SULTRALINE.ID, MUNA – Internal Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kabupaten Muna tengah menghadapi situasi yang kian memanas menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang dijadwalkan pada 27 November 2024.
Di bawah kepemimpinan Purnama Ramadhan, konflik yang mencuat semakin mengancam soliditas partai di wilayah tersebut, memperlihatkan tantangan besar dalam memperkuat partai besutan H. Prabowo Subianto.
Gelombang pengunduran diri dari pengurus DPC terus berlanjut. Sebanyak 19 pengurus, termasuk seorang Bendahara Pengurus Anak Cabang (PAC), telah resmi menyatakan mundur dari kepengurusan.
Berikut nama-nama pengurus DPC Gerindra Muna yang mundur dari kepengurusan:
Wakil Ketua:
1. Ir. H. La Ode Hamalin, M.Si
2. Alias
3. Ahmad Jaya
4. Syamsul Arianto Baden
Wakil Sekretaris:
1. Kaharuddin, S.PD.I
2. Harlin, S.Sos
3. Harfin, SP.
4. Ny. Juliati, S.Pd
5. Ny. Hasni Janggo
6. Ny. Wa Ode Fitria Rahmadani
7. Ny. Atlel Sie Samallo
8. Ny. Suma Insani
Wakil Bendahara:
1. By. Dwi Astuti
2. Ny. Adela Stevani
3. Ny. Suci Dwianti Djafar
4. Ny. Yaya Alfia, S.Sos. MH
5. Ny. Siti Hajratus Sholeha
6. Ny. Wa Ode Nurhayati, S. Hut
7. Ilcham
Bendahara PAC Desa Parigi:
1. La Ode Sabaruddin
Langkah ini menyusul pengunduran diri 10 pengurus DPC lainnya dan 4 Ketua PAC beserta sejumlah pengurus anak ranting, menandakan ketidakpuasan mendalam terhadap kepemimpinan Purnama Ramadhan.
Terlebih, Purnama yang kini maju sebagai calon Wakil Bupati bersama LM Rajiun Tumada semakin mendapat sorotan.
Harlin, S.Sos, salah satu Wakil Sekretaris DPC, menyampaikan kritik pedas terhadap Purnama. Ia menilai Purnama tidak memahami Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai, khususnya soal kewenangan mencabut Kartu Tanda Anggota (KTA) yang seharusnya menjadi hak Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
“Ancaman Purnama terhadap kader-kader memperlihatkan ketidakpahaman soal struktur dan wewenang partai. Ini masalah serius dalam kepemimpinannya,” ujar Harlin. Selasa (05/11/2024).

Ia juga menegaskan bahwa gejolak yang terjadi merupakan sinyal bahaya yang dapat mengancam kesiapan Gerindra dalam menghadapi Pilkada. Harlin menilai pengunduran diri pengurus merupakan protes yang harus segera direspon dengan serius oleh pimpinan partai.
“Masa depan Gerindra Muna di bawah Purnama menjadi tanda tanya besar. Jika ini dibiarkan, dampaknya bisa buruk bagi perolehan suara,” tambah Harlin.
Wakil Sekretaris lainnya, Ny. Atlel Sie Samallo, menyampaikan bahwa aksi mundur dari kepengurusan adalah protes terhadap gaya kepemimpinan Purnama yang dianggap arogan dan tidak melibatkan pengurus dalam pengambilan keputusan strategis.
“Kami merasa diabaikan. Tidak ada konsolidasi sampai ke akar rumput, bagaimana kami bisa mendukung jika pertemuan langsung saja tak pernah dilakukan?” kritik Atlel.
Para pengurus yang mundur menyoroti sikap Purnama yang lebih mengandalkan kedekatannya dengan Ketua DPD Gerindra Sulawesi Tenggara, Andi Ady Aksar (AAA), dibandingkan membangun basis dukungan di kalangan akar rumput. Hal ini dianggap memicu ketidakpuasan di kalangan kader.
“Purnama seharusnya melakukan pendekatan persuasif, merangkul dan memberi pemahaman kepada pengurus, bukan malah mengancam. Sikap ini sangat naif,” tegas Atlel.
Keputusan mundur dari pengurus, menurut Atlel, adalah langkah untuk menjaga diri dari tuduhan bertanggung jawab atas potensi kekalahan partai di Pilkada.
“Kami mundur dari kepengurusan, bukan dari keanggotaan sebagai kader. Kami hanya ingin menepis tudingan bahwa kekalahan partai nanti disebabkan oleh kami,” tutupnya.
Penulis : Baharuddin.



































