Oleh : NURSALAM
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 70% wilayah berupa lautan, Indonesia justru menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan identitas budaya maritimnya. Budaya maritim yang pernah menjadi napas kehidupan Nusantara, kini kian memudar, tergerus modernisasi dan perubahan sosial. Lantas, bagaimana kondisi terkininya, apa akar masalah penyebab degradasinya, dan yang terpenting bagaimana membangkitkannya kembali?
Sejarah mencatat, Indonesia telah dikenal sebagai bangsa maritim sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Laut bukan hanya jalur perdagangan dan sumber daya, tetapi juga ruang budaya dan peradaban. Kejayaan pelaut, nelayan, dan pelayar nusantara menjadi simbol identitas bangsa yang hidup berdampingan dengan laut. Namun dalam beberapa dekade terakhir, posisi laut dalam kehidupan masyarakat Indonesia mulai tergeser. Modernisasi, globalisasi, dan urbanisasi telah mengalihkan orientasi masyarakat dari laut ke daratan. Generasi muda kini lebih tertarik pada sektor industri, teknologi, dan jasa daripada sektor kelautan yang selama ini menjadi tulang punggung masyarakat pesisir.
Gemilangnya sejarah maritim Indonesia telah terukir sejak era Sriwijaya dan Majapahit. Laut Nusantara bukan sekadar urat nadi perdagangan, melainkan panggung peradaban tempat budaya tumbuh berkembang. Keperkasaan para pelaut dan nelayan kita dahulu adalah simbol dan kebanggaan nasional yang hidup harmonis dengan samudera. Namun kini, negeri dengan 17.504 pulau ini justru gamang menghadapi lautnya sendiri. Gelombang modernisasi mengikis perlahan warisan agung ini dan memalingkan wajah bangsa dari laut ke darat. Generasi milenial lebih mengenal gawai daripada gelombang, lebih paham coding daripada navigasi tradisional, lebih terpesona pada gemerlap industri digital menjadi youtuber, startup founder, atau pekerja di industri digital ketimbang mengarungi ombak seperti leluhur mereka. Pergeseran ini wajar dalam konteks perkembangan zaman, tetapi menjadi masalah ketika kita kehilangan keseimbangan antara memeluk kemajuan dan mempertahankan akar budaya maritim. Padahal, di pesisir yang semakin sepi ini, denyut nadi ekonomi tradisional pelan-palan melemah.
Lautan adalah buaian peradaban Nusantara. Dari riak ombaknyalah nenek moyang kita pertama kali menjejakkan kaki, menyebar dari pulau ke pulau. Maka dengan itu, sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk sadar akan keberadaan budaya maritim. Frase ‘budaya maritim’ ini diambil dari dua suku kata yakni budaya dan maritim, dimana budaya memiliki arti gagasan manusia yang dapat menghasilkan suatu tindakan dan karya yang bermanfaat bagi manusia, sedangkan maritim menggambarkan suatu aktivitas kelautan yang tujuannya untuk perdagangan atau pencarian hasil budidaya kelautan.
Budaya maritim sebuah konsep yang sering digaungkan namun jarang dipahami secara mendalam. Secara sederhana, ini adalah cara hidup masyarakat yang menjadikan laut sebagai sumber inspirasi, penghidupan, dan identitas kolektif. Bukan sekadar aktivitas menangkap ikan atau berdagang antarpulau, melainkan seluruh tata nilai yang lahir dari interaksi manusia dengan samudera. Ironisnya, di negeri yang dikelilingi laut ini, budaya maritim justru menjadi barang langka. Kita lebih fasih berbicara tentang ekonomi digital ketimbang kearifan lokal para nelayan. Padahal, dalam budaya maritim terkandung filosofi hidup: tentang keberanian melawan ombak, kesabaran menanti hasil tangkapan, dan kebijaksanaan menjaga keseimbangan alam.
Budaya maritim Indonesia, yang dulunya sangat kuat kini mengalami degradasi. Beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan ini termasuk perubahan sosial ekonomi (modernisasi), kebijakan pemerintah dan pengaruh kolonialisme. Modernisasi telah mengubah orientasi ekonomi masyarakat dari laut ke darat. Kebijakan pemerintah seringkali lebih memilih jalan pintas ketimbang pembangunan maritim berkelanjutan. Bahkan warisan kolonialisme masih membayangi cara kita memandang laut – bukan sebagai identitas, melainkan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi. Degradasi budaya maritim bukan sekadar persoalan nostalgia. Ini adalah krisis identitas yang mengancam masa depan bangsa. Ketika kita kehilangan hubungan dengan laut, kita bukan hanya kehilangan potensi ekonomi, tapi juga jiwa sebagai bangsa maritim.
