Rab. Apr 8th, 2020

Tantangan Ekspor Indonesia Tahun 2020

1 min read
img-20200116-wa0047

OPINI – Bayang-bayang perlambatan dan pemburukan ekonomi global diperkirakan makin mempengaruhi perekonomian Indonesia pada tahun 2020. Masih defisitnya neraca perdagangan diperkirakan turut menekan pertumbuhan ekonomi. Sementara upaya pemerintah menarik investasi, terutama asing, masih belum optimal. Dari luar negeri, kekhawatiran peningkatan eskalasi konflik di Timur Tengah. Pasca-terbunuhnya salah satu pemimpin militer Iran, Qassem Soleimani, bisa berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini lantaran konflik bisa mendorong kenaikan harga minyak dunia. Padahal Indonesia masih tergantung impor minyak untuk memenuhi kebutuhannya.

 

Lesunya ekonomi global ini sudah sangat menulari negara ini. Terlihat dari permintaan dalam negeri yang terus melemah yang tampak dari turunnya penjualan ritel, mobil dan properti. Kondisi ini jika berlanjut, tentu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020. Sementara itu, dari sisi domestik, sejumlah tantangan kita hadapi, seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat, membesarnya sektor informal, posisi wait and see investor, sampai dengan tidak tercapainya pendapatan dari sektor perpajakan. Meski ekonomi Indonesia dihadapkan dengan sejumlah tantangan tersebut, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan ada di angka 5 %.

 

Rilis Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada kuartal III ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02% dan secara akumulatif Januari-September ekonomi tumbuh 5,04%. Pemerintah di sejumlah kesempatan sudah menyatakan bahwa ekonomi Indonesia sepanjang 2019 hanya mampu tumbuh di kisaran 5,04%-5,07% di bawah target APBN sebesar 5,3%. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap terjaga di angka 3,1% dengan penurunan angka kemiskinan dan angka pengangguran. Yang perlu kita cermati ialah pada kuartal III pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya mencapai 5,01%. Konsumsi rumah tangga selama ini berkontribusi rata-rata 54%-56% terhadap pembentukan PDB Indonesia. Selain itu juga kinerja ekspor dan impor perlu diwaspadai seiring dengan perlambatan aktivitas manufaktur di Tanah Air.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari – Desember 2019 mencapai US$167,53 miliar atau menurun 6,94 % dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$154,99 miliar atau menurun 4,82 %. Kondisi ini membuat volatilitas dari nilai tukar, maupun capital flow, dan cost of borrowing yang meningkat. Kondisi eksternal yang menjurus pada downside risk. Ada beberapa faktor lain yang mengakibatkan buruknya perekonomian dunia, Pertama, banyak negara besar dunia yang saat ini sudah mengalami potensi resesi, di antaranya adalah Jerman Barat, Singapura, Argentina, Meksiko, dan Brazil yang bahkan baru saja melakukan pemilihan presiden. Selain resesi, ada juga Eropa yang muncul dengan permasalahan tentang Brexit nya.

Perang dagang antara Amerika dan China juga masih menjadi hal yang perlu diwaspadai. Belum lagi kondisi di kawasan Asia, termasuk India yang kini mulai mengalami kontraksi, padahal India menjadi motor penggerak ekonomi di antara emerging country. Kedua, ada juga tantangan dari luar yang bersifat natural seperti pergantian iklim yang tidak menentu.
Lalu ada juga policy make seperti hal kenaikan dan pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika (The Fed). Selama Januari–Desember 2019, ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor industri pengolahan menurun 2,73 persen dibanding 2018, industri di dalam negeri harus didorong untuk menghasilkan bahan baku, menengah dan setengah jadi untuk industry hilir. Namun yang terjadi saat ini adalah industri didalam negeri banyak mengimpor bahan baku dan barang modal, sehingga menyebapkan transaksi berjalan defisit.
Ada beberapa cara dalam penguatan neraca perdagangan, Pemerintah fokus pada peningkatan ekspor melalui pengembangan hortikultura berorientasi ekspor dan percepatan perundingan internasional. Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen mengurangi ketergantungan impor melalui sinergi BUMN dalam percepatan mandatori B30, restrukturisasi TPI/TPPI, dan pengembangan usaha gasifikasi batubara.

 

Sementara dari sisi penguatan permintaan domestik, Pemerintah akan meningkatkan konsumsi masyarakat melalui kebijakan KUR, penerapan Kartu Prakerja, dan kemudahan Sertifikasi Halal utuk UMK. Kemudian untuk meningkatkan konsumsi pemerintah akan dicapai dengan percepatan dan perluasan digitalisasi transaksi daerah.
Tentunya efektivitas program prioritas di lapangan untuk memperkuat fundamental dan daya saing nasional akan sangat ditentukan sejumlah faktor pendukung, seperti kualitas koordinasi dan saling support pusat-daerah, sistem dan prosedur mengurangi inefisiensi dan high cost economy, serta pelibatan sebesar mungkin pelaku ekonomi. Fokus pada program-program yang memiliki dampak langsung terhadap menjaga daya beli masyarakat, kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, penguatan industrialisasi, dan mendorong pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi nasional perlu terus diperkuat pada 2020. Kita harus sangat serius dalam upaya mengurangi dampak buruk resesi dunia itu terhadap ekonomi kita. Sangat berbahaya kalau kita lalai dan bersikap business as usual.

 


Oleh : Asrul Ashar Alimuddin, SE., MM merupakan Statistisi Pertama BPS Kota Kendari

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *