SULTRALINE.ID, KONSEL – Kerbau adalah salah satu ternak yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kerbau merupakan ternak asli Indonesia yang dibuktikan dengan penelitian secara genetika molekuler. Ternak kerbau yang telah berkembang dan tersebar di wilayah Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu kerbau rawa/lumpur (swamp buffalo) yang dikenal sebagai kerbau tipe potong dan kerbau sungai (riverine buffalo) sebagai kerbau tipe perah.
Menurut data BPS tahun 2021 populasi ternak kerbau di Sulawesi Tenggara sebanyak 2.527 ekor dimana Konawe Selatan menjadi salah satu kabupaten dengan peringkat populasi ternak kerbau tertinggi kelima di Sulawesi Tenggara yang mencapai 286 ekor. Setiap tahunnya Kerbau di Konawe Selatan tersebut selalu mengalami penurunan sebesar 74% dengan angka penurunan rata-rata 12,33% per tahun. Desa Wuura menjadi salah satu desa di Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan yang dapat dijadikan sebagai sentra produksi ternak kerbau. Pengembangan ternak kerbau di Wuura memiliki peran penting untuk meningkatkan populasi ternak kerbau di provinsi Sulawesi Tenggara.
Ketua Tim Bina Desa FPt UHO, Prof Nafiu mengungkapkan bahwa Permasalahan dalam pengembangan usaha pemeliharaan ternak kerbau di Sultra yaitu masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman mitra (peternak) tentang potensi pengembangan ternak kerbau, kurangnya pengetahuan dan keterampilan mitra (peternak) dalam manajemen pemeliharaan kerbau, kurangnya pengetahuan dan keterampilan mitra (peternak) dalam pemenuhan nutrisi pakan ternak kerbau, kurangnya pengetahuan dan pemahaman mitra (peternak) dalam pengolahan hasil sisa pertanian sebagai pakan lokal.
Lanjut ia, dengan melihat situasi dan kondisi permasalahan peternak kerbau di Desa Wuura sehingga langkah yang perlu ditempuh adalah melakukan transfer inovasi teknologi kepada mitra kelompok peternak.
“Untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan peternak dalam hal inovasi budidaya ternak kerbau, perlu dilakukan peningkatan pengetahuan serta pemahaman peternak melalui penyuluhan dan peningkatan keterampilan teknis kelompok peternak dengan kegiatan pelatihan dan bimbingan teknis melalui program Bina Desa yang di danai oleh Fakultas Peternakan UHO”ungkap ketua Tim Bina Desa FPt UHO 2023 tersebut.


Diketahui Pelaksanaan kegiatan Bina Desa FPt UHO 2023 dibagi menjadi dua jenis kegiatan yaitu kegiatan non fisik yang meliputi penyuluhan dan bimbingan teknis sebagai media transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat peternak.
Materi kegiatan yang dilakukan meliputi penguatan kelembagaan, potensi pengembangan ternak kerbau, konsep dasar manajemen pemeliharaan dan perkandangan yang baik dan pemanfaatan sisa hasil pertanian sebagai pakan lokal berupa jerami padi dan ampas sagu” Fuji Astuti lebih lanjut menjelaskan “Kegiatan fisik dilakukan melalui pendampingan dan demonstrasi berupa pendampingan dan bimbingan teknis pengolahan jerami amoniase dan sagu fermentasi sebagai pakan lokal. “al ini perlu dilakukan karena masih kurangnya pengetahuan dan pemahaman peternak kerbau dalam pengolahan hasil sisa pertanian sebagai pakan lokal” Ungkap Kepala Lab. Unit Nutrisi dan Makanan Ternak FPt UHO tersebut.
Program Bina Desa FPt UHO 2023 yang telah dilakukan dengan mengintroduksi perbaikan managemen pemeliharaan dan budidaya yang baik dan benar kepada peternak sehingga dapat memaksimalkan potensi pengembangan ternak kerbau rawa.
Kepala Lab. Agribisnis Fakultas Peternakan UHO, Musram Abadi menuturkan “Pemeliharaan ternak kerbau rawa di Desa Wuura Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan pada umumnya hanya sebagai usaha sampingan, sehingga potensi pengembangan dari ternak kerbau rawa belum termanfaatkan dengan baik. Pola pemeliharaan masih tergolong tradisonal, belum ada penyediaan pakan secara khusus dalam bentuk pakan komplit, peternak belum melakukan penanganan ternak sakit secara khusus, dan pengembangbiakkannya masih dilakukan secara alami dengan cara kawin alam” tuturnya.
Rusli badaruddin juga menambahkan “Konawe Selatan memiliki potensi yang besar dalam pengambangan ternak kerbau yaitu dengan ketersediaan lahan yang cukup lua utamanya rawa, sumber pakan berupa hijauan dan hasil ikutan pengolahan hasil pertanian dan perkebunan cukup tersedia. Dengan memaksilmakan potensi tersebut diharapkan bisa meningkatkan populasi ternak kerbau dan meningkatkan pendapatan peternak. Diharapkan kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan peternak dalam hal inovasi budidaya ternak kerbau, serta adanya pembinaan dan pendampingan lanjutan secara rutin dan berkala dengan model terintegrasi antara Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah, sehingga usaha ternak kerbau dapat meningkat produktivitasnya dan menjadi sumber pendapatan rumah tangga peternak” tambahnya.
Ucapan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu pelaksanaan penelitian dasar internal UHO dan program Bina Desa FPt UHO yaitu Kadis Peterkanan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Konawe Selatan Bapak Suardi, S.Pt., M.Si, Camat Mowila dan Camat Angata, Kapolsek Mowila dan Penyuluh Pertanian Kecamatan Mowila dan Kecamatan Angata, sehingga kendala-kendala selama kegiatan berlangsung dapat teratasi.
Pada Kegiatan Bina Desa ini melibatkan beberapa dosen dianataranya Prof. Dr. Ir. H. La Ode Nafiu, M.Si., IPU., ASEAN Eng, Musram Abadi, S.Pt., M.Si, Dr. Fuji Astuty Auza, S.Pt, M.P dan Rusli Badaruddin, S.Pt., M.Sc serta melibatkan 7 orang mahasiswa FPt UHO yaitu Alim Abid Muin, Roy Sarvin, Halim Said, Nur Nilam Sari, Jumarni, Afdal Irawan dan Aprilian Yusuf.
Laporan: Jasman CJSL
Editor: Irdwan Jeko



