Kondisi Terkini Budaya Maritim Indonesia
Saat ini, budaya maritim di Indonesia cenderung mengalami pergeseran dari kehidupan yang berbasis kelautan ke arah kehidupan yang lebih terfokus pada daratan. Meskipun sektor perikanan, pelayaran, dan industri maritim masih berjalan, peran laut dalam kehidupan masyarakat tidak lagi sekuat pada masa lalu. Generasi muda lebih banyak tertarik pada sektor industri, jasa, dan teknologi dibandingkan dengan sektor kelautan. Budaya maritim kini tak lagi menjadi ruh dari kehidupan masyarakat. Komunitas nelayan tradisional semakin berkurang, dan regenerasi profesi kelautan tidak terjadi secara alami. Di sisi lain, praktik penangkapan ikan (illegal fishing), pencemaran laut, hingga reklamasi pantai yang tak terkendali menambah beban kerusakan ekosistem laut. Di sisi lain, eksploitasi sumber daya laut masih berjalan tanpa kontrol yang baik. Banyak nelayan tradisional mengalami kesulitan akibat maraknya praktik penangkapan ikan ilegal (illegal, unreported, and unregulated fishing) yang dilakukan oleh kapal asing maupun oleh pelaku dari dalam negeri. Akibatnya, kesejahteraan nelayan semakin tergerus dan ketertarikan generasi muda untuk meneruskan profesi ini semakin menurun.
Faktor-Faktor Penyebab Degradasi Budaya Maritim
Kurangnya kesadaran dan pendidikan maritim. Pendidikan tentang budaya maritim belum menjadi prioritas dalam sistem pendidikan nasional. Kurikulum sekolah lebih banyak berfokus pada pendidikan berbasis darat tanpa menanamkan kesadaran akan pentingnya laut dalam kehidupan bangsa. Akibatnya, generasi muda kita tumbuh dengan “buta laut”. Mereka bisa menghafal nama-nama presiden, tetapi tak tahu soal jalur rempah nenek moyangnya. Mereka paham konsep ekonomi makro, tetapi tak menyadari bahwa potensi ekonomi laut Indonesia mencapai Rp1.700 triliun per tahun. Inilah krisis identitas yang sebenarnya, bagaimana mungkin kita ingin menjadi poros maritim dunia, jika sejak kecil anak-anak kita tak pernah diajari untuk mencintai lautnya sendiri? Pendidikan maritim bukan sekadar perlu diajarkan, tapi harus menjadi jiwa dari sistem pendidikan nasional kita.
Perubahan Pola Ekonomi. Masyarakat pesisir yang dulunya menggantungkan hidup pada laut kini banyak yang beralih ke sektor lain seperti industri dan jasa. Urbanisasi yang semakin pesat juga menyebabkan berkurangnya komunitas nelayan tradisional. Perubahan ini memicu pergeseran budaya dari berbasis laut menjadi berbasis darat. Sebuah transformasi tragis yang sedang terjadi di pesisir, masyarakat yang selama puluhan generasi hidup harmonis dengan laut kini berbondong-bondong meninggalkan jaring dan perahu mereka. Di Kolaka bagian Selatan, Sulawesi Tenggara, sebuah wilayah yang seharusnya menjadi benteng budaya maritim, banyak nelayan lebih memilih menjadi karyawan tambang ketimbang melanjutkan tradisi melaut.
Eksploitasi Berlebihan dan Kerusakan Ekosistem Laut, Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, pencemaran laut, serta reklamasi pantai yang tidak terkendali turut mempercepat degradasi budaya maritim. Sumber daya laut yang terus berkurang mengakibatkan masyarakat pesisir semakin kesulitan dalam mempertahankan mata pencahariannya. Dari tahun ke tahun, laut Indonesia bukan hanya kehilangan ikannya, kita sedang kehilangan jiwa kemaritiman itu sendiri. Alat tangkap destruktif seperti pukat harimau menyapu bersih dasar laut, sementara limbah industri dan sampah plastik mengubah perairan kita menjadi kuburan ekosistem. Reklamasi pantai yang serampangan seringkali atas nama pembangunan justru memutus tali sejarah antara masyarakat pesisir dan laut mereka. Dampaknya lebih dari sekadar kerusakan ekologi, nelayan tradisional harus melaut lebih jauh dengan hasil yang semakin sedikit, biaya hidup meningkat seiring menyusutnya sumber daya laut, pengetahuan lokal tentang musim tangkapan menjadi tak berguna karena perubahan ekosistem.
