July 21, 2019
You can use WP menu builder to build menus

SULTRALINE.ID, KENDARI – Pasca bentrok yang terjadi di dua desa Sampuabalo dan Gunung Jaya, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) beberapa waktu lalu, yang berbuntut pada pembekaran rumah, pengrusakan alat kendaraan serta mengakibatkan korban meninggal dunia dan luka-luka.

 

Kepolisian Daerah (Polda) Sultra telah memeriksa 81 terduga pelaku bentrok antar dua desa tersebut. Dari hasil pemeriksaan tersebut Polda Sultra menetapkan 36 orang diantaranya menjadi tersangka.

 

La Ode Farhan (24) salah satu dari 81 yang diperiksa membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan dirinya bersama 80 orang lainnya diamankan di Desa sampuabalo, sekira pukul 07.30 sampai 10.00 Wita, Minggu (08/06/2019).

 

“Iyah benar saya juga ikut diamankan bersama puluhan warga yang semuanya adalah laki-laki. Kemudian kami langsung dibawa ke Kota Kendari untuk menjalani pemeriksaan di Mako Polda Sultra,” tulis La Ode Farhan dalam rilis resminya, Rabu (12/06).

 

Ia menjelaskan, selama di Polda ia bersama 80 terduga lainnya menjalani pemeriksaan selama 2 hari. Namun, dari 81 orang terperiksa 45 orang dinyatakan tidak bersalah. Sehingga pada Senin (10/6) siang, dirinya bersama 44 orang lainnya dipulangkan untuk kembali menjalani aktivitas seperti sediakala.

 

“Pemulangan kami disaksikan oleh Kapolres Buton dan Kepala Desa Sampuabalo serta tokoh adat yang bertempat di Kantor Desa Sampuabalo. Artinya untuk menjawab banyaknya pertanyaan khalayak kenapa kemudian saya sempat terlihat ikut bersama rombongan terduga pelaku yang diamankan kepolisian, melalui kesempatan ini saya tegaskan bahwa saya tidak terlibat sama sekali dengan kejadian bentrokan warga antar dua desa Gunung Jaya dan Sampuabalo,” terang mantan Ketua LMND Kota Baubau.

 

Terkait penangkapan itu, lanjut Farhan, memang benar adanya, karena pada saat operasi pengamanan yang dilakukan oleh kepolisian ia sedang berada di Desa Sampuabalo, untuk bersilahturahmi dengan keluarga pada hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah. Namun saat itu ia terjebak karena adanya bentrokan, sehingga sampai pada waktu penangkapan dirinya masih berada di Desa Sampuabalo.

 

“Melalui kesempatan ini saya menghaturkan belasungkawa yang sebesar besarnya untuk masyarakat kedua desa tersebut. karena saya memahami kedua belah pihak pasti memiliki kerugian baik moril maupun finansial pasca bentrokan yang terjadi,” ungkapnya.

 

“Semoga melalui kinerja pemerintah dan TNI -POLRI, kisruh antar masyarakat kedua desa tersebut, segera terselesaikan dan menemukan jalan terbaik, kemudian dalam penyelesaiannya tidak ada yang merasa dirugikan, serta kondusifitas kedua desa tersebut segera membaik dan masyarakat bisa beraktifitas seperti sediakala,” harap Farhan.

 

 

Laporan : Irdwan Jeko

No Comments