SULTRALINE.ID, MUBAR – Beberapa waktu lalu forum komunikasi pemuda, pelajar dan mahasiswa kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara melakukan aksi di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) yang berujung ricuh antara massa aksi dan pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Muna Barat. Bahkan kejadian itu di videokan yang telah beredar luas di berbagai media sosial.
Dikonfirmasi, Jenderal Lapangan Azis Munandar, mengatakan aksi tersebut adalah aksi lanjutan sebulan yang lalu dan tindak lanjut dari diskusi dengann pihak DPMD berjanji akan membantu menyelesaikan persoalan di desa, tapi sampai pada hari ini belum ada titik terang dan hanya dijanji. “Tetapi selama sebulan kami menunggu, ternyata permasalahan ini hampir semua dialami seluruh Desa di Muna Barat. Jadi ada pengangkatan dan pemberhentian perangkat yang tidak sesuai mekanisme. Tidak sesuai dengan permendagri 83 tahun 2015, lalu diubah di permendagri 67 tahun 2017, lalu perbup no.12 Tahun 2020. Harusnya pihak DPMD Muna Barat dalam hal ini instansi yang mempunyai kewenangan tidak melakukan pembiaran terhadap keadaan ini karena ini sangat merugikan dan memicu konflik sosial. Makanya hadirnya kami untuk meminta pertanggung jawaban kadis PMD, sekaligus kami minta untk mengundurkan diri dari jabatannya,” urai Azis kepada media ini.
Selain itu, masih kata ia, yang kedua mereka ingin ekspresikan kekecewaan dan protes rakyat dengan melakukan penyegelan di kantor itu dan bukan datang untuk merusak fasilitas.
“Tapi yang terjadi dilapangan gerakan kami dihalangi oleh aparat satpol PP saling dorong terjadi karena kami ingin masuk di dalam tapi tidak diperbolehkan. Puncaknya oknum satpol PP naik di atas mobil sound sistem dan merusak peralatan aksi, lalu merampas HP milik dari salah satu rekan kami. Jadi di video viral itu teman kami Jirun melakukan perlawanan karena hendak diintimidasi oleh oknum satpol PP yang memanjat mobil. Muka dan pelipis matanya sampai lebam,” bebernya, Minggu (5/7/2020).
“Jadi hadirnya kami semata mata untuk menegakkan aturan tapi seolah mereka tutup mata terkait persoalan yang ada, ada indikasi pembiaran terhadap oknum yang menabrak aturan dan sangat merugikan msyarakat,” cetus Azis
Aksi yang diikuti ratusan orang itu, dipimpin dirinya selaku Jenlap dan beberapa Korlap aksi yakni Roman dan Zainul.
Azis menerangkan, kericuhan itu dipicu karena pihaknya dihalangi untuk masuk dilingkungan kantor untuk melakukan penyegelan. “Penyegelan kami lakukan atas dasar kekecewaan kami, protes kami karena cenderung ada pembiaran terhadap prsoalan ini yang ada hampir smua desa di Muna Baŕat. Disitu saling dorong, tapi puncak caos sehingga ada yang dipukul oknum Satpol pp berusaha merebut hp, dan memang sempat hp itu direbut jadi satu jam setelah aksi atau tepatnya setelah bubar baru dikembalikan. Sound system kami juga dirusaki serta microfon hancur,” tandasnya.
Hingga berita ini ditayangkan awak media ini mencoba menghubungi pihak terkait.
Laporan : TIM



































