Rumah Sakit di Kabupaten Kolaka Sering Mengabaikan Hak Pasien, Pemkab Kolaka Tutup Mata

SULTRALINE.ID, KOLAKA – Puluhan massa yang mengatasnamakan Lembaga Konsorsium yang terdiri dari Hipma Kolaka GMNI Cabang Kolaka, SAR USN Kolaka, PSSM Kolaka, dan HMKT mengelar aksi unjuk rasa di depan Rumah sakit Benyamin Guluh (RSBG) Kolaka.

Mereka menuntut agar RSBG Kolaka untuk meningkatkan pelayanan terhadap pasien. Pasalnya, mengingat dengan adanya fenomena yang terjadi di RSBG Kolaka dimana telah menelantarkan pasien selama 18 jam dalam keadaan darurat sangatlah jelas bahwa oknum beserta pimpinan RSBG telah melanggar hukum yang berlaku.

“Padahal telah diatur dalam UU bahwa Rumah sakit (RS) sebagai institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan rawan darurat yang sesuai peraturan kementerian kesehatan (Permenkes) no 147 tahun 2010,” teriak Koordinator lapangan (Korlap) aksi Muh. Syaminan, kamis (29/3/2018).

Olehnya itu, sambung Ia, melihat apa yang terjadi di Kabupaten Kolaka dengan adanya RSBG seharusnya memberikan peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan adanya tunjangan-tunjangan kesehatan yang telah di usahakan pemerintah daerah (Pemda) bahkan hingga Nasional.

“Namun apa yang tengah viral diberita dimana pihap RSBG menunjukkan hal-hal yang sangat merugikan masyarakat hingga dituding melanggar peraturan hukum yang berlaku. Karena jelas dalam UU no 44 tahun 2009 tentang RS pasal 29 ayat 1 yang berbunyi setiap Rumah sakit mempunyai kewajiban yaitu melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu atau miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulans gratis, pelayanan bencana dan kejadian luar biasa atau bakti sosial demi misi kemanusiaan tidak dilakukan secara baik oleh pihak RSBG,” urainya.

Lanjut korlap dalam orasinya, pelayanan kesehatan juga harus mengacu permenkes no 19 tahun 2016 tentang sistem penanggulangan gawat darurat terpadu memberikan penjelasan bahwa gawat darurat adalah keadaan kritis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan, sedangkan korban atau pasien gawat darurat adalah orang yang berada dalam ancaman kematian dan kecacatan yang memerlukan tindakan medis segera mungkin.

“Dengan melihat fenomena yang terjadi dimana sampai detik ini hukum masih saja belum ditegakkan demi kepentingan masyarakat, maka itu kami mendesak pihak RSBG untuk meningkatkan pelayanan terhadap pasien. Kami juga menuntut pihak RSBG memberikan sanksi terhadap oknum dokter yang telah lalai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai UU yang berlaku,” paparnya.

Foto massa aksi

 

Tidak hanya itu, mereka juga menuntut RSBG untuk bertanggung jawab atas kerugian pasien/korban akibat kelalaian salah satu oknum dokter yang menelantarkan pasiennya dalam keadaan gawat darurat.

“Apabila pihak rumah sakit tidak mengindahkan tuntutan kami, maka kami meminta Direktur RSBG agar mundur dari jabatannya. Dan tidak diindahkan juga maka jangan salahkan kami ketika melakukan hal yang menurut kami itu benar,” tegas Syaminan.

Dari pantauan Sultraline.id setelah mengelar aksi di RSBG, massa aksi menuju kantor DPRD Kolaka untuk menyampaikan aspirasi langsung pada Anggota DPRD. Hingga berita ini diturunkan massa aksi tengah hearing.

Laporan: Tim Sultraline.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.