Oleh : Asrul Ashar Alimuddin
Negara Indonesia sebagai Negara yang sedang tumbuh kearah negara maju, bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, merata materil dan juga spiritual. Sebagai Negara yang memiliki tujuan dan strategi, Indonesia menerapkan banyak hal yang harus dikerjakan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia yang matang disertai dengan pemerataan pembangunan yang tersebar ke seluruh pelosok Nusantara. Inflasi merupakan indikator ekonomi yang sangat penting, mempengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi suatu negara. Di tahun 2024, Indonesia mengalami perkembangan positif dalam indikator ekonomi makro.
Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5,03 Persen, didorong utamanya oleh permintaan domestik, industri pengolahan, dan perdagangan. Kontribusi konsumsi LNPRT juga signifikan, terutama selama periode kampanye Pemilihan Umum. Tingkat inflasi umum yang mencapai 2,57 Persen tergolong terkendali dan berada dalam kisaran yang diharapkan.
Pemerintah Indonesia optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat pada tahun 2024 dan 2025, dengan fokus pada peningkatan permintaan domestik, industri pengolahan, dan perdagangan. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi mengalami pasang surut, dan salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah permintaan agregat. Inflasi merupakan peristiwa ekonomi yang sering terjadi meski kita tidak menginginkannya. Milton Friedman mengatakan bahwa inflasi merupakan fenomena moneter yang mencerminkan pertumbuhan uang yang terjadi dimana-mana dan selalu berlebihan serta tidak stabil. Inflasi terjadi ketika tingkat harga secara keseluruhan meningkat, dan Meski begitu, beberapa tantangan masih perlu diatasi, terutama inflasi yang dipengaruhi oleh harga komoditas yang fluktuatif. Kendati demikian, kondisi ekonomi domestik Indonesia secara keseluruhan dinilai stabil dengan permintaan yang kuat dan pertumbuhan industri yang terus berlanjut. Meskipun nilai ekspor Indonesia mencatatkan rekor tertinggi, pertumbuhan impor yang lebih cepat menyebabkan surplus neraca perdagangan mengalami penurunan. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan inflasi, dengan tingkat inflasi rata-rata yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN-5, Negara Berkembang, dan Negara Maju. Ini mencerminkan kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Dalam beberapa periode terakhir, Indonesia telah mencatat tren inflasi yang menarik. Pada tahun 2019, tingkat inflasi di negara ini mencapai titik terendah sebesar 2,72 persen. Penurunan tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk ketersediaan pasokan produksi yang memadai sesuai dengan permintaan pasar, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah beserta Bank Indonesia untuk menjaga ketersediaan dan harga bahan pangan, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kelanggengan harga sejumlah komoditas dalam jangka waktu yang signifikan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami peningkatan inflasi yang cukup mencolok. Beberapa faktor memengaruhi fluktuasi ini. Salah satunya adalah perubahan harga komoditas, terutama kenaikan harga energi, yang secara signifikan mampu mempengaruhi tingkat inflasi. Selain itu, kebijakan moneter, seperti perubahan suku bunga dan depresiasi nilai tukar, juga memiliki dampak positif yang cukup berpengaruh terhadap laju inflasi. Seperti yang sudah kita ketahui dan menjadi rahasia umum, selama beberapa dekade terakhir, sistem ekonomi global dibentuk dan dijalankan berdasarkan pemikiran liberal kapitalis yang fokus pada pencapaian keuntungan maksimal dari sumber daya yang terbatas. Salah satu instrumen utamanya adalah bunga, yang menjadi inti dari sistem ekonomi kapitalis. Negara-negara, yang harus berhubungan satu sama lain, terpaksa menyesuaikan sistem ekonomi mereka dengan sistem ekonomi global.
Inflasi memang berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun bukan berarti inflasi harus diturunkan hingga 0 Persen. Pada tingkat inflasi 0 Persen, pertumbuhan ekonomi tidak terpacu dan terjadi stagnasi. Jika tingkat inflasi dapat dijaga pada tingkat yang sangat rendah, maka kebijakan tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi kegiatan perekonomian. Idealnya, inflasi kurang dari 5 Persen untuk merangsang aktivitas perekonomian. Pada dasarnya tidak semua inflasi berdampak negatif pada perekonomian. Terutama jika terjadi inflasi ringan yaitu inflasi di bawah sepuluh persen. Inflasi ringan justru dapat mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena inflasi mampu memberi semangat pada pengusaha, untuk lebih meningkatkan produksinya. Pengusaha bersemangat memperluas produksinya, karena dengan kenaikan harga yang terjadi para pengusaha mendapat lebih banyak keuntungan. Selain itu, peningkatan produksi memberi dampak positif lain, yaitu tersedianya lapangan kerja baru. pengendalian inflasi merupakan kondisi yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. , ekonomi tumbuh stabilitas perekonomian dapat terjaga Dengan demikian, pembuat kebijakan harus fokus untuk menjaga inflasi pada tingkat yang rendah. Dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi, peran dari Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah kebijakan moneter yang hati-hati dan konsisten, yang memiliki dampak signifikan pada berbagai sektor ekonomi. Konsistensi dalam mempertahankan BI-Rate pada tingkat 6 persen mencerminkan komitmen untuk memelihara stabilitas ekonomi dan keuangan serta memberikan kepastian kepada para pelaku ekonomi. Tindakan ini juga memberikan kepastian kepada investor, mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil, memelihara stabilitas ketenagakerjaan, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.



































