SULTRALINE.ID KENDARI
Di tengah derasnya arus perkembangan zaman dan perubahan dunia hiburan, masih ada sosok seniman yang memilih bertahan dengan idealismenya. Dialah Husain, yang akrab disapa Om Uceng, seorang seniman senior Sulawesi Tenggara yang hingga kini tetap mengabdikan hidupnya untuk dunia seni.

Pria kelahiran Palembang pada tahun 1965 ini merupakan putra berdarah Bone, Sulawesi Selatan. Sejak muda, Om Uceng telah menapaki perjalanan panjang di dunia kesenian. Berbagai panggung, pertunjukan, dan kegiatan budaya telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagi Om Uceng, seni bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Di usianya yang tak lagi muda, semangatnya untuk terus berkarya tidak pernah surut. Ia tetap aktif membimbing generasi muda, terlibat dalam berbagai kegiatan seni, serta terus mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang mampu mengangkat nilai budaya lokal Sulawesi Tenggara.
Selama puluhan tahun berkarya, Om Uceng dikenal sebagai sosok sederhana, rendah hati, dan konsisten memperjuangkan eksistensi seni daerah. Baginya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari bagaimana masyarakat mampu menjaga, mencintai, dan mengembangkan kebudayaan yang dimiliki.
“Kalau bukan kita yang menjaga seni daerah, siapa lagi?” menjadi semangat yang selalu ia tanamkan kepada para seniman muda yang belajar dan berkarya bersamanya.
Dedikasi Om Uceng menjadikannya salah satu tokoh seni yang dihormati di Sulawesi Tenggara. Meski tantangan dunia seni semakin besar, ia tetap percaya bahwa seni adalah warisan yang harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kini, di usianya yang telah menginjak enam dekade, Om Uceng masih berdiri tegak sebagai simbol ketekunan, pengabdian, dan kecintaan terhadap dunia seni. Sosoknya menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya, melainkan bukti bahwa semangat dan kecintaan terhadap seni mampu bertahan melampaui zaman.



































