
SULTRALINE.ID, KENDARI – Jelang memasuki masa tenang, Calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara (Sultra) Almaghfirah Sapri mengimbau masyarakat pemilih untuk menggunakan hak pilihnya 14 Februari di TPS masing-masing.
Menurut Alma Sapaan akrabnya, masa tenang tiga hari (11-13 Februari) sebelum hari pemungutan suara, masa yang tepat untuk merenungkan pilihan sesuai dengan hati nurani mengacu pada rekam jejak caleg.
Rekam jejak bisa jadi salah satu indikator untuk memilih dan tidak memilih seseorang calon. Dari rekam jejak itu bisa diketahui bagaimana kiprah dan sepak terjang seseorang selama ini dalam kehidupannya di masyarakat.
“Gunakan masa tenang untuk memantapkan pilihan, berdoa dan mempersiapkan diri untuk hari pemungutan suara. Gunakan berbagai saluran yang terpercaya untuk menelusuri rekam jejak caleg. Agar bisa memilih dengan bijak, dan tidak kecewa,” imbau Alma kepada wartawan di Kendari, Jumat (9/2/2024).
Ia juga mengimbau pemilih jangan mudah terpengaruh oleh isu-isu yang tidak berdasar dan harus berani melaporkan jika terjadi kecurangan, seperti politik uang.
“Karena politik uang itu bisa merusak demokrasi, merusak masa depan bangsa dan merugikan rakyat,” tegas Alumni Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo ini


Calon termuda ini juga mengajak masyarakat menjaga suasana pemilu yang kondusif dan damai.
“Beda pilihan harus kita hormati. Jangan terpengaruh jika ada yang membujuk dengan iming-imingi uang, apalagi sampai mengintervensi. Laporkan! Ke penyelenggara jika hal tersebut terjadi,” pungkas calon Anggota DPD RI nomor urut 03 ini.
Mohon Doa Maju DPD RI
Pada kesempatan diskusi dengan awak media, Almaghfirah Sapri mengungkapkan permohonan doa dan restu kepada masyarakat untuk ikut berjuang melakukan perubahan dengan menjadi calon anggota DPD RI nomor urut 3 mewakili daerah pemilihan Sultra.
Anak dari pasangan Agusalim Sapri, SE (Ayah) dan Wa Ode Ihsana Nurlaila Ilahi, SE (Ibu)
Pilihannya maju Sulawesi Tenggara memiliki banyak keunikan, secara geografis, Sultra memiliki wilayah daratan yang membentang luas dari daratan Kolaka Utara hingga Kota Kendari serta dari Bombana hingga Konawe Utara, selain itu Sultra juga memiliki garis pantai yang panjang dengan konfigurasi wilayah yang juga terdiri dari pulau-pulau seperti Kabaena, Wawonii hingga Kepulauan Tukang Besi di Wakatobi.
Menurutnya secara demografis Sultra juga memiliki tekstur yang sangat kaya, didominasi oleh lapis demografis Generasi X, Y dan Z dengan sebaran tinggi berada di perkotaan dan pedesaan serta beragam latar pendidikan dan keterampilan. Secara Sosiologis Sultra juga memiliki keunikan dengan keragaman etnik serta kearifan warga asli yang selain guyub dan sangat terbuka terhadap kebaruan serta memiliki kota-kota kosmopolitan yang telah eksis sejak lama. Secara Historis, Sultra juga sangat kaya, sub etnik besar yang hidup dan mendiami Jazirah Sulawesi Tenggara memiliki warisan kebudayaan yang sangat besar dan beragam, Kebudayaan Tolaki dan Mekongga, Kebudayaan Muna, Kebudayaan Buton serta Moronene merupakan pesona dan keunikan penting Sulawesi Tenggara.
“Dalam Konteks itulah, Kata Hati saya MENDORONG agar seluruh keunikan Sultra tersebut diatas perlu mendapat jembatan di pentas Nasional, misalnya saja, keunikan dan keragaman ini harus dapat ditampung sebagai koefisien dalam spirit Otonomi serta perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.
Keunikan Sultra diatas juga harus dapat termanifestasi pada ragam kebijakan nasional berbentuk program dan kegiatan oleh kementrian dan lembaga sehingga Sultra beserta seluruh potensinya tidak tertinggal oleh gemuruh pembangunan nasional.
Disaat itu semua, Kata Hati saya berbicara bahwa pemerintah pusat harus lebih seksama memperhatikan kebutuhan Generasi X, Y dan Z terutama diruang Publik baik itu pendidikan, kesehatan hingga sarana dan prasarana yang lebih sensitif terhadap kebutuhan Generasi X, Y dan Z yang menjadi tulang punggung Bonus Demografi bagi Indonesia dan Daerah,” paparnya Alma yang sementara menempuh S2 di Universitas Hasanuddin Makassar ini.
Kata Alma, Generasi X, Y dan Z akan menghadapi tantangan yang tidak ringan, dan di pundak mereka masa depan daerah dan negara akan disampirkan, untuk itulah pemerintah pada semua tingkatan harus lebih menebalkan kebijakan yang responsif terhadap lapis demografi ini terutama menyiapkan ruang publik yang lebih supportif, pelatihan dan keterampilan yang mengarah pada penguasaan keterampilan masa depan seperti negosiasi, coding, copy writing hingga kemampuan adaptasi atas tantangan masa depan.
“Untuk itulah diperlukan LEGISLASI yang lebih berpihak pada semua tingkatan pemerintah, serta kerangka PENGAWASAN yang lebih presisi atas kebijakan, program hingga kegiatan yang menyasar daerah sebagai subyek sekaligus obyeknya terutama yang dilakukan oleh kementrian dan lembaga serta badan-badan adhoc nasional lainnya.
Pada saat yang sama ruang publik nasional dan lokal juga perlu lebih ramah terhadap kebutuhan tidak saja generasi X, Y dan Z namun juga warga daerah yang berusia lanjutan atau sering disebut Penduduk SENIOR, dua segmen demografi ini akan menjadi kunci dalam kemajuan perekonomian, kebudayaan dan sosial daerah kita dan juga negara kita dimasa yang akan datang. Saya menyebut agenda ini dengan Tagline Sederhana: LEGISLASI-KATA HATI,” tutupnya.
Editor: Irdwan Jeko



































