September 15, 2019
You can use WP menu builder to build menus

SULTRALINE.ID, KENDARI – Musibah banjir bandang yang merendam ratusan rumah, puluhan desa dan beberapa Kecamatan di Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terjadi saat ini, mendapat tanggapan serius dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI)

 

Melalui Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) Eksternal Bidang PSDA PB HMI, Muhamad Ikram Pelesa menyebut bahwa adanya kegiatan pertambangan dan perkebunan sawit yang telah menimbulkan kerusakan hutan, sehingga menjadi penyebab banjir bandang yang melumpuhkan puluhan desa di beberapa kecamatan di Konut.

 

“Ini dampak dari aktivitas perkebunan sawit dan pertambangan yang aktivitasnya melenceng dari ketentuan perundang-undangan, hingga ketika musim hujan berkepanjangan sangat mudah menyebabkan banjir,” tulis ikram dalam keterangan persnya, Selasa (11/06/2019).

 

Lebih jauh, Koordinator Presidium Forsemesta Sultra ini, banjir yang terjadi kali ini merupakan banjir terparah sejak mekarnya Konawe Utara sebagai Daerah Otonom pada tahun 2007 Silam.

 

“Banjir ini diakibatkan tata kelola sumber daya alam (SDA) yang tidak baik oleh pemerintah, dimana hutan-hutan tempat jarahan penambang ilegal dibiarkan mengangah, sehingga ketika hujan lebat dan berkepanjangan menimbulkan banjir seperti saat ini membuat lebih mudah terjadi, karena tidak ada lagi penyangga dan ditambah hilangnya daerah resapan air,” bebernya.

 

 

Tak ayal, Ia meminta Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi untuk segera melakukan moratorium aktivitas pertambangan dan perkebunan sawit yang telah menghilangkan daerah resapan dan tidak melakukan reklamasi pasca tambang, Ia juga meminta Gubernur segera merekomendasikan kepada pemerintah pusat agar mencabut izin perkebunan tebu di Gunung Lawali Asera sebelum aktivitas dan menimbulkan dampak yang lebih parah

 

“Untuk itu pak Gub harus evaluasi kembali izin tambang dan perkebunan sawit di Konut, karena mereka yang telah menghilangkan daerah resapan air, dan hampir semua tambang tak menjalankan reklamasi pasca aktivitas. Selain itu pak gub mesti segera meminta kepada pemerintah pusat untuk mencabut izin perkebunan tebu PT. AFN di Gunung Lawali Asera sebelum menimbulkan dampak yang lebih parah, sebab itu hutan inti penyangga resapan air di wilayah Asera, jika itu rambah, Konut bisa tenggelam,” tegas Mahasiswa Pascasarjana Manajemen CSR Universitas Trisakti ini.

 

Tak lupa pula Ikram, mengajak kepada seluruh pihak untuk bahu-membahu membantu korban banjir di daerah konawe dan Konawe utara yang telah kehilangan tempat tinggal.

 

“Dan kepada semua pihak dimohon untuk bahu-membahu membantu korban banjir didaerah konawe dan Konawe utara yang telah kehilangan tempat tinggal,” tutupnya.

 

Untuk diketahui, banjir bandang kali ini juga mengakibatkan akses jalan terputus, serta ribuan orang harus mengungsi.

 

 

Laporan : Redaksi

No Comments