SULTRALINE.ID, HISTORIA –
Siapakah sosok yang satu ini ?
Apakah sepak terjangnya dalam melindungi ke Sultanan Buton wabil khusus Sampolawa?
Wauwa Ombo adalah sepupu 1 kali dari Wauwa Ngkarawu.
Wauwa Ombo adalah Panglima Perang dari Wauwa Ngkarawu.
Wauwa Ombo adalah Simbol Kejantanan Sampolawa dimasa itu.
Wauwa Ombo adalah Lembaran Sejarah yang belum terbaca oleh generasi.
Wauwa Ombo adalah sebenar benarnya Kesatria yang melindungi Sampolawa, Ex Kesultanan Buton tanpa ingin dicatat oleh lembaran sejarah dan falsafah Bolimo Kora Somano Lipu adalah nutrisi bagi fisik dan batin dalam setiap naik turun nafasnya.
Begitu banyak hal yang bisa digambarkan dari sosok Wauwa Ombo yang bernama La Ode Dara Dangu.
Kisah kemahsyuran Oputa Kobaadiana tidak bisa lepas dari La Ode Pasombala. Begitu pula catatan sejarah La Ode Pasombala terikat erat dengan La Ode Dara Dangu.
Lakina Sampolawa tinggal di perkampungan sedangkan ia, Kesatria Tanpa Nama terus bergerilya di Ombo bersama turunan dan pengikutnya.
Salah satu tugas Wauwa Ombo adalah memantau kapal kapal musuh Tobelo yang hendak masuk dari arah Selatan Timur menggunakan teropong. Jika kapal kapal musuh tertangkap mata teropong maka beliau secepat kapal Wasilomata berjumpa dengan Bobato Mancuana, La Ode Pasombala dan menyampaikan bahwa Wakera sudah tiba (Wakera adalah sandi untuk perahu perahu musuh). Maka berangkatlah mereka bersama 2 Puak Matano Surumba untuk menumpas musuh musuh negeri.
Dikisah yang lain saat peperangan MAHA DAHSYAT sampai ke Teluk Wolio
“Setelah usai perang Sultan MUHAMMAD IDRUS mengumpulkan para Panglima Perang Buton di Istana Kerajaan untuk diberikan imbalan jasa sebanyak 30 ringgit setiap orang. Semua para Panglima Perang menerima imbalan, sedangkan yang terakhir adalah giliran LA ODE PASOMBALA duduk dekat Sultan MUHAMMAD IDRUS seturut kedudukannya sebagai “BABATO MANCUANA” dalam situasi perang itu. LA ODE PASOMBALA SUJUD kepada Sultan sambil menyatakan bahwa kami masih setia dan patuh pada pesan-pesan JIHAD “YINDA-YINDAMO KARO SUMANAMO LIPU “ ( Sumber: Maia Papara Putra).
Dikisah yang sama itu pula, Sultan Muhammad Idrus Kaimudin telah lama menunggu kepulangan La Ode Dara Dangu di Keraton. Karena sejak lama Sultan ingin bertemu yang berulangkali La Ode Pasombala menyampaikan kerinduan Sultan tersebut kepadanya.
Tibalah saatnya KESATRIA yang jarang mengungkapkan jati dirinya juga ikut BERSUJUD dan hanya mengucapkan 1 PINTA bahwa disaksikan seluruh SARA KIKIDI dan OGENA yang hadir di Kesultanan Buton
“ Ketika sampai waktunya, turunan turunanku yang menjadi Kalemba maka jangan pernah mereka di ganggu “ ucap yang bergelar WAUWA di OMBO tersebut.
Seluruh yang hadir mengamini PERMINTAAN tersebut. Kembalilah 2 Wauwa itu, selalu bersatu tetapi tidak bersekutu dan walupun berpisah tetapi tidak ada jarak ke negeri Sambirina Badia. Wauwa Ombo dan yang memiliki ikatan darahnya dominan menetap di area yang menjadi simbol Sampolawa Lama (Sau Polawa) sementara Lakina Kampebuni di perkampungan Mambulu seperti yang terlihat saat ini.
Wauwa Ombo dan segala tugas serta jejak peradabannya masih bisa kita temukan di KEBUN KEBUN SAMPOLAWA LAMA terkhusus di area kebun yang telah dijaga turun temurun oleh NASABnya. Jika ada oknum yang MENARI guna MENDZALIMI apa yang telah diwariskannya menjadi KAWASAN HUTAN. Sesungguhnya MEREKA telah MELAMPAUI BATAS.
Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammadin Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad
“Sesungguhnya orang-orang yang di DZALIMI, mereka itulah yang memperoleh KEMENANGAN pada hari kiamat”. (HR. Ibnu Abid-Dun-ya dari Abi Shalih Al-Hanfi).
“Dan KAMI hendak memberi KARUNIA kepada orang-orang yang tertindas dibumi itu dan hendak menjadikan mereka PEMIMPIN dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi KEKUASAAN)”. (QS. Al-Qashash: 5)



































