SULTRALINE.ID, KENDARI – Bagi orang lain, sisa minyak goreng bekas atau jelantah, adalah limbah, dibuang begitu saja. Namun kini bisa dimanfaatkan bahkan bernilai Ekonomis. Hal itu yang menjadi konsen dari Asosiasi Pengumpul Minyak Jelantah Untuk Energi Baru Terbarukan Indonesia (APJETI)
Seperti yang dilakukan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) APJETI Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mulai melakukan langkah-langkah strategi dalam upaya memanfaatkan minyak goreng bekas atau Jelantah yang akan diolah menjadi biodiesel.
Terlebih, Semenjak terbentuk 15 Oktober 2019 APJETI Sultra telah menginisiasi dan menghimpun pelaku usaha baru dalam hal ini para pengumpul minyak jelantah.
Ketua DPD APJETI Sultra, Johansa, S.Sos, mengatakan potensi minyak jelantah yang ada di Sultra khususnya Kota Kendari cukup melimpah dengan banyaknya kebutuhan rumah tangga, kebutuhan restoran, rumah makan maupun perhotelan, sehingga ketimbang tidak dimanfaatkan yang dapat juga mencemari lingkungan sekitar. Olehnya itu, lanjut ia APJETI memanfaatkan potensi tersebut yang bisa menambah nilai ekonomi bahkan menjadi energi terbarukan dalam bentuk biodiesel.
“Untuk awal yang telah kami data itu potensi minyak jelantah di Kota Kendari itu sebelum Pandemi Covid-19 sekitar 17 ton perminggunya, namun saat ini hanya 2 ton karena adanya penurunan penggunaan minyak di rumah makan maupun perhotelan,” ujarnya, saat dijumpai di Sekretariatnya, Jumat (9/10/2020)
“Selain bisa bermanfaat dan bisa bernilai ekonomis, ini juga bisa mengurangi pemakaian minyak bekas berulang-ulang, Serta ini juga mengurangi pencemaran lingkungan. Karena kita tahu sendiri pengguna minyak jelantah sendiri sangat tidak baik bagi kesehatan dalam hal ini penyakit, bahkan di Sultra sendiri yang pertama apa yang kita lakukan saat ini,” katanya.
Ia menjelaskan guna memaksimalkan pemanfaatan minyak jelantah saat ini pihaknya telah membangun kerjasama beberapa asosiasi lain seperti Asosiasi Rumah Makan, Karaoke dan Pub (AROKAP) Kendari, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kendari dan Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) Kendari.
“Alhamdulilah semua merespon baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, hadirnya APJETI juga akan memberikan pembina pelaku usaha minyak jelantah dengan menjamin segi pemasaran dan kepastian pasar.
“Kedepannya akan mengupayakan kehadiran biodisel di Sultra yang bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat seperti nelayan dan truk sampah ini juga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, sehingga menciptakan lingkungan yang baik,” tambah yang juga pengurus Kadin Kota Kendari sebagai Wakil Ketua Bidang Lingkungan Hidup ini.
Selain menjalankan program tersebut, kata ia, Kedepannya akan menginisiasi terbentuknya APJETI di 17 Kabupaten/Kota se Sultra, sehingga daya jangkau dan pemanfaatannya bisa lebih maksimal lagi.
“Kedepannya juga kami berharap Pemerintah Provinsi Sultra maupun Pemerintah Kota Kendari untuk bisa menyupport kegiatan kami ini, dengan cara mengeluarkan regulasi akan bahaya penggunaan minyak jelantah secara berulang-ulang, pengelolan minyak jelantah yang baik dan benar,” cetusnya.
“Saat ini juga kami tengah melakukan riset Timbulan yang ada di Kota Kendari dan di insya Allah tahun depan kita targetkan se Sultra bisa dilakukan riset,” pungkasnya.
Sekedar informasi alamat sekretariat APJETI SULTRA berada di lorong Jati Raya nomor 10/B, Kelurahan Wua-wua, Kota Kendari. Untuk secara Nasional APJETI terbentuk pada 30 Mei 2016 dengan Ketua Umum, Matias Tumanggor dan Sekretaris Umum, Chamim Thohari.
Laporan : Irdwan Jeko



































