SULTRALINE.ID, KENDARI – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Tenggara (Sultra) Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan, SE, M.BA kembali menggelar sosialisasi 4 pilar kebangsaan. Kali jnj bertempat di Yayasan Pondok Pesantren Nurun Nahdlatin NW Raha-Muna bekerjasama dengan Yayasan Icon 08 Sultra Peduli, Minggu 16 April 2023
Dalam sambutannya, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan, SE, M.BA menekankan pentingnya pendidikan. Menurutnya pendidikan kunci untuk meraih kemajuan. Tidak ada bangsa dan negara yang bisa maju jika rakyatnya tidak berpendidikan baik. Pendidikan bangsa Indonesia menurut data dari Bappenas sebanyak 60 persen berpendidikan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan 10 persen lebih berpendidikan sarjana.
Katanya, pendidikan mayoritas bangsa Indonesia mulai tidak sekolah, tidak tamat sekolah dasar (SD), tamat SD, tidak tamat sekolah menengah pertama (SMP dan tamat SMP sebanyak 60 persen. Pendidikan setinggi ini tentu sangat memprihatinkan.
Yang harus dilakukan dalam 5 tahun ke depan adalah meningkatkan kualitasnya agar Yayasan Pondok Pesantren Nurun Nahdlatin NW Raha-Muna bisa diterima di PTN terkemuka di Indonesia dan di luar negeri.
Lebih jauh ia menyampaikan 4 pilar MPR yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika adalah satu kesatuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Anggota DPD RI dari daerah pemilihan umum Sulawesi Tenggara menegaskan bahwa anak-anak usia sekolah tidak boleh putus sekolah sebab mereka adalah penerus kelangsungan bangsa.
Senator yang akrab disapa Rabia ini meminta supaya anak-anak desa yang belajar di Yayasan Pondok Pesantren Nurun Nahdlatin NW Raha-Muna supaya rajin belajar, bersemangat, tidak mudah putus asa untuk meraih cita-cita yang tinggi. Tidak ada kemajuan dan kejayaan tanpa belajar keras.
Lanjut ia mengatakan, Indonesia menjadi negara yang paling mampu menjaga kerukunan umat beragama atas dasar Pancasila.
Dari kegiatan rutin di pesantren juga menunjukkan pengamalan dari sila pertama Pancasila.
“Tetap pentingnya pengawasan dan evaluasi oleh lembaga pesantren terkait untuk mengurangi potensi ke radikal. Pancasila menjadi lembaran utama dalam pendidikan keagamaan di pesantren,” kata politikus yang juga pernah menjadi santri pondok pesantren.
Sambung ia, dalam lingkungan pesantren, yang penting setia dengan Pancasila. Tidak hanya sebatas pernyataan
Rabia juga menerangkan di kalangan pesantren Pancasila menjadi pilar utama dalam menerapkan polarisasi yang diberikan. Yang pertama, berkembangnya sikap dan cara pandang yang benar dalam hal beragama, berkembangnya kebenaran yang ada di masyarakat terkait penafsiran tentang agama, dan berkembangnya semangat keagamaan.
“Ketiga hal itu menjadi acuan untuk mengelola kurikulum di pondok pesantren,” pungkasnya.
Editor: Irdwan Jeko



































