SULTRALINE.ID, BAUBAU – Ayam nasu wolio adalah salah satu kuliner warisan kesultanan buton. Menu ini menjadi santapan wajib dalam praktik kebudayaan buton. Menu ini dapat ditemukan di seluruh kepulauan Buton, mulai dari Baubau, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, dan Wakatobi.
Nasu wolio kerap hadir dalam haroa, yaitu praktik doa yang dipimpin oleh imam kampung yang diakhiri dengan makan bersama. Dari haroa kelahiran, pesta panen, perkawinan sampai kematian, nasu wolio selalu menduduki klasemen utama sebagai menu favorit warga. Ia adalah titik sentral sumber protein dalam talang. Ia menjadi primadona dalam isi talang haroa mendampingi onde-onde, wajik, pisang goreng tanpa baluran tepung (loka I hole), baruasa, bolu, dan ikan dole.
Pada kondisi tertentu, bahkan nasu wolio wajib dihidangkan tujuh hari berturut-turut pada masa berkabung.
Tidak diketahui secara pasti kapan ayam nasu wolio ini pertama kali dibuat. Namun menurut Wa Riha, 70, sejak kecil neneknya sudah memasak menu ini. Diperkirakan menu ini sudah berusia beberapa abad.
Berbeda dengan opor ayam, Nasu Wolio bahan utamanya ayam kampung dan dipanggang atau diasap lebih dahulu. Usai dipanggang hingga menimbulkan aroma khas, ayamnya dipotong-potong beberapa bagian. Lalu dimasak dengan bumbu rempah.
Bumbu ayam nasu wolio terbilang cukup sederhana. Untuk membuatnya diperlukan 3 bumbu dasar; santan dan kelapa sangrai (kaluku I hole), bawang merah, dan daun serai. Sedangkan untuk penguat rasa, cukup tambahkan air asam jawa dan garam.
Langkah membuatnya cukup mudah.
Ayam kampung muda dipanggang dan dipotong-potong sesuai selera. Santan cair dan kelapa sangrai yang sudah ditumbuk halus sampai berminyak (kaluku I hole) dimasukan ke dalam panci. Lalu masukan ayam.
Proses terakhir adalah memasukan santan kental yang sudah dicampur dengan irisan bawang. Kemudian tambahkan air asam Jawa dan garam sesuai selera. Tunggu sampai ayam empuk, lalu hidangkan.
Rasa ayam nasu wolio ini sangat gurih terutama kuahnya yang sedikit berminyak karena ada campuran kelapa goreng. Aroma ayam panggang dan kaluku i hole-nya sangat memanjakan indera.
Wa Riha menjelaskan, kunci utama kelezatan nasu wolio terletak pada takaran keseimbangan bumbu. Tidak boleh berlebihan atau ada bumbu yang terlalu menonjol.
Tradisi lebaran di kota Baubau terikat kuat dengan ayam nasu wolio. Ia ada di dalam talang dihadapan imam kampung pada malam lebaran ketika doa-doa dipanjatkan untuk mendiang sanak saudara yang telah meninggal dunia. Setelah itu disantap bersama keluarga dalam suasana syahdu diiringi kumandang takbir yang menggema dari masjid-masjid seluruh kota.
Aroma yang meruap dari panci masak nasu wolio adalah aroma yang membangkitkan selera, kenangan, dari tradisi kuliner buton yang dimulai sejak ratusan tahun lalu. Ia menjadi pengikat keakraban dan menjadi salah satu alasan memanggil para perantau pulang merayakan lebaran di kampung halaman.
Penulis: Ayyash Alyasin




