Kurangnya Dukungan Kebijakan Pemerintah, Meskipun pemerintah telah menggaungkan konsep poros maritim dunia, implementasi kebijakan di lapangan masih menghadapi banyak kendala. Program pemberdayaan nelayan, pembangunan infrastruktur maritim, serta perlindungan terhadap perairan Indonesia belum berjalan optimal, sehingga tidak mampu membangkitkan kembali budaya maritim secara menyeluruh.
Invasi Budaya Asing dan Perubahan Gaya Hidup, Masuknya budaya asing yang lebih menekankan gaya hidup modern berbasis teknologi membuat generasi muda semakin menjauh dari aktivitas kelautan. Media sosial, hiburan digital, serta perkembangan industri kreatif turut berkontribusi dalam mengalihkan perhatian masyarakat dari budaya maritim
Upaya Revitalisasi Budaya Maritim
Untuk mengembalikan kejayaan budaya maritim Indonesia, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, pelaku industri, maupun masyarakat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Integrasi Pendidikan Maritim: Indonesia butuh terobosan radikal dalam pendidikan maritim, bukan sekadar menambah satu dua bab dalam buku teks, tapi menciptakan generasi yang darahnya berdebur mengikuti irama ombak. Kurikulum sekolah harus mulai memasukkan materi tentang budaya maritim sejak dini, termasuk pentingnya menjaga ekosistem laut, pengenalan kearifan lokal, kewirausahaan dan pengenalan profesi berbasis kelautan.
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir: Program ekonomi berbasis maritim perlu diperkuat agar masyarakat pesisir tetap bisa menjalankan profesinya dengan kesejahteraan yang lebih baik. Program pemberdayaan masyarakat pesisir harus bergeser dari sekadar bantuan sosial jangka pendek menuju pembangunan ekonomi maritim yang berkelanjutan. Strategi konkret yang bisa dilakukan yaitu Sinergi Triple Helix, kolaborasi nyata antara pemerintah, perguruan tinggi, serta stakeholder industry.
Penguatan Regulasi dan Penegakan Hukum: Pemerintah harus lebih tegas dalam menindak praktik penangkapan ikan ilegal serta memastikan industri maritim berjalan dengan prinsip keberlanjutan.
Pemanfaatan Teknologi dalam Sektor Maritim: Inovasi di bidang perikanan, pelayaran, dan pariwisata bahari perlu dikembangkan agar sektor maritim lebih menarik bagi generasi muda.
Upaya yang dapat dilakukan untuk memperkuat budaya maritim Indonesia yaitu Menjaga kebersihan laut, Mendukung usaha masyarakat pesisir, Menggali kembali sejarah dan budaya maritim Indonesia, Pemerintah dapat menetapkan Indonesia kembali menjadi poros maritim melalui program kerja, kebijakan, ataupun konsep/gagasan
Dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk membangkitkan kembali budaya maritimnya dan menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan bangsa. Laut bukan hanya sekadar wilayah geografis, tetapi juga identitas dan masa depan Indonesia yang harus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Yang terpenting, semua upaya ini harus berangkat dari kesadaran bahwa laut bukan sekadar kumpulan air asin yang mengelilingi pulau-pulau kita. Laut adalah identitas, sejarah, dan masa depan bangsa. Merawat budaya maritim bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menemukan cara untuk menjadi modern tanpa kehilangan jati diri.
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip pepatah Bugis: “Laut adalah masa lalu kita, laut adalah hari ini, laut adalah masa depan.” Sudah saatnya kita membuktikan bahwa pepatah ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan komitmen untuk membangun Indonesia yang benar-benar berdaulat di lautnya sendiri.

*)Penulis Merupakan Dosen Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka yang saat ini Menempuh S3 di Universitas Halu Oleo (UHO)



































