tersebut telah mengantongi rekomendari KPPIP, dalam penyampaian Jubir itu mengatakan bahwa kehadiran para pekerja asal Negeri Tirai Bambu itu juga sudah sesuai dengan regulasi pembatasan TKA selama masa Covid-19, dan telah Sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham).
“Kemudian, disamping beberapa persyaratan itu telah di kantongi, kedatangan 500 TKA itu juga sebagai pemandu 3000 Tenaga Kerja Lokal yang akan mengerjakan 33 tungku di Perusahaan PT. VDNI dan OSS,” tambah Wawan.
“Olehnya itu, kepada semua pihak dan rekan-rekan sekalian mari kita bersama sama mengawal pemerintah agar progres pelaksanaan program pembangunan daerah dapat berjalan baik dan bisa menjadi daerah saing go internasional,” pintanya.
“Dan saya dengan tegas menyampaikan siap berada di garda terdepan bersama pemerintah mengawal datangnya 500 TKA di Sultra,” pungkasnya.
Laporan : TIM



































