Kemajuan suatu daerah sangat bergantung pada kualitas pemuda, pemuda merupakan harapan daerah, bangsa dan negara, cerminan sebuah negara dapat dilihat dari kualitas pemudanya. Pemuda diklarifikasikan sebagai seseorang yang berumur 15 tahun sampai 40 tahun, menurut Bapak Anis Baswedan pemuda adalah orang yang berpikir, berbicara, dan bertindak untuk masa depan. Mahasiswa termasuk dalam golongan pemuda.
Mahasiswa selain sebagai pemuda juga merupakan agen of change, sosial control, bahkan iron stok. Kualitas mahasiswa sangat ditentukan dari prosesnya selama menempuh kehidupan bermahasiswa. Maksudnya adalah kualitas mahasiswa akan berbanding lurus dengan proses yang ia lalui selama proses bermahasiswanya, jadi sudah sepatutnya menjadi perhatian lebih setiap mahasiswa untuk memaksimalkan prosesnya selama bermahasiswa.
Fase bermahasiswa adalah sebuah waktu dimana setiap mahasiswa dapat mengeksplorasi kemampuan diri atau mengasah kompetensi-kompetensi baru diberbagai bidang, dalam fase bermahasiswa ini setiap mahasiswa dapat meningkatkan kualitas dirinya tanpa adanya batasan atau tekanan dari pihak manapun (seharusnya), sehingga dapat mencetak pemuda-pemuda yang berkompeten setelah keluar dari fase bermahasiswa, sehingga dapat menjawab tantangan zaman untuk memajukan daerah, bangsa, dan negaranya.
Namun faktanya dalam kehidupan bermahasiswa juga terdapat banyak hambatan sehingga proses-proses bermahasiswa yang seharusnya dapat lebih memaksimalkan tidak dapat dicapai oleh para mahasiswa seperti kehidupan hedon perkotaan menjadi salah satu faktor yang membutakan mahasiswa dari kesempatan memaksimalkan kehidupan berwahasiswanya. Hal Ini akan sangat mempengaruhi setiap mahasiswa dalam proses bermahasiswanya. Ketika mahasiswa tidak dapat mengontrol dirinya maka akan menjurumuskannya dalam kemunduran sehingga kualitas mahasiswa juga akan terjadi kemunduran atau degradasi.
Selain itu ada faktor lain yang lebih fundamental yang menjadi masalah besar bagi mahasiswa dalam menempuh prosesnya bermahasiswa, yaitu aktifitas pacaran, memang tidak dapat kita pungkiri bahwa setiap mahasiswa juga mempunyai hasrat untuk menjalin hubungan lawan jenis, namun aktifitas pacaran ini juga mempunyai fase tersendiri dalam kehidupan, jadi sebuah kesalahan yang fatal jika masa bermahasiswa diisi dengan aktivitas-aktivitas pacaran, menurut analisa penulis aktivitas pacaran dalam fase bermahasiswa dapat menghambat progresifitas mahasiswa dalam mengeksplorasi kompetensi dirinya.
Sepatutnya fase bermahasiswa ini dapat dimaksimalkan setiap mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan dirinya, karena banyak orang di luar sana yang ingin berproses sebagai mahasiswa namun tidak bisa karena suatu hal. Karena dalam kehidupan bermahasiswa terdapat banyak ruang-ruang untuk mengeksplorasi atau mengasah kemampuan diri untuk bekal di fase kehidupan setelah bermahasiswa, seperi bergabung Unit-unit kemahasiswaan, berorganisasi, gabung komunitas terkait kompetensi yang di minati dan banyak hal lain.
Banyak ditemukan mahasiswa yang terhalang atau sulit mengeksplorasi dirinya karena persoalan aktivitas pacaran, bahkan aktivitas pacaran dapat membawa seseorang ke dalam hal-hal yang buruk, seperti, gangguan psikis (gila), bunuh diri, atau bahkan hamil diluar nikah sehingga harus menghentikan kuliahnya, fakta-fakta ini tidak dapat kita elakan karena dapat kita temukan disekitar kita. Apakah ini akibat pacaran atau memang ketidakmampuan memanajemen dari mahasiswa itu, tapi dari pandangan penulis aktifitas pacaran sangat menghambat seseorang mahasiswa dalam mengeksplorasi kemampuannya dirinya.
Penulis berpendapat bahwa meninggalkan aktivitas pacaran akan meningkatkan kualitas seorang mahasiswa pada umumnya seorang pemuda dalam memaksimalkan masa kepemudaannya, sehingga dapat berdampak pada kemajuan daerah, bangsa, dan Negara, insyaallah.



































